Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ramadan dan Seruan Persatuan Umat dalam Membela Palestina

Kamis, 26 Februari 2026 | 06:12 WIB Last Updated 2026-02-25T23:12:23Z

TintaSiyasi.id -- Menjawab pertanyaan tentang bagaimana Ramadan mampu menyatukan umat Islam di dunia, Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum penyatuan umat Islam secara global, bukan sekadar ritual personal tahunan.

 

"Ramadan ini kan seharusnya menjadi momentum penyatuan umat Islam secara global, bukan sekadar ritual personal tahunan, gitu," ujarnya dalam kanal YouTube One Ummah TV, program Meneguhkan Takwa Menebar Berkah bagi Sesama, Rabu (18/02/2026).

 

UIY mengutip pernyataan Syekh Ahmad Yasin bahwa umat Islam hanya akan bangkit dengan Islam dan hanya akan mencapai kemenangan dengan Islam.

 

“Kalau umat Islam disuruh berjuang tidak dengan Islam, itu ibarat ikan yang disuruh berlari di atas pasir di daratan. Itu bukan tabiatnya,” kata UIY.

 

Menurutnya, perjuangan umat Islam harus berlandaskan ajaran Islam. “Rekonstruksi Gaza yang diumumkan dengan nilai besar, namun tidak menyentuh akar persoalan,” tandas UIY.

 

UIY mempertanyakan sumber pendanaan rekonstruksi sebesar 84 triliun serta alasan mengapa pembahasan lebih fokus pada pembangunan kembali Gaza, sementara pihak yang menghancurkannya tidak dimintai pertanggungjawaban.

 

“Gaza direkonstruksi karena hancur. Siapa yang menghancurkan? Itu yang tidak pernah dibicarakan,” tegasnya.

 

Ia juga menyoroti arah kebijakan internasional seperti Board of Peace yang lebih menekankan jaminan keamanan bagi Israel dibandingkan masa depan Palestina tanpa pendudukan.

 

Terkait rencana kehadiran pasukan internasional, UIY mempertanyakan tujuan sebenarnya. “Apakah pasukan tersebut dimaksudkan untuk mencegah invasi Israel ke Gaza atau justru untuk mencegah perlawanan dari Gaza.

 

“Kalau untuk mencegah invasi itu baik, tetapi kalau untuk mencegah perlawanan rakyat Gaza, itu jelas harus ditentang,” tekannya.

 

UIY menilai tidak adil apabila pihak yang dijajah tidak diperbolehkan melawan, sementara pihak penjajah justru dilindungi.

 

"Hal-hal semacam inilah yang menyayat hati kita memasuki bulan Ramadan. Bagaimana bisa umat yang satu, Tuhannya satu, Allah. Nabinya satu, Nabi Muhammad. Kitabnya satu, Al-Qur’an. Kiblatnya satu, Baitullah Makkah, tetapi pemimpinnya tidak menunjukkan kesatuan ini. Alih-alih membela umat Islam, yang ada malah justru membela penjajah," sesalnya

 

Ia mengingatkan, tingginya nilai seorang Muslim di sisi Allah dengan mengutip hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan An-Nasa’i.

 

Lazawālud-dunyā ahwanu ‘indallāhi min qatli rajulin Muslim. Artinya, ‘Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.’,” jelasnya

 

UIY menilai jumlah korban yang besar dalam konflik Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang seharusnya menggugah solidaritas dunia Islam. “Penggunaan senjata dengan daya panas tinggi menunjukkan tingkat kekerasan luar biasa,” ucapnya.

 

"Ini hari bukan satu, bukan 10, bukan 100 tapi ribuan bahkan kalau kita ngikuti data yang dilansir itu lebih dari 70.000, padahal faktanya katanya lebih dari itu. Itu artinya dan selama ini tidak ada ikhtiar dari dunia Islam untuk mencegah supaya itu tidak terjadi,” sesalnya.

 

“Sudah ada gencatan senjata, masih juga dia serang. Bahkan terakhir kita mendengar dia menggunakan senjata termal sampai 3.000 derajat celsius yang membuat  apa pun itu hilang dengan sendirinya," terangnya.

 

Ia menjelaskan, betapa ngerinya senjata termal tersebut. “Bandingkan tubuh manusia dengan tanur baja yang bisa lumer lalu mencair saat dipanaskan pada suhu 600 derajat Celsius,” sebutnya menganalogikan.

 

"Apalagi kalau sampai 3.000 derajat celsius, yang semula padat menjadi cair lalu menjadi uap, itu kan semua kekejaman yang luar biasa, tetapi dunia Islam diam," sesalnya lagi.

 

Menurutnya, Ramadan harus menjadi momentum transformasi. “Ibadah yang bersifat personal perlu ditingkatkan menjadi kesadaran kolektif umat,” tuturnya.

 

"Karenanya, Ramadan ini memang harus dijadikan momentum untuk bagaimana mentransformasikan ibadah yang tampak itu sekilas sangat personal menjadi kekuatan komunal,” sebutnya.

 

Lanjut disebutnya, dari kesadaran personal menjadi kesadaran komunal, dari persoalan kultural menjadi persoalan struktural, dari perlawanan individual menjadi perlawanan semesta global mondial.

 

“Dari sana kita punya harapan umat ini akan mampu bangkit," pungkasnya.[] Nabila Zidane 

Opini

×
Berita Terbaru Update