Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Proyek New Gaza di Bawah Kendali Total AS dan Isr43l

Rabu, 04 Februari 2026 | 07:50 WIB Last Updated 2026-02-04T00:50:10Z

TintaSiyasi.id -- Gaza kembali menjadi sorotan dunia karena pemerintah Amerika Serikat mengumumkan akan membangun "New Gaza", proyek pembangunan dari nol di sepanjang wilayah pesisir Gaza. AS akan membangun 180 gedung pencakar langit, yang membentang di sepanjang pantai dan bekas perumahan kawasan Rafah yang telah luluh lantak. Dalam narasi Jared Kushner (menantu Donald Trump), 180 gedung tinggi ini akan dijadikan tulang punggung ekonomi baru di Gaza. (mediaindonesia.com, 23/01/2026)

Pendekatan ini diambil sebagai visi rekontruksi berskala besar dengan simbol utamanya 180 gedung tinggi di pesisir Gaza. Bagi mereka ini terobosan besar yang akan mendongkrak perekonomian Gaza yang tadinya dianggap sebagai wilayah terisolasi, miskin, minimnya infrastruktur dan wilayah konflik, kini akan menjadi aset geografis pesisir Mediterania. Dengan visi ini, Gaza akan bertransformasi dari wilayah yang terisolasi menjadi kota pesisir modern dengan konektivitas global. 

Seratus delapan puluh gedung tinggi di pesisir pantai Gaza ini dijadikan sebagai gedung multifungsi yang menggabungkan hotel, hunian, ruang usaha, dan fasilitas komersial lainnya. Selain itu, dalam kerangka "New Gaza" di wilayah pesisir pantai Gaza dibangun infrastruktur pendukung berskala besar, seperti bandara, pelabuhan laut, pembangkit listrik, jaringan transportasi barang, serta fasilitas air bersih dan desalinasi. 

Jika diamati, ini bukan sekadar rekonstruksi biasa, melainkan ambisi besar untuk merebut Gaza dari Palestina. Wilayah pesisir Gaza akan disulap menjadi pariwisata internasional, jasa, dan teknologi yang tujuannya untuk investasi swasta sebagai mesin pertumbuhan utama. Demi nafsu mereka, segala usaha dilakukan demi memiliki Gaza. Sebab bagi mereka, Gaza dipandang sebagai properti yang menghasilkan banyak keuntungan. Bahkan demi tujuannya itu, jutaan rakyat Palestina harus syahid.

Namun untuk membangun proyek ini AS butuh suntikan dana besar. Alih-alih atas nama "Board of Peace" ia menggandeng negeri-negeri Muslim untuk bergabung, dan salah satunya, Indonesia bersedia bergabung. Hanya saja, syarat bergabung harus membayar iuran senilai US$1 miliar atau sekitar Rp16,9 triliun. 

Dengan lantang Bapak Presiden Prabowo Subianto, speak up dalam konferensi pers yang ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Kabinet. Beliau mengatakan, “Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang jika semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanannya Israel. Israel pun harus dijamin keamanannya, baru kita bisa mendapat perdamaian". 

Isu ini akhirnya memantik pro dan kontra di tengah masyarakat. Hingga akhirnya Menteri Luar Negeri RI menegaskan bahwa iuran Rp16,9 triliun itu bukan untuk biaya keanggotaan (membership free) melainkan sebagai komitmen sukarela untuk rekontruksi Gaza. Perlu dicermati dengan adanya proyek "Board of Peace" ini. Mengingat yang membentuk "Dewan Perdamaian" adalah Donald Trump. Sedangkan Presiden AS dalang dari serangan Gaza, negara yang menyuplai senjata untuk Israel. Negara yang berambisi menguasai Gaza. Lalu di mana logikanya negara kita (Indonesia) bersekutu dengan Amerika yang mengatasnamakan "Board of Peace" ini?

Semua mata yang sadar politik mengetahui bahwa konflik pendudukan Israel atas wilayah Palestina secara signifikan terhitung sejak peristiwa Nakba tahun 1948, yang berarti hingga 2026 telah berlangsung selama lebih dari 75 tahun. Ketegangan ini berakar dari deklarasi kemerdekaan Israel pada 14 Mei 1948, yang memicu pengusiran dan pendudukan militer berkelanjutan di Tepi Barat dan Gaza. 

Klimaksnya beberapa tahun ke belakang Israel didukung oleh negara penjajah yaitu Amerika Serikat untuk membumihanguskan Gaza tanpa ampun. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa warga Gaza digenosida. Termasuk anak-anak, balita, ibu-ibu, lansia muslim dan non muslim. Seluruh bangunan yang ada di Gaza rata dengan tanah, termasuk rumah, sekolah, kampus, rumah sakit, dll.

Israel penjajah juga menggunakan senjata terlarang fosfor putih untuk ditembakkan ke pemukiman sipil di Jalur Gaza, semua itu dilakukan dengan tujuan menguasai Gaza secara totalitas tanpa terkecuali. Mungkin sudah ratusan perjanjian gencatan senjata dilakukan oleh Israel dengan pejuang Gaza, namun kita pahami bahwa sifat zionis Israel tidak dapat dipercaya. Ketika posisi mereka lemah, maka mereka akan mengajukan gencatan senjata, dan ketika posisi mereka kuat, maka mereka akan menyerang lebih dulu tanpa mengabaikan perjanjian yang disepakati.

Lalu layakkah Indonesia mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan Israel? Berpihak pada Israel, negara yang menjajah saudara kita di Palestina? Jangan terkecoh dengan akal bulus AS dan sekutunya hanya karena proyek "Board of Peace" ini. Proyek ini bukan untuk saudara kita di Gaza. Tetapi proyek ini untuk ambisi mereka sendiri. 

Menolak lupa dengan kata-kata Menteri Israel, Smotrich, "Kita harus kembali menghancurkan seluruh Gaza dan kita harus mengusir paksa warga Gaza". Kurang jelas apa dengan maksud kalimat tersebut? Proyek "New Gaza" yang mengatasnamakan "Perdamaian Gaza" hanya akal-akalan kafir penjajah. Kalaupun proyek ini dibuat untuk Gaza, maka seharusnya masa depan Gaza ditentukan sendiri oleh warga Palestina, bukan AS ataupun Israel.

Oleh karena itu, tidak seharusnya Indonesia bergabung dalam proyek DPG ini, karena hanya akan menjadikan Indonesia netral bahkan dipaksa untuk berpihak pada negeri penjajah. Padahal di sisi Allah SWT., hilangnya nyawa seorang Muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw. bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455)

Selain itu, Rasulullah Saw. bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

"Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim."

Dari Buraidah ra. ia berkata, Rasulallah Saw. bersabda:

قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.

"Dosa membunuh seorang mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Pertanyaannya, masihkah Indonesia kekeh untuk tetap bergabung dengan negara penjajah? Jangan sampai salah sikap, atau menjadi golongan orang-orang munafik karena semua perbuatan yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban.

Bertanyalah pada diri sendiri, ketika penjajah Belanda atau Jepang masuk menjajah Indonesia, bukankah rakyat melakukan perlawanan dengan berjuang mati-matian untuk mengusir mereka? Kenapa begitu? Sebab rakyat sadar, penjajah tidak boleh mengusik negeri meski hanya sejengkal. Lalu kenapa Indonesia menyetujui penjajah Israel mencaplok tanah Palestina? Inilah sikap orang-orang hipokrit.

Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah, dan ini bukan sekadar tanah kharajiyah biasa, ini tanah kharajiyah istimewa. Statusnya milik kaum Muslim sampai hari kiamat, dan tidak boleh diserahkan kepada orang lain terlebih kepada kafir penjajah. 

Alasan inilah yang mendasari Sultan Abdul Hamid II menolak memberikan tanah Palestina ketika Theodore Hazel meminta tanah tersebut. Oleh karena itu, sudah saatnya mencampakkan sistem batil (kapitalisme-liberal) dan kembali berhukum pada sistem Islam kaffah yang membawa keberkahan, karena solusi atas Palestina tidak lain dan tidak bukan hanyalah dengan khilafah dan jihad fisabilillah. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Luluk Kiftiyah
Pegiat Literasi

Opini

×
Berita Terbaru Update