Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Metode Praktis Membentuk Kepribadian Islam dalam Kehidupan Modern

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:36 WIB Last Updated 2026-02-18T22:36:23Z
TintaSiyasi.id -- Di tengah derasnya arus modernitas, umat Islam menghadapi ujian yang sangat halus, tetapi berbahaya. Hilangnya kepribadian Islam tanpa disadari. Banyak Muslim masih shalat, masih membaca Al-Qur’an, tetapi cara berpikirnya sekuler, orientasi hidupnya materialistik, dan ukuran keberhasilannya duniawi.

Inilah yang oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani disebut sebagai krisis asy-syakhsiyah al-Islamiyah (kepribadian Islam). Ketika tubuhnya Muslim, tetapi aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola jiwa) belum sepenuhnya Islami.

Kepribadian Islam tidak lahir secara otomatis. Ia harus dibangun melalui proses kesadaran, pembinaan, dan penyucian jiwa secara sistematis. Ia adalah proyek seumur hidup, sekaligus jalan menuju kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka."
(QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat ini menegaskan: perubahan peradaban dimulai dari perubahan kepribadian.

Pilar Pertama: Membangun Aqliyah Islamiyah (Revolusi Pola Pikir)

1. Menjadikan Aqidah Islam sebagai Landasan Berpikir

Langkah pertama adalah menjadikan aqidah Islam bukan sekadar identitas, tetapi sebagai qaidah fikriyah (fondasi intelektual).

Artinya, setiap penilaian, keputusan, dan persepsi dikembalikan kepada pertanyaan:

Apa pandangan Allah tentang ini?

Apa hukum syariat dalam perkara ini?

Bukan:

Apa yang paling menguntungkan?

Apa yang paling populer?

Apa yang paling mudah?

Allah berfirman:
"Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka."
(QS. Al-Ahzab: 36).

Inilah awal lahirnya aqliyah Islamiyah.

Akal tidak lagi tunduk kepada dunia. Akal tunduk kepada wahyu.

2. Menghidupkan Tradisi Tafakkur dan Tadabbur

Kepribadian Islam lahir dari akal yang hidup, bukan akal yang mati.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190).

Tafakkur melahirkan:

kesadaran akan kebesaran Allah

kesadaran akan kefanaan dunia

kesadaran akan tujuan hidup

Imam Al-Ghazali menyatakan: satu jam tafakkur lebih baik daripada ibadah sunnah setahun, karena tafakkur menghidupkan hati.

Tafakkur mengubah ilmu menjadi iman.
Tadabbur mengubah informasi menjadi transformasi.

3. Mengkaji Tsaqafah Islam Secara Mendalam

Kepribadian Islam tidak mungkin lahir tanpa ilmu.

Ilmu adalah cahaya yang membentuk cara berpikir.

Rasulullah Saw., bersabda:
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia dalam agama."

Ilmu Islam membentuk struktur berpikir Islami, seperti:

memahami halal dan haram

memahami tujuan hidup

memahami hakikat dunia

Tanpa ilmu, iman menjadi lemah.
Tanpa ilmu, kepribadian menjadi rapuh.

Pilar Kedua: Membangun Nafsiyah Islamiyah (Revolusi Jiwa). 

Jika aqliyah adalah cahaya akal, maka nafsiyah adalah cahaya hati.

Nafsiyah Islamiyah terbentuk dengan cara menyucikan jiwa dari dominasi hawa nafsu.

Allah berfirman:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams: 9).

1. Mujahadah: Melawan Hawa Nafsu

Musuh terbesar manusia bukan setan, tetapi hawa nafsunya sendiri.

Hawa nafsu mengajak kepada:

kemalasan

riya

cinta dunia

lalai kepada Allah

Rasulullah Saw., bersabda:
 "Musuh terbesarmu adalah nafsumu yang berada di antara kedua sisi tubuhmu."

Melawan nafsu adalah jalan menuju kepribadian Islam.

2. Membiasakan Ibadah dengan Kesadaran Ruhani

Ibadah bukan sekadar gerakan, tetapi proses pembentukan jiwa.

Shalat melatih disiplin dan ketundukan.
Puasa melatih pengendalian diri.
Dzikir membersihkan hati.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-Ankabut: 45).

Ibadah adalah madrasah pembentuk kepribadian.

3. Menghidupkan Dzikir dan Murāqabah

Dzikir menghidupkan hati yang mati.

Murāqabah adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita.

Inilah maqam ihsan:
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya."

Ketika murāqabah hidup, kepribadian Islam menjadi kokoh.

Ia jujur meskipun tidak diawasi.
Ia ikhlas meskipun tidak dipuji.

Pilar Ketiga: Mengintegrasikan Ilmu dan Amal

Kepribadian Islam lahir dari kesatuan ilmu dan amal.

Ilmu tanpa amal adalah kesombongan.
Amal tanpa ilmu adalah kesesatan.

Allah mengecam orang yang tahu kebenaran, tetapi tidak mengamalkannya:
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Shaff: 3).

Amal menguatkan iman.
Iman membentuk kepribadian.

Pilar Keempat: Lingkungan yang Mendukung Kepribadian Islam

Lingkungan membentuk jiwa.

Rasulullah Saw., mengubah para sahabat melalui lingkungan Islam.

Dari masyarakat jahiliyah menjadi generasi terbaik dalam sejarah.

Lingkungan yang baik akan:

menguatkan iman

menjaga istiqamah

mempercepat perubahan kepribadian

Sebaliknya, lingkungan yang rusak menghancurkan kepribadian.

Pilar Kelima: Menjadikan Dakwah sebagai Jalan Hidup

Dakwah bukan hanya kewajiban, tetapi sarana pembentuk kepribadian.

Dakwah:

melatih keberanian

melatih keikhlasan

melatih kesabaran

Dakwah memaksa kita hidup sesuai Islam.

Karena tidak mungkin menyeru kepada sesuatu yang tidak kita amalkan.

Buah Kepribadian Islam

Jika kepribadian Islam telah terbentuk, maka lahirlah manusia dengan sifat:

1. Istiqamah
Tidak berubah meskipun dunia berubah.

2. Ikhlas
Beramal hanya karena Allah.

3. Zuhud
Dunia di tangan, bukan di hati.

4. Syaja’ah (keberanian)
Berani dalam kebenaran.

5. Tuma’ninah (ketenangan jiwa)
Tidak gelisah oleh dunia.

Allah berfirman:
"Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28).

Perspektif Sufistik: Kepribadian Islam adalah Kelahiran Manusia Baru

Kepribadian Islam bukan sekadar perubahan perilaku.

Ia adalah kelahiran manusia baru.

Dari manusia dunia menjadi manusia akhirat.
Dari manusia jasad menjadi manusia ruh.
Dari manusia hawa nafsu menjadi manusia cahaya.

Inilah manusia yang disebut oleh Allah sebagai: "Orang-orang yang hidup."

Karena kehidupan sejati bukan kehidupan jasad, tetapi kehidupan hati.

Penutup: Jalan Menuju Kemuliaan dan Kebangkitan Umat

Kebangkitan umat Islam tidak dimulai dari politik, tidak dimulai dari ekonomi, dan
tidak dimulai dari teknologi.

Ia dimulai dari kepribadian Islam.

Ketika kepribadian Islam hidup dalam diri umat, maka peradaban Islam akan bangkit kembali karena peradaban besar tidak lahir dari manusia biasa.

Ia lahir dari manusia yang jiwanya terhubung dengan langit, meskipun kakinya berpijak di bumi.

Sebagaimana generasi sahabat:

Mereka hidup sederhana, tetapi mengubah duniak arena mereka memiliki kepribadian Islam yang sempurna.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update