Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Keutamaan Akal dan Kehinaan Hawa Nafsu

Rabu, 18 Februari 2026 | 10:42 WIB Last Updated 2026-02-18T03:42:15Z
Jalan Keselamatan dan Jalan Kehancuran dalam Cahaya Tafsir QS. Al-Mulk Ayat 10

Pendahuluan: Tragedi Terbesar Manusia adalah Matinya Akal

TintaSiyasi.id -- Tidak ada tragedi yang lebih besar dalam kehidupan manusia selain ketika akalnya hidup untuk dunia, tetapi mati untuk akhirat. Ia mampu menghitung keuntungan bisnis, tetapi tidak mampu menghitung sisa umurnya. Ia mampu membaca peluang dunia, tetapi buta terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Ia cerdas secara intelektual, tetapi bodoh secara spiritual.

Inilah tragedi yang digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: Sekiranya dahulu kami mau mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka Sa‘ir.”
(QS. Al-Mulk: 10)

Ini adalah pengakuan paling jujur dari penghuni neraka. Mereka tidak menyalahkan nasib, tidak menyalahkan zaman, tidak menyalahkan orang lain. Mereka hanya menyalahkan satu hal: tidak menggunakan akal.

Ayat ini adalah deklarasi ilahiah tentang keutamaan akal, sekaligus vonis tentang kehinaan hawa nafsu.

Akal: Fondasi Keutamaan dan Mata Air Adab

Imam Al-Mawardi رحمه الله berkata dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din:
“Setiap keutamaan memiliki fondasi, dan setiap adab memiliki mata air. Fondasi keutamaan dan mata air adab itu adalah akal.”

Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi merupakan prinsip ontologis dalam Islam. Akal adalah fondasi peradaban, fondasi iman, dan fondasi keselamatan.
1. Akal adalah Cahaya yang Membedakan Manusia dari Makhluk Lain
Binatang memiliki naluri, tetapi manusia memiliki akal. Naluri hanya mencari kesenangan, tetapi akal mencari kebenaran.

Naluri berkata: nikmati dunia.
Akal berkata: dunia hanya sementara.
Naluri berkata: ikuti keinginanmu.
Akal berkata: ikuti petunjuk Tuhanmu.
Karena itu, kemuliaan manusia bukan pada tubuhnya, tetapi pada akalnya.

Imam Al-Ghazali berkata:
“Akal adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati, dengannya manusia mengetahui hakikat segala sesuatu.”
Tanpa akal, manusia hanyalah makhluk biologis. Dengan akal, manusia menjadi makhluk spiritual.

2. Akal adalah Jalan Menuju Ma’rifatullah
Fungsi tertinggi akal bukan untuk teknologi, bukan untuk kekayaan, bukan untuk kekuasaan. Fungsi tertinggi akal adalah mengenal Allah.

Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ... لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….. terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190)

Orang berakal melihat dunia bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai tanda.
Ia melihat langit, lalu mengingat Allah.
Ia melihat kematian, lalu mempersiapkan akhirat.

Ia melihat kefanaan dunia, lalu mencari keabadian bersama Allah.
Inilah akal yang hidup.

Tafsir Sufistik QS. Al-Mulk Ayat 10: Penyesalan yang Terlambat

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung makna yang sangat dalam.
1. Tafsir Ibnu Katsir: Mereka Memiliki Akal tetapi Tidak Menggunakannya
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penghuni neraka sebenarnya memiliki akal, tetapi mereka tidak menggunakannya untuk mencari kebenaran.
Masalah mereka bukan kebodohan intelektual, tetapi kebutaan spiritual.
Mereka tahu, tetapi tidak mau tunduk.
Mereka mengerti, tetapi tidak mau taat.
Inilah kehancuran sejati.

2. Tafsir Al-Qurthubi: Akal adalah Alat Keselamatan
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa akal adalah alat untuk mencapai keselamatan.
Siapa yang menggunakan akalnya dengan benar, ia akan sampai kepada iman.
Siapa yang mematikan akalnya dengan hawa nafsu, ia akan sampai kepada kebinasaan.

3. Tafsir Sufistik: Akal adalah Cahaya, Nafsu adalah Kegelapan
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa akal adalah cahaya ruhani, sedangkan hawa nafsu adalah kegelapan jasmani.
Ketika cahaya akal padam, manusia berjalan dalam kegelapan nafsu.
Dan ketika manusia berjalan dalam kegelapan, kehancuran adalah keniscayaan.

Hawa Nafsu: Musuh Terbesar Akal dan Musuh Terbesar Manusia

Allah SWT berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
“Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Inilah bentuk penyembahan paling halus dan paling berbahaya: menyembah hawa nafsu.
Ketika manusia mengikuti hawa nafsu, ia tidak lagi mengikuti Allah.
Ia menjadikan keinginannya sebagai hukum.
Ia menjadikan kesenangannya sebagai tujuan.
Ia menjadikan dunia sebagai kiblat.
Inilah perbudakan modern.

Struktur Batin Manusia: Pertempuran antara Akal dan Nafsu

Dalam perspektif tasawuf, hati manusia adalah medan pertempuran antara dua kekuatan:
• Akal: mengajak kepada Allah
• Nafsu: mengajak kepada dunia

Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Akal adalah pemimpin, dan nafsu adalah musuh. Jika akal menang, manusia menjadi mulia. Jika nafsu menang, manusia menjadi hina.”

Setiap dosa adalah kemenangan nafsu.
Setiap ketaatan adalah kemenangan akal.

Mengapa Hawa Nafsu Menghancurkan Manusia

Hawa nafsu memiliki karakter:
1. Mengajak kepada kesenangan sesaat
2. Mengabaikan akibat jangka panjang
3. Membenci kebenaran
4. Mencintai dunia secara berlebihan

Allah berfirman:
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
“Dan orang yang menahan dirinya dari hawa nafsu, maka surga adalah tempatnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Surga adalah hadiah bagi mereka yang memenangkan perang melawan hawa nafsu.

Peradaban Modern: Kemenangan Nafsu atas Akal

Salah satu ciri peradaban modern adalah pengagungan hawa nafsu.
Manusia diajarkan untuk:
• Mengikuti keinginan
• Memuaskan syahwat
• Mengejar kesenangan
Tetapi tidak diajarkan untuk:
• Mengenal Allah
• Mengendalikan nafsu
• Mempersiapkan akhirat

Akibatnya, manusia modern maju secara teknologi, tetapi mundur secara spiritual.
Mereka memiliki kecerdasan buatan, tetapi kehilangan kecerdasan ruhani.

Akal dalam Perspektif Tasawuf: Jalan Menuju Allah

Dalam tasawuf, akal adalah pintu pertama menuju ma’rifatullah.
Imam Al-Junayd berkata:
“Perjalanan menuju Allah dimulai dengan akal, disempurnakan dengan iman, dan dimahkotai dengan ma’rifat.”
Akal yang sehat akan sampai pada kesimpulan:
• Dunia fana
• Kematian pasti
• Allah adalah tujuan akhir
Inilah akal yang tercerahkan.

Cara Menghidupkan Akal dan Mematikan Dominasi Nafsu
1. Tadabbur Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah cahaya akal.
2. Mengingat kematian
Kematian menghancurkan ilusi dunia.
3. Mujahadah melawan nafsu
Inilah jihad terbesar.
4. Bergaul dengan orang saleh
Lingkungan mempengaruhi akal dan hati.

Penutup: Akal adalah Jalan Surga, Nafsu adalah Jalan Neraka

QS. Al-Mulk ayat 10 adalah peringatan abadi bagi seluruh manusia.
Penghuni neraka tidak menyesal karena kurang harta, kurang kekuatan, atau kurang kesempatan.

Mereka menyesal karena tidak menggunakan akal untuk mengenal Allah.
Imam Al-Mawardi benar ketika berkata:
“Fondasi keutamaan adalah akal, dan mata air adab adalah akal.”

Karena akal yang hidup akan membawa manusia kepada:
• Iman
• Taqwa
• Ma’rifatullah
• Keselamatan abadi
Dan hawa nafsu yang dominan akan membawa manusia kepada:
• Kesesatan
• Kehinaan
• Kebinasaan

Wahai jiwa yang masih hidup,
Gunakan akalmu sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna.
Sebab penyesalan penghuni neraka dimulai dengan satu kalimat:
“Seandainya dahulu kami menggunakan akal.”

Semoga Allah menghidupkan akal kita dengan cahaya iman, dan mematikan hawa nafsu kita dengan kekuatan taqwa. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis 39 Judul Buku. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update