Jalan Ruhani Menuju Peradaban Kasih Sayang
Pendahuluan: Krisis Kasih Sayang di Tengah Kemajuan Peradaban
TintaSiyasi.id -- Kita hidup di zaman yang paradoks. Teknologi mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat. Informasi mengalir deras, tetapi hati manusia justru mengering. Gedung-gedung menjulang tinggi, tetapi empati runtuh rendah. Manusia modern mengalami krisis terdalam bukan pada ekonomi, melainkan pada dimensi spiritual dan kemanusiaan: hilangnya kemampuan merangkul dan membahagiakan sesama.
Peradaban modern dibangun di atas asas kompetisi, bukan kasih sayang. Yang kuat menyingkirkan yang lemah. Yang kaya melupakan yang miskin. Yang berkuasa sering mengabaikan yang tertindas. Dalam kondisi ini, manusia kehilangan ruh ukhuwah, padahal ukhuwah adalah fondasi peradaban Islam.
Bulan penuh berkah hadir sebagai revolusi spiritual tahunan untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya: menjadi hamba Allah yang penuh cinta, dan menjadi rahmat bagi sesama.
Hakikat Ukhuwah: Manifestasi Tauhid dalam Kehidupan Sosial
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini bukan sekadar ajaran moral, melainkan konsekuensi logis dari tauhid. Jika Tuhan kita satu, maka hakikat kita juga satu. Jika kita menyembah Allah yang sama, maka kita adalah satu keluarga spiritual.
Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya Ulumuddin, bahwa ukhuwah adalah buah dari ma’rifatullah. Orang yang mengenal Allah akan melihat seluruh makhluk sebagai ciptaan yang dicintai-Nya. Maka ia tidak tega menyakiti, tidak tega merendahkan, dan tidak tega membiarkan saudaranya menderita.
Sebaliknya, hati yang keras terhadap manusia adalah tanda hati yang belum mengenal Allah secara mendalam.
Rasulullah ﷺ: Arsitek Peradaban Kasih Sayang
Muhammad tidak membangun peradaban dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan kasih sayang. Beliau merangkul yang miskin, memuliakan yang lemah, dan memaafkan yang menyakiti.
Allah SWT menegaskan: "Maka disebabkan rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh darimu." (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa rahmat adalah fondasi keberhasilan dakwah dan peradaban. Peradaban yang dibangun dengan kekerasan akan runtuh oleh kebencian. Tetapi peradaban yang dibangun dengan kasih sayang akan hidup di dalam hati manusia.
Inilah rahasia mengapa dalam waktu singkat, Rasulullah ﷺ mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi generasi terbaik dalam sejarah manusia.
Menebar Bahagia: Amal yang Paling Dicintai Allah
Dalam perspektif sufistik, kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain bukan sekadar amal sosial, tetapi jalan menuju kedekatan dengan Allah.
Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam: “Jangan meremehkan amal kecil, karena engkau tidak tahu amal mana yang membuat Allah ridha kepadamu.”
Membahagiakan orang lain adalah amal yang memiliki dimensi tauhid, karena kita meneladani sifat Allah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang).
Rasulullah ﷺ bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin.”
Kebahagiaan itu bisa sederhana:
Memberi makan orang yang lapar
Menghibur yang bersedih
Membantu yang kesulitan
Memaafkan yang bersalah
Mendoakan tanpa diketahui
Dalam pandangan Allah, amal kecil yang ikhlas lebih bernilai daripada amal besar yang kosong dari cinta.
Puasa: Madrasah Penghancur Egoisme
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menghancurkan egoisme manusia. Ego adalah hijab terbesar antara manusia dan Allah.
Ketika manusia lapar, ia merasakan penderitaan orang miskin. Ketika ia haus, ia memahami nilai nikmat Allah. Ketika ia lemah, ia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah melemahkan nafsu dan menguatkan ruh. Nafsu selalu mendorong egoisme, sedangkan ruh selalu mendorong kasih sayang.
Orang yang berhasil dalam puasanya akan keluar dengan hati yang lebih lembut, bukan lebih keras; lebih peduli, bukan lebih egois.
Kritik Peradaban Modern: Kehilangan Ruh Kemanusiaan
Peradaban modern mengajarkan manusia untuk sukses secara material, tetapi gagal mengajarkan manusia untuk sukses secara spiritual. Manusia diajarkan bagaimana menjadi kaya, tetapi tidak diajarkan bagaimana menjadi mulia.
Akibatnya, lahirlah manusia yang kaya harta tetapi miskin jiwa. Kaya informasi tetapi miskin hikmah. Kaya koneksi tetapi miskin kasih sayang.
Allah SWT memperingatkan: "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau..." (QS. Al-Hadid: 20)
Dunia modern telah menjadikan manusia sibuk dengan permainan dunia, sehingga lupa pada misi utamanya: menjadi hamba Allah dan rahmat bagi sesama.
Jalan Menuju Ridha Allah: Menjadi Rahmat bagi Sesama
Allah SWT berfirman: "Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Menjadi rahmat bukan hanya tugas Rasul, tetapi juga tugas setiap pengikutnya.
Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Orang terbaik adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.”
Inilah ukuran kemuliaan dalam Islam: bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang kita berikan.
Dimensi Sufistik: Hati sebagai Pusat Peradaban
Peradaban sejati tidak dimulai dari pembangunan fisik, tetapi dari pembangunan hati. Jika hati manusia baik, maka masyarakat akan baik. Jika hati manusia rusak, maka peradaban akan rusak.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad rusak. Itulah hati.”
Hati yang dekat dengan Allah akan memancarkan kasih sayang kepada manusia. Hati yang jauh dari Allah akan memancarkan egoisme dan kekerasan.
Bulan Berkah: Momentum Revolusi Spiritual
Bulan penuh berkah adalah kesempatan untuk melakukan revolusi spiritual:
Dari egoisme menuju kasih sayang
Dari kebencian menuju persaudaraan
Dari kelalaian menuju kesadaran
Dari dunia menuju Allah
Ini bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi transformasi jiwa.
Penutup: Jadilah Cahaya yang Membahagiakan Sesama
Suatu hari, dunia akan meninggalkan kita. Jabatan akan hilang. Harta akan tertinggal. Yang tersisa hanyalah amal dan cinta yang telah kita berikan.
Orang yang paling beruntung bukanlah yang paling kaya, tetapi yang paling banyak membahagiakan orang lain.
Jadilah seperti matahari yang memberi cahaya tanpa meminta balasan. Jadilah seperti hujan yang memberi kehidupan tanpa memilih tempat jatuh.
Karena pada akhirnya, orang yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang paling mencintai dan dicintai oleh sesama.
Mari merangkul saudara, menebar bahagia, dan menjadi rahmat bagi dunia.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis 39 Judul buku. Akademisi. Konsultan Pendidikan dan SDM)