Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sekularisme: Ideologi Pemberontakan terhadap Tauhid

Kamis, 12 Februari 2026 | 16:57 WIB Last Updated 2026-02-12T09:57:24Z
Bantahan Mabda Sekularisme dalam Perspektif An-Nabhani, Al-Mawardi, dan Al-Ghazali

Pendahuluan: Sekulerisme Bukan Netralitas, Tapi Pilihan Akidah

TintaSiyasi.id -- Sekularisme sering diklaim sebagai ideologi netral, objektif, dan modern. Namun klaim ini runtuh ketika ditelisik secara mendalam. Sekulerisme bukan sekadar metode pengaturan negara, melainkan pandangan hidup (worldview) yang memisahkan wahyu dari kehidupan.
Dalam Islam, pemisahan semacam ini bukan persoalan teknis, tetapi pengingkaran mabda’. Sebab Islam hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara ritual, tetapi juga mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.

1. Sekulerisme sebagai Mabda’: Telaah An-Nabhani
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nidzamul Islam menegaskan bahwa setiap peradaban berdiri di atas mabda’, yaitu:
1. Akidah aqliyah sebagai asas berpikir
2. Sistem kehidupan yang lahir dari akidah tersebut
Sekulerisme memiliki akidah tersendiri, meski tidak mengakuinya:
kedaulatan manusia atas hukum dan nilai
Inilah titik rusaknya.
Sekulerisme menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum tertinggi, bukan sebagai alat memahami wahyu.
An-Nabhani menegaskan:
“Islam tidak menerima satu hukum pun yang tidak bersumber dari akidah Islam.”
Maka kompromi antara Islam dan sekulerisme bukan integrasi, melainkan asimilasi ideologis yang merusak tauhid.

2. Kalimat Tauhid sebagai Asas Negara dan Peradaban
Kalimat Lā ilāha illallāh bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi asas politik dan hukum.
Menurut An-Nabhani:
• Lā ilāha → penafian seluruh sistem buatan manusia
• illallāh → penetapan Allah sebagai satu-satunya pembuat hukum
Sekulerisme menolak konsekuensi ini.
Ia membiarkan manusia berkata “Tuhan kami satu”, tetapi melarang Allah mengatur kehidupan.
Inilah bentuk syirik sistemik: bukan menyembah berhala fisik, tetapi menyembah produk akal manusia sendiri.

3. Al-Mawardi: Kekuasaan adalah Amanah Ilahiyah
Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menegaskan bahwa kekuasaan dalam Islam:
• bukan kontrak sosial murni,
• bukan hasil kehendak mayoritas,
• tetapi amanah dari Allah untuk menjaga agama dan mengatur dunia dengannya (hirasatud din wa siyasatud dunya).
Sekulerisme membongkar fondasi ini dengan memisahkan agama dari negara. Akibatnya:
• hukum kehilangan dimensi moral ilahiyah,
• pemimpin tidak lagi merasa diawasi Allah,
• amanah berubah menjadi hak politik.
Al-Mawardi mengingatkan:
Jika agama tidak dijaga oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak dikendalikan oleh agama, maka kerusakan tak terelakkan.
Ini adalah nubuat yang terbukti dalam peradaban modern.

4. Al-Ghazali: Kerusakan Lahir Berakar dari Kerusakan Akidah
Imam Al-Ghazali—baik dalam Mukasyafatul Qulub maupun Ihya’ Ulumuddin—menegaskan bahwa:
kerusakan sosial dan politik adalah buah dari kerusakan batin dan akidah.
Sekulerisme membunuh rasa muraqabah:
• manusia takut pada hukum, bukan pada Allah
• takut kehilangan jabatan, bukan takut hisab
• takut opini publik, bukan murka Rabb semesta alam
Al-Ghazali menulis:
“Jika amanah hilang dari hati, maka agama hanya tinggal nama.”
Inilah realitas umat ketika sekulerisme merasuki cara berpikir:
Islam hidup di mimbar, tetapi mati di kebijakan.

5. Sekulerisme dan QS. Al-Ahzab: 72 — Khianat Amanah Peradaban
Allah menyebut manusia zhalūman jahūlā bukan karena menerima amanah, tetapi karena sering mengkhianatinya.
Sekulerisme adalah bentuk pengkhianatan kolektif:
• amanah hukum dilepaskan dari wahyu,
• amanah kekuasaan dilepaskan dari takwa,
• amanah ilmu dilepaskan dari adab.
Langit dan gunung menolak amanah karena takut gagal.
Manusia modern menerimanya—lalu menertawakannya.

6. Dampak Sekulerisme dalam Dunia Islam
Ketika sekulerisme diterima:
• hukum Islam dianggap kuno,
• syariah dicurigai,
• ulama disisihkan,
• agama direduksi menjadi ritual privat.
Ini bukan kemajuan, tetapi pemutusan umat dari akar tauhidnya.
Sebagaimana ditegaskan An-Nabhani:
Tidak mungkin Islam bangkit selama akidahnya tidak menjadi asas sistem kehidupan.

Penutup: Tauhid atau Sekulerisme — Pilihan Ideologis

Islam dan sekulerisme tidak mungkin dipertemukan secara mabda’.
Yang satu menjadikan Allah pusat kehidupan, yang lain menyingkirkan-Nya.

Kebangkitan umat tidak akan lahir dari kompromi ideologis, tetapi dari keberanian mengembalikan tauhid ke pusat peradaban. Tauhid bukan sekadar kalimat iman, tetapi ikrar peradaban: bahwa hidup, hukum, dan kekuasaan hanya tunduk kepada Allah.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update