Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ragu kepada Allah: Dosa yang Menghancurkan Tauhid

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:25 WIB Last Updated 2026-02-18T02:25:47Z
Tafsir Sufistik QS. Thaha: 132 dalam Perspektif Ibnu Athaillah

TintaSiyasi.id -- Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan: "Yang paling besar dosanya adalah ragu kepada Allah. Sesungguhnya ragu terhadap rezeki berarti ragu terhadap Sang Pemberi rezeki."

Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah teguran tauhid. Sebab inti dari seluruh ibadah adalah keyakinan total kepada Allah. Ketika hati ragu terhadap rezeki, sesungguhnya ia sedang meragukan sifat Rububiyah Allah: Ar-Razzaq.

Keraguan terhadap rezeki bukan masalah ekonomi. Ia masalah aqidah.

QS. Thaha Ayat 132: Perintah Ibadah dan Jaminan Rezeki

Allah berfirman:  وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu; Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Thaha: 132)

Ayat ini mengandung tiga fondasi kehidupan:

1. Prioritas ibadah (shalat)

2. Jaminan rezeki dari Allah

3. Kemenangan bagi orang bertakwa

Menariknya, Allah menyandingkan shalat dengan rezeki. Seakan Allah ingin menegaskan: Jangan tinggalkan shalat karena takut miskin.

Tafsir dan Hikmah Mendalam

1. Shalat adalah sumber rezeki, bukan penghalang rezeki

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk mendahulukan shalat dan sabar atasnya, karena Allah telah menjamin rezeki.

Al-Qurthubi menjelaskan:
Ayat ini membantah anggapan orang-orang yang meninggalkan ibadah karena sibuk mencari dunia.

Hari ini kita melihat fenomena itu:

Orang meninggalkan shalat demi bisnis

Menghalalkan riba demi kestabilan ekonomi

Mengorbankan waktu ibadah demi karier

Padahal Allah sudah menegaskan: "Kami tidak meminta rezeki kepadamu; Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu."

Artinya:
Tugasmu menyembah.
Urusan rezeki adalah wilayah-Ku.

2. Ragu terhadap rezeki = cacat dalam tauhid Rububiyah

Ibnu Athaillah menembus akar masalahnya. Mengapa manusia gelisah? Karena ia memandang rezeki berasal dari:

Jabatan

Bisnis

Relasi

Pasar

Sistem ekonomi

Padahal itu semua hanyalah sebab.

Ketika hati bergantung pada sebab, dan lupa kepada Musabbibul Asbab (Sang Pengatur sebab), maka lahirlah keraguan.

Keraguan ini lebih berbahaya dari kemiskinan.

Sebab orang miskin yang yakin kepada Allah tetap mulia.
Namun orang kaya yang ragu kepada Allah tetap hina dalam batin.

3. Peradaban Modern dan Krisis Yakin

Ayat ini adalah kritik keras terhadap peradaban materialistik.

Peradaban hari ini mendidik manusia dengan prinsip: “Kerja keraslah seakan-akan segalanya tergantung padamu.”

Islam mengajarkan: “Berusahalah, tetapi yakinlah segalanya tergantung kepada Allah.”

Perbedaannya halus, tetapi mendasar.

Peradaban modern menanamkan kecemasan eksistensial:

Takut kehilangan pekerjaan

Takut bangkrut

Takut masa depan

Takut tidak mapan

Padahal orang yang bertakwa dijamin akhir yang baik.

 وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan akibat yang baik adalah bagi orang bertakwa.”

Bukan bagi orang paling cemas.
Bukan bagi orang paling ambisius.
Bukan bagi orang paling licik.

Tetapi bagi orang bertakwa.

Dimensi Sufistik Ayat Ini

Dalam perspektif tasawuf, rezeki bukan hanya materi. Rezeki adalah:

Ketenangan hati

Cahaya ilmu

Keistiqamahan

Keluarga yang shalih

Waktu yang berkah

Orang yang ragu kepada Allah akan kehilangan ketenangan, meski hartanya melimpah.

Ibnu Athaillah ingin membebaskan hati dari perbudakan sebab.

Karena selama hati masih terikat pada sebab, ia belum merdeka.

Mengapa Ragu kepada Allah Termasuk Dosa Besar?

Karena ia menodai tiga hal:

1. Tauhid – meragukan sifat Ar-Razzaq

2. Tawakal – tidak percaya pada jaminan Allah

3. Husnuzhan – berburuk sangka kepada Allah

Padahal Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Jika prasangka kita buruk, hidup akan terasa sempit.
Jika prasangka kita baik, hati akan luas walau dunia sempit.

Refleksi untuk Diri dan Umat

Ayat ini menata ulang prioritas hidup kita:

Jangan korbankan shalat demi bisnis.

Jangan gadaikan halal demi kestabilan ekonomi.

Jangan tukar ketenangan dengan ambisi.

Rezeki tidak pernah salah alamat.
Yang sering salah adalah keyakinan kita.

Jika Allah menyuruh kita shalat sebelum berbicara tentang rezeki, itu artinya: Rezeki mengalir dari sujud yang khusyuk.

Penutup: Jalan Keluar dari Keraguan

Obat ragu kepada Allah ada tiga:

1. Memperbanyak dzikir kepada Ar-Razzaq

2. Menjaga shalat tepat waktu

3. Melatih hati untuk melihat Allah di balik setiap sebab

Ingatlah:

Bukan kekurangan rezeki yang menghancurkan manusia.
Tetapi hilangnya keyakinan kepada Pemberi rezeki.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari keraguan, menanamkan yaqîn yang kokoh, dan menjadikan kita hamba yang tenang dalam ibadah dan yakin dalam rezeki.

Karena sesungguhnya: Orang yang yakin kepada Allah tidak pernah benar-benar miskin.
Dan orang yang ragu kepada Allah tidak pernah benar-benar kaya.

Wallahu a’lam.

Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Penulis dan akademisi. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo.

Opini

×
Berita Terbaru Update