Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kebahagiaan Hidup dalam Islam

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:32 WIB Last Updated 2026-02-18T02:32:20Z
Antara Ridha Allah dan Ilusi Kepuasan Jasmani

TintaSiyasi.id -- Di zaman modern ini, kebahagiaan sering didefinisikan sebagai terpenuhinya kebutuhan jasmani: harta melimpah, jabatan tinggi, popularitas, dan kebebasan tanpa batas. Barat kapitalistik menjadikan materi sebagai standar sukses. Komunisme menjadikan kesejahteraan kolektif sebagai puncak tujuan. Keduanya berangkat dari asas materialisme.

Namun Islam berdiri di atas asas yang berbeda: tauhid. Dalam perspektif Islam, kebahagiaan hidup bukanlah sekadar terpenuhinya kebutuhan jasmani, tetapi mendapatkan ridha Allah SWT. Inilah yang membedakan ḥaḍārah Islam dari ḥaḍārah Barat maupun komunis.

I. Hakikat Kebahagiaan dalam Al-Qur’an
1. Kebahagiaan adalah Ridha Allah
QS. At-Taubah: 72
“Dan keridhaan Allah adalah lebih besar.”
Ayat ini menjadi fondasi konsep kebahagiaan Islam. Surga itu besar, kenikmatan itu luar biasa, tetapi Allah menegaskan bahwa ridha-Nya lebih agung dari semua kenikmatan tersebut.
Artinya:
• Kebahagiaan tertinggi bukanlah kenikmatan fisik
• Bukan pula sekadar kesejahteraan sosial
• Tetapi diterimanya hidup kita di sisi Allah
Ridha Allah adalah puncak kebahagiaan ruhani.

II. Kritik terhadap Konsep Kebahagiaan Barat
Peradaban Barat modern dibangun di atas sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan. Konsekuensinya:
• Kebahagiaan diukur dengan materi
• Sukses diukur dengan produktivitas
• Nilai manusia diukur dengan pencapaian dunia
Al-Qur’an telah menggambarkan tipologi manusia seperti ini:
QS. Al-Qiyamah: 20–21
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan akhirat.”
Ketika dunia menjadi tujuan, maka manusia terjebak dalam siklus tanpa akhir:
ingin lebih, mendapatkan, bosan, lalu mencari lagi.
Inilah paradoks modernitas: fasilitas meningkat, tetapi depresi juga meningkat.

III. Kritik terhadap Materialisme Komunis
Komunisme berusaha mengganti kapitalisme dengan distribusi ekonomi kolektif. Namun ia tetap berdiri di atas asas materialisme:
• Kebahagiaan = kesejahteraan ekonomi
• Manusia dipandang sebagai makhluk produksi
• Agama dianggap candu
Islam berbeda secara fundamental. Islam tidak menolak kesejahteraan, tetapi tidak menjadikannya tujuan utama.
Karena manusia bukan hanya jasad.
Ia adalah ruh yang ditiupkan Allah.

IV. Konsep Falah: Kebahagiaan Hakiki
Islam menggunakan istilah falah (keberuntungan sejati).
QS. Al-Mu’minun: 1–2
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”
Keberuntungan dalam ayat ini tidak dimulai dengan harta, tetapi dengan iman dan kekhusyukan.
Falah mencakup:
• Ketenangan batin
• Keselarasan hidup
• Ridha Allah
• Keselamatan akhirat
Inilah kebahagiaan integral.

V. Dunia dalam Perspektif Islam
Islam tidak memusuhi dunia. Namun dunia bukan tujuan.
QS. Al-Qashash: 77
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
Ayat ini menunjukkan keseimbangan:
• Dunia adalah sarana
• Akhirat adalah tujuan
Barat menjadikan dunia sebagai tujuan.
Komunisme menjadikan dunia sebagai satu-satunya realitas.
Islam menjadikan dunia sebagai ladang akhirat.

VI. Ridha Allah sebagai Puncak Psikologi Spiritual
Mengapa ridha Allah menjadi kebahagiaan tertinggi?
Karena ketika Allah ridha:
• Hati menjadi tenang
• Hidup terasa bermakna
• Musibah terasa ringan
• Kematian tidak menakutkan
QS. Ar-Ra’d: 28
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
Ketenangan bukan hasil saldo rekening.
Ia hasil kedekatan dengan Allah.

VII. Dimensi Sufistik: Kebahagiaan sebagai Kedekatan
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati adalah uns billah (keakraban dengan Allah).
Orang yang dekat dengan Allah:
• Tidak hancur oleh kehilangan
• Tidak sombong oleh keberhasilan
• Tidak takut pada makhluk
Karena ia sadar bahwa penilaian tertinggi bukan di mata manusia, tetapi di sisi Rabb-nya.
Inilah kebebasan sejati.

VIII. Peradaban Islam: Mengintegrasikan Ruh dan Materi
Ḥaḍārah Islam tidak menolak kebutuhan jasmani. Islam mengaturnya:
• Makan halal
• Bisnis adil
• Keluarga suci
• Kepemimpinan amanah
Namun semua itu diarahkan menuju satu tujuan: mardhatillah.
Berbeda dengan Barat yang menjadikan kenikmatan sebagai orientasi, Islam menjadikan ridha Allah sebagai orientasi.
Berbeda dengan komunisme yang menjadikan distribusi materi sebagai solusi, Islam menjadikan iman sebagai akar solusi.

IX. Bahaya Menjadikan Jasmani sebagai Tujuan
Ketika kebahagiaan hanya didefinisikan secara jasmani:
• Hedonisme tumbuh
• Individualisme menguat
• Makna hidup melemah
Al-Qur’an memperingatkan:
QS. Al-A’la: 16–17
“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Ayat ini adalah kritik abadi terhadap materialisme.

X. Kesimpulan Ideologis dan Ruhani
Kebahagiaan dalam Islam bukan sekadar:
• Kenyang secara fisik
• Kaya secara materi
• Aman secara politik
Tetapi:
• Tenang karena iman
• Lapang karena ridha
• Bahagia karena dekat dengan Allah
Inilah perbedaan mendasar antara ḥaḍārah Islam dan ḥaḍārah Barat atau komunis.
Jika Barat bertanya: “Berapa yang kau miliki?”
Islam bertanya: “Seberapa dekat engkau dengan Allah?”
Jika Barat berkata: “Nikmatilah hidupmu.”
Islam berkata: “Gunakan hidupmu untuk meraih ridha-Nya.”

Penutup: Jalan Kebahagiaan Sejati
Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita kumpulkan, tetapi pada siapa yang meridhai kita. Ridha Allah lebih besar dari dunia dan seisinya. Dan ketika ridha itu kita raih, maka hati menjadi surga—bahkan sebelum kaki menginjak surga yang sesungguhnya.

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis Buku Bekal Hidup Setelah Mati-Meraih Hasanah dunia dan Hasanah Akherat. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update