Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kekuatan Akal, Cahaya Wahyu, dan Kehidupan Hakiki

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:36 WIB Last Updated 2026-02-18T02:36:10Z
Hikmah Perkataan Umar bin al-Khaththab dan Tafsir QS. Yasin Ayat 70 dalam Perspektif Dakwah Ideologis–Sufistik

Pendahuluan: Ukuran Kekuatan Sejati Seorang Manusia

TintaSiyasi.id -- Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه berkata: “Kekuatan seorang laki-laki adalah akalnya. Kecukupannya adalah agamanya. Kehormatannya adalah perilakunya.”

Kalimat ini adalah rumusan peradaban Islam dalam tiga pilar:
• Akal adalah sumber kekuatan
• Agama adalah sumber kecukupan
• Akhlak adalah sumber kehormatan

Perkataan ini bukan sekadar hikmah moral, tetapi merupakan prinsip ontologis tentang hakikat manusia. Dalam Islam, kekuatan tidak diukur dari fisik, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi dari akal yang hidup, agama yang kokoh, dan akhlak yang mulia.

Prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT:
لِيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Agar Al-Qur’an memberi peringatan kepada orang yang hidup (hayy), dan agar pasti ketetapan azab terhadap orang-orang kafir.” (QS. Yasin: 70)

Ayat ini mengandung rahasia besar tentang siapa yang benar-benar hidup dan siapa yang sebenarnya mati.

Tafsir QS. Yasin Ayat 70: Siapakah yang Disebut “Hidup”?

Secara lahiriah, semua manusia yang bernafas disebut hidup. Tetapi Al-Qur’an tidak menggunakan definisi biologis. Al-Qur’an menggunakan definisi spiritual dan intelektual.
Ulama besar tabi’in, Adh-Dhahhak رحمه الله berkata:
“Yang dimaksud ‘orang yang hidup’ adalah orang yang berakal.”
Artinya, kehidupan sejati bukan pada tubuh, tetapi pada akal dan hati.
Tubuh bisa hidup, tetapi akal bisa mati.
Jantung bisa berdetak, tetapi hati bisa buta.
Allah berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ
“Bukan mata yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Inilah kematian sejati: kematian akal dan hati, meskipun tubuh masih berjalan di bumi.

Akal adalah Sumber Kekuatan Sejati
Ketika Umar bin al-Khaththab berkata:
“Kekuatan seorang laki-laki adalah akalnya,”

Beliau sedang menjelaskan bahwa kekuatan sejati bukan kekuatan fisik, tetapi kekuatan kesadaran.
Akal membuat manusia mampu:
• Mengenal Allah
• Memahami tujuan hidup
• Mengendalikan hawa nafsu
• Memilih jalan keselamatan
Tanpa akal, manusia menjadi lemah, meskipun tubuhnya kuat.

Allah berfirman:
وَلَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَعْقِلُونَ بِهَا
“Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami.”
(QS. Al-A’raf: 179)

Ini adalah kelemahan terbesar manusia: memiliki akal, tetapi tidak menggunakannya.

Fungsi Wahyu: Menghidupkan Akal yang Mati

QS. Yasin ayat 70 menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk memberi peringatan kepada orang yang hidup, yaitu orang yang memiliki akal yang siap menerima kebenaran.
Artinya, Al-Qur’an adalah cahaya yang menghidupkan akal.
Tanpa wahyu, akal tersesat.
Tanpa akal, wahyu tidak dipahami.

Imam Al-Ghazali menjelaskan: “Akal adalah seperti mata, dan wahyu adalah seperti cahaya. Mata tidak berguna tanpa cahaya, dan cahaya tidak berguna tanpa mata.” 

Inilah harmoni antara akal dan wahyu dalam Islam.

Kehidupan Hakiki adalah Kehidupan Akal dan Hati

Adh-Dhahhak mengatakan bahwa yang hidup adalah yang berakal. Ini menunjukkan bahwa kehidupan sejati adalah kehidupan kesadaran.

Ada manusia yang hidup secara biologis, tetapi mati secara spiritual.
Mereka:
• Tidak mengenal Allah
• Tidak memikirkan akhirat
• Tidak peduli dosa
• Tidak mencari kebenaran
Mereka hidup secara jasmani, tetapi mati secara ruhani.

Allah berfirman:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
“Apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan…” (QS. Al-An’am: 122)

Yang dimaksud mati di sini adalah mati hati dan akal, lalu dihidupkan dengan iman.

Agama adalah Sumber Kecukupan
Umar bin al-Khaththab berkata: “Kecukupannya adalah agamanya.”

Ini adalah prinsip agung: orang yang memiliki agama yang benar tidak akan pernah miskin secara hakiki.
Ia mungkin miskin secara materi, tetapi kaya secara jiwa.
Agama memberikan:
• ketenangan
• makna hidup
• arah kehidupan
• harapan abadi

Allah berfirman:
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  
“ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” 
(QS. An-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik adalah kehidupan jiwa, bukan kehidupan materi.

Akhlak adalah Sumber Kehormatan
Umar berkata: “Kehormatannya adalah perilakunya.”

Kehormatan manusia bukan pada:
• kekayaannya
• jabatannya
• kekuatannya
Tetapi pada akhlaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
Akhlak adalah buah dari akal yang sehat dan iman yang kuat.

Perspektif Sufistik: Akal adalah Cahaya Ruhani

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa akal adalah cahaya pertama yang Allah tanamkan dalam hati manusia.
Dengan akal, manusia dapat:
• mengenal kefanaan dunia
• memahami hakikat kehidupan
• menyadari kehadiran Allah
Tanpa akal, manusia tenggelam dalam ilusi dunia.
Hasan Al-Basri berkata:
“Orang berakal adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk akhirat.”

Tragedi Manusia Modern: Tubuh Hidup, Akal Mati

Salah satu ciri peradaban modern adalah matinya akal spiritual.
Manusia modern:
• cerdas secara teknologi
• maju secara ilmu dunia
Tetapi banyak yang:
• tidak mengenal Allah
• tidak memikirkan akhirat
• tidak mempersiapkan kematian
Mereka hidup secara biologis, tetapi mati secara spiritual.
Inilah yang dimaksud dalam QS. Yasin ayat 70: Al-Qur’an hanya memberi manfaat kepada mereka yang benar-benar hidup, yaitu mereka yang akalnya hidup.

Cara Menghidupkan Akal dan Hati
1. Tadabbur Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah cahaya akal.
2. Mengingat kematian
Kematian membangunkan akal dari kelalaian.
3. Melawan hawa nafsu
Nafsu adalah musuh akal.
4. Mendekat kepada Allah
Kedekatan kepada Allah menghidupkan hati.

Penutup: Hidupkan Akal Sebelum Tubuh Dikuburkan

QS. Yasin ayat 70 mengajarkan bahwa tidak semua yang bernafas itu hidup.
Yang benar-benar hidup adalah yang akalnya hidup, yang hatinya hidup, yang imannya hidup.
Perkataan Umar bin al-Khaththab merangkum seluruh rahasia ini:
• Akal adalah kekuatan
• Agama adalah kecukupan
• Akhlak adalah kehormatan
Barangsiapa kehilangan akalnya, ia kehilangan kekuatannya.
Barangsiapa kehilangan agamanya, ia kehilangan kecukupannya.
Barangsiapa kehilangan akhlaknya, ia kehilangan kehormatannya.
Dan barangsiapa kehilangan ketiganya, maka ia hidup di dunia sebagai tubuh tanpa ruh, dan kelak akan menyesal di hadapan Allah.

Semoga Allah menghidupkan akal kita dengan cahaya wahyu, menghidupkan hati kita dengan iman, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar hidup. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis dan Akademisi. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update