Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Psikologi Pendidikan di Era Digital dan AI

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:31 WIB Last Updated 2026-02-18T02:31:44Z
Media Sosial dan Transformasi Jiwa Belajar

I. Revolusi Digital dan Pergeseran Psikologi Belajar

TintaSiyasi.id -- Kita sedang hidup dalam revolusi yang tidak kasat mata tetapi sangat menentukan: revolusi algoritma. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan media sosial bukan sekadar alat, melainkan lingkungan psikologis baru tempat generasi tumbuh dan belajar.
Jika dahulu ruang belajar terbatas pada kelas, kini ruang belajar ada di genggaman. Namun di balik kemudahan itu, terdapat perubahan besar dalam struktur perhatian, motivasi, dan karakter peserta didik. Era digital bukan hanya mengubah cara belajar, tetapi juga mengubah jiwa belajar.

II. Psikologi Pendidikan: Dari Ruang Kelas ke Ruang Algoritma
Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar, berkembang, dan membentuk kepribadian dalam proses pendidikan. Teori klasik seperti yang dikembangkan oleh Jean Piaget menekankan tahapan perkembangan kognitif. Sementara Lev Vygotsky berbicara tentang pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran.

Kini muncul pertanyaan baru:
Bagaimana perkembangan kognitif dan sosial itu terbentuk ketika interaksi dimediasi layar dan algoritma?
AI mampu menjawab soal, menulis esai, bahkan merancang proyek. Namun apakah ia membentuk karakter? Apakah ia menumbuhkan kesabaran intelektual?
Inilah tantangan psikologi pendidikan di era AI.

III. Media Sosial dan Struktur Perhatian yang Terfragmentasi
Salah satu dampak paling nyata dari media sosial adalah terpecahnya perhatian (attention fragmentation).
Generasi digital terbiasa dengan:
• Video pendek.
• Informasi instan.
• Respons cepat.
• Notifikasi tanpa henti.
Akibatnya:
1. Daya fokus menurun.
2. Kesabaran membaca teks panjang melemah.
3. Proses berpikir mendalam tergantikan oleh reaksi emosional.
Padahal belajar sejati memerlukan deep focus dan deep thinking.
Psikologi modern menyebutnya sebagai pergeseran dari deep work ke shallow engagement.

IV. AI: Ancaman atau Mitra Pendidikan?
AI dapat:
• Membantu personalisasi pembelajaran.
• Menyediakan tutor virtual.
• Mengolah data belajar siswa secara cepat.
• Memberikan umpan balik instan.
Namun jika tidak dibimbing secara etis, AI dapat:
• Membuat siswa malas berpikir.
• Menggantikan proses analisis dengan copy–paste instan.
• Mengikis kreativitas dan daya juang.
AI seharusnya menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir.

V. Dampak Media Sosial terhadap Motivasi Belajar
Media sosial bekerja dengan sistem dopamin: like, komentar, dan viralitas memberi kepuasan instan.
Belajar, sebaliknya, membutuhkan proses panjang dan hasil tertunda.
Di sinilah terjadi benturan psikologis:
Media Sosial Proses Belajar
Cepat Bertahap
Instan Butuh usaha
Emosional Rasional
Hiburan Disiplin
Jika tidak dikelola, siswa akan lebih memilih kepuasan cepat daripada ketekunan akademik.

VI. Krisis Identitas dan Perbandingan Sosial
Media sosial juga memicu:
• Perbandingan sosial berlebihan.
• Krisis kepercayaan diri.
• Kecemasan akademik.
• Fear of Missing Out (FOMO).
Anak didik tidak lagi belajar untuk berkembang, tetapi untuk terlihat hebat.
Ini berbahaya bagi pembentukan karakter.

VII. Perspektif Psikologi Pendidikan Islam
Dalam tradisi Islam, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi pembentukan jiwa (tazkiyatun nafs).
Ulama seperti Imam Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu tanpa adab akan merusak jiwa.
AI boleh cerdas, tetapi adab tetap harus diajarkan manusia.
Psikologi pendidikan Islam menekankan tiga hal:
1. Niat sebagai fondasi belajar.
2. Kesabaran sebagai metode pertumbuhan.
3. Muraqabah (kesadaran diawasi Allah) sebagai kontrol diri.
Tanpa tiga ini, teknologi hanya mempercepat kerusakan.

VIII. Mencerahkan: Strategi Mendidik di Era Digital
Agar era digital menjadi berkah, bukan bencana, diperlukan strategi transformatif:
1. Digital Mindfulness
Ajarkan siswa:
• Mengelola waktu layar.
• Membatasi distraksi.
• Fokus pada satu tugas dalam satu waktu.
2. AI sebagai Asisten, Bukan Pengganti
Guru harus mengajarkan:
• Cara menggunakan AI untuk eksplorasi ide.
• Bukan sekadar untuk menjawab tugas.
3. Pendidikan Karakter Berbasis Nilai
Teknologi berubah cepat, tetapi nilai tauhid, amanah, dan integritas harus tetap kokoh.
4. Latihan Deep Thinking
• Diskusi mendalam.
• Menulis refleksi.
• Membaca buku panjang.
• Debat ilmiah beradab.

IX. Peran Guru di Era AI
Di era AI, guru tidak tergantikan. Perannya justru semakin penting:
• Sebagai pembimbing moral.
• Sebagai pengarah nilai.
• Sebagai inspirator karakter.
• Sebagai teladan integritas.
AI memberi informasi. Guru membentuk manusia.

X. Harapan Masa Depan: Integrasi Teknologi dan Spiritualitas
Masa depan pendidikan bukan menolak AI, tetapi mengintegrasikannya dengan nilai.
Kita membutuhkan generasi yang:
• Cerdas digital.
• Kuat spiritual.
• Stabil emosional.
• Visioner intelektual.
Jika teknologi dipandu oleh tauhid, ia menjadi rahmat.
Jika teknologi dilepas tanpa nilai, ia menjadi fitnah.

Penutup Inspiratif

Era digital dan AI adalah ujian sekaligus peluang.
Ia bisa melahirkan generasi dangkal, atau generasi visioner.
Ia bisa mematikan kedalaman, atau memperluas cakrawala.
Pilihan ada pada sistem pendidikan dan kesadaran kita.
Mari kita jadikan teknologi sebagai wasilah, bukan tujuan.
Mari kita bangun pendidikan yang menggabungkan:
Akal yang tajam.
Hati yang bersih.
Karakter yang kokoh.
Dan teknologi yang terarah.
Karena pada akhirnya, yang akan membangun peradaban bukan mesin, tetapi manusia yang berjiwa.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.  (Penulis 39 Judul Buku dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update