"Ramadan ini kan seharusnya
menjadi momentum penyatuan umat Islam secara global, bukan sekadar ritual
personal tahunan, gitu," ujarnya dalam kanal YouTube One Ummah TV,
program Meneguhkan Takwa Menebar Berkah bagi Sesama, Rabu (18/02/2026).
UIY mengutip pernyataan Syekh
Ahmad Yasin bahwa umat Islam hanya akan bangkit dengan Islam dan hanya akan
mencapai kemenangan dengan Islam.
“Kalau umat Islam disuruh
berjuang tidak dengan Islam, itu ibarat ikan yang disuruh berlari di atas pasir
di daratan. Itu bukan tabiatnya,” kata UIY.
Menurutnya, perjuangan umat Islam
harus berlandaskan ajaran Islam. “Rekonstruksi Gaza yang diumumkan dengan nilai
besar, namun tidak menyentuh akar persoalan,” tandas UIY.
UIY mempertanyakan sumber
pendanaan rekonstruksi sebesar 84 triliun serta alasan mengapa pembahasan lebih
fokus pada pembangunan kembali Gaza, sementara pihak yang menghancurkannya
tidak dimintai pertanggungjawaban.
“Gaza direkonstruksi karena
hancur. Siapa yang menghancurkan? Itu yang tidak pernah dibicarakan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti arah kebijakan
internasional seperti Board of Peace yang lebih menekankan jaminan keamanan
bagi Israel dibandingkan masa depan Palestina tanpa pendudukan.
Terkait rencana kehadiran pasukan
internasional, UIY mempertanyakan tujuan sebenarnya. “Apakah pasukan tersebut
dimaksudkan untuk mencegah invasi Israel ke Gaza atau justru untuk mencegah
perlawanan dari Gaza.
“Kalau untuk mencegah invasi itu
baik, tetapi kalau untuk mencegah perlawanan rakyat Gaza, itu jelas harus
ditentang,” tekannya.
UIY menilai tidak adil apabila
pihak yang dijajah tidak diperbolehkan melawan, sementara pihak penjajah justru
dilindungi.
"Hal-hal semacam inilah yang
menyayat hati kita memasuki bulan Ramadan. Bagaimana bisa umat yang satu,
Tuhannya satu, Allah. Nabinya satu, Nabi Muhammad. Kitabnya satu, Al-Qur’an.
Kiblatnya satu, Baitullah Makkah, tetapi pemimpinnya tidak menunjukkan kesatuan
ini. Alih-alih membela umat Islam, yang ada malah justru membela
penjajah," sesalnya
Ia mengingatkan, tingginya nilai
seorang Muslim di sisi Allah dengan mengutip hadis Nabi Muhammad saw. yang
diriwayatkan oleh Tirmidzi dan An-Nasa’i.
“Lazawālud-dunyā ahwanu
‘indallāhi min qatli rajulin Muslim. Artinya, ‘Sungguh lenyapnya dunia
lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.’,” jelasnya
UIY menilai jumlah korban yang
besar dalam konflik Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang seharusnya
menggugah solidaritas dunia Islam. “Penggunaan senjata dengan daya panas tinggi
menunjukkan tingkat kekerasan luar biasa,” ucapnya.
"Ini hari bukan satu, bukan
10, bukan 100 tapi ribuan bahkan kalau kita ngikuti data yang dilansir
itu lebih dari 70.000, padahal faktanya katanya lebih dari itu. Itu artinya dan
selama ini tidak ada ikhtiar dari dunia Islam untuk mencegah supaya itu tidak
terjadi,” sesalnya.
“Sudah ada gencatan senjata,
masih juga dia serang. Bahkan terakhir kita mendengar dia menggunakan senjata termal
sampai 3.000 derajat celsius yang membuat apa pun itu hilang dengan
sendirinya," terangnya.
Ia menjelaskan, betapa ngerinya
senjata termal tersebut. “Bandingkan tubuh manusia dengan tanur baja yang bisa
lumer lalu mencair saat dipanaskan pada suhu 600 derajat Celsius,” sebutnya
menganalogikan.
"Apalagi kalau sampai 3.000
derajat celsius, yang semula padat menjadi cair lalu menjadi uap, itu kan semua
kekejaman yang luar biasa, tetapi dunia Islam diam," sesalnya lagi.
Menurutnya, Ramadan harus menjadi
momentum transformasi. “Ibadah yang bersifat personal perlu ditingkatkan
menjadi kesadaran kolektif umat,” tuturnya.
"Karenanya, Ramadan ini
memang harus dijadikan momentum untuk bagaimana mentransformasikan ibadah yang
tampak itu sekilas sangat personal menjadi kekuatan komunal,” sebutnya.
Lanjut disebutnya, dari kesadaran
personal menjadi kesadaran komunal, dari persoalan kultural menjadi persoalan struktural,
dari perlawanan individual menjadi perlawanan semesta global mondial.
