Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menulis sebagai Jihad Peradaban

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:27 WIB Last Updated 2026-02-18T02:29:50Z
Membangkitkan Potensi Pena untuk Mencerahkan Umat

I. Krisis Peradaban dan Sunyinya Pena
Kita hidup di zaman yang riuh oleh suara, tetapi miskin makna.

TintaSiyasi.id -- Banyak orang berbicara, sedikit yang berpikir. Banyak yang menulis status, sedikit yang menulis gagasan.
Peradaban modern memproduksi konten, tetapi tidak selalu melahirkan kesadaran. Di sinilah letak krisisnya: banjir informasi, tetapi kering hikmah.

Padahal dalam sejarah Islam, pena adalah senjata perubahan. Wahyu pertama bukanlah “bergeraklah”, melainkan iqra’ — bacalah. Dan membaca secara hakiki adalah jalan menuju menulis.
Allah bersumpah dalam Al-Qur’an:
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1)
Sumpah ilahi ini menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi fondasi peradaban.

II. Menulis: Warisan Ulama dan Jalan Keabadian
Peradaban Islam tidak dibangun oleh pedang semata, tetapi oleh tinta ulama.
Lihatlah bagaimana Imam Al-Ghazali menghidupkan kembali spiritualitas umat melalui karya monumentalnya. Atau bagaimana Ibnu Khaldun meletakkan dasar sosiologi dunia melalui Muqaddimah-nya.
Mengapa karya mereka tetap hidup?
Karena mereka menulis dari kedalaman ilmu, kejujuran hati, dan kegelisahan peradaban.
Menulis adalah cara manusia memperpanjang umur pemikirannya. Tubuh boleh terkubur, tetapi gagasan tetap berbicara.

III. Potensi Menulis: Anugerah yang Sering Tertidur
Setiap manusia memiliki potensi menulis. Namun potensi itu sering tertutup oleh:
1. Rasa tidak percaya diri.
2. Ketakutan terhadap kritik.
3. Budaya instan yang anti-proses.
4. Kemalasan membaca dan merenung.
Padahal menulis bukan bakat eksklusif, melainkan keterampilan yang dilatih.
Dalam perspektif sufistik, potensi menulis lahir dari tiga energi ruhani:
• Fikrah (kedalaman berpikir)
• Dzikr (kesadaran spiritual)
• Ibrah (kemampuan mengambil pelajaran)
Jika tiga energi ini hidup, pena akan bergerak dengan sendirinya.

IV. Langkah Strategis Memberdayakan Potensi Menulis
1. Bangun Tradisi Membaca Serius
Tidak ada penulis besar tanpa bacaan besar.
Biasakan membaca:
• Tafsir dan kitab turats.
• Buku pemikiran Islam kontemporer.
• Karya sosial, pendidikan, dan peradaban.
Membaca memperluas cakrawala. Tanpa membaca, tulisan menjadi dangkal.

2. Latih Tafakkur dan Kontemplasi
Tulisan yang mencerahkan lahir dari perenungan.
Sediakan waktu khusus untuk:
• Merenungi ayat-ayat Allah.
• Mengamati fenomena sosial.
• Mengkritisi realitas pendidikan dan dakwah.
Tulisan yang kuat adalah hasil dialog antara wahyu dan realitas.

3. Tulis Setiap Hari, Walau Sedikit
Disiplin adalah rahasia produktivitas.
Targetkan:
• 300–500 kata per hari.
• 1 artikel per minggu.
• 1 buku kecil per 3–6 bulan.
Menulis adalah otot intelektual. Ia menguat karena latihan.

4. Gunakan Kerangka Berpikir Sistematis
Agar tulisan terstruktur, gunakan pola:
Fenomena → Analisis → Kritik → Solusi → Hikmah
Dengan pola ini, tulisan menjadi tajam dan bernilai dakwah.

5. Jadikan Menulis sebagai Amal Jariyah
Niat menentukan kualitas energi tulisan.
Jika menulis untuk popularitas, ia cepat lelah.
Jika menulis untuk dakwah dan pencerahan, ia menjadi ibadah.
Menulis dengan niat lillahi ta’ala akan melahirkan keberkahan gagasan.

V. Menulis sebagai Kritik Peradaban Modern
Peradaban hari ini membentuk generasi yang:
• Cepat berbicara, lambat berpikir.
• Aktif berkomentar, pasif membaca.
• Kaya opini, miskin dalil.
Di sinilah peran penulis Muslim.
Kita membutuhkan:
• Artikel yang membangunkan kesadaran.
• Buku yang membentuk karakter.
• Gagasan yang menuntun arah umat.
Menulis adalah bentuk jihad intelektual — bukan dengan kebencian, tetapi dengan argumentasi dan hikmah.

VI. Formula 4 Pilar Penulis Peradaban
Untuk menjadi penulis yang memberdayakan, bangun empat pilar:
1. Kedalaman Ilmu
Tanpa ilmu, tulisan hanya retorika.
2. Kejernihan Akhlak
Tulisan adalah cermin hati.
3. Keberanian Kritik
Berani menyuarakan kebenaran dengan adab.
4. Konsistensi Produksi
Sedikit tapi rutin lebih kuat daripada banyak tapi jarang.

VII. Mengatasi Mental Block Menulis
Seringkali hambatan terbesar adalah pikiran sendiri.
Beberapa cara praktis:
• Tulis bebas selama 10 menit tanpa berhenti.
• Buat catatan ide setiap hari.
• Jangan edit saat menulis; edit setelah selesai.
• Terima bahwa tulisan pertama pasti belum sempurna.
Kesempurnaan lahir dari revisi, bukan dari penundaan.

VIII. Spiritualitas Pena
Dalam tradisi ulama, menulis bukan sekadar aktivitas rasional, tetapi spiritual.
Sebelum menulis:
• Luruskan niat.
• Berdoa memohon ilham.
• Hindari dosa yang menggelapkan hati.
Hati yang bersih melahirkan tulisan yang jernih.
Sebagaimana dikatakan para arifin, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak menetap di hati yang gelap.

IX. Strategi Praktis 30 Hari Menghidupkan Potensi Menulis
Minggu 1:
Fokus membaca dan membuat ringkasan.
Minggu 2:
Menulis refleksi pendek setiap hari.
Minggu 3:
Menulis artikel 800–1000 kata.
Minggu 4:
Menyusun kumpulan tulisan menjadi e-book mini.
Dalam 30 hari, potensi akan terasa bergerak. Dalam 6 bulan, karakter menulis mulai terbentuk.

X. Penutup: Bangkitkan Pena, Bangkitkan Umat

Umat ini tidak kekurangan dai.
Umat ini kekurangan penulis yang visioner.
Jika Anda memiliki gagasan, jangan kubur dalam kepala.
Jika Anda memiliki kegelisahan, jangan simpan dalam dada.
Tuliskan.
Karena satu tulisan yang ikhlas bisa:
• Mengubah cara berpikir seseorang.
• Menyelamatkan generasi dari kesesatan pemikiran.
• Menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Menulis adalah cara kita berkontribusi pada sejarah.
Menulis adalah cara kita berbicara kepada masa depan.
Maka bangkitkan pena Anda.
Jadikan ia cahaya.
Jadikan ia jalan dakwah.
Jadikan ia warisan peradaban.

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis 39 Judul Buku dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update