Dakwah Ideologis-Sufistik untuk Menjaga Amanah Kekhalifahan dan Keselamatan Peradaban.
Ketika bumi menangis, manusia sibuk menghitung laba.
TintaSiyasi.id -- Jawa Timur adalah rahim peradaban. Dari tanahnya tumbuh padi yang menghidupi negeri, dari hutannya mengalir udara kehidupan, dari lautnya terhampar rizki yang tak terhitung. Ia dianugerahi Allah sebagai wilayah yang kaya, strategis, dan penuh keberkahan. Namun di balik kekayaan itu, tersimpan luka yang kian menganga: ekosida—kejahatan terhadap alam yang terstruktur, sistemik, dan seringkali dilegalkan atas nama pembangunan.
Ekosida bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah krisis iman, krisis akhlak, dan krisis kesadaran ruhani manusia modern.
Ekosida: Wajah Gelap Pembangunan Tanpa Tauhid
Dalam bahasa yang jujur, ekosida adalah ketika alam diperlakukan bukan sebagai amanah, melainkan sebagai objek eksploitasi. Hutan ditebang tanpa rasa takut kepada Allah. Gunung dikeruk tanpa pertimbangan generasi. Laut dicemari tanpa memikirkan kehidupan makhluk lain.
Allah telah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rūm: 41)
Ayat ini bukan sekadar peringatan ekologis, tetapi tamparan ideologis. Kerusakan alam bukan kecelakaan, melainkan buah dari ideologi materialisme yang menuhankan pertumbuhan ekonomi dan menyingkirkan nilai-nilai tauhid.
Jawa Timur: Tanah Berkah yang Terluka
Peta Jawa Timur hari ini adalah peta luka:
Pantura dengan abrasi dan pencemaran industri.
Madura dengan krisis air dan kerusakan karst.
Tapal Kuda yang terkepung tambang dan konflik lahan.
Pansela yang rapuh oleh proyek pesisir.
Malang Raya yang terdesak alih fungsi lahan.
Mataraman yang kehilangan kedaulatan pangan.
Surabaya Raya yang sesak oleh urbanisasi rakus.
Ini bukan peristiwa sporadis. Ini adalah pola peradaban yang salah arah.
Fasād fil Ard: Ketika Manusia Mengkhianati Amanah
Islam tidak memisahkan iman dari realitas sosial dan ekologis. Kerusakan alam disebut dengan istilah yang sangat tegas: fasād fil ard—kerusakan yang menghancurkan tatanan kehidupan.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa fasad terjadi ketika nafsu menguasai akal dan akal terputus dari cahaya wahyu. Inilah penyakit peradaban hari ini: manusia cerdas secara teknologis, namun miskin hikmah; maju secara industri, namun mundur secara ruhani.
Manusia sebagai Khalifah: Bukan Penakluk, Tapi Penjaga
Allah menempatkan manusia sebagai khalifah fil ard, bukan sebagai tiran bumi.
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Khalifah adalah penjaga keseimbangan (mīzān), bukan perusak harmoni. Dalam tasawuf, alam dipandang sebagai makhluk Allah yang bertasbih, memiliki hak untuk dihormati.
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan: “Janganlah engkau merusak apa yang bukan milikmu, karena engkau hanya peminjam di dunia ini.”
Ekosida adalah puncak pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan.
Ekosida dan Kekerasan Spiritual terhadap Umat
Kerusakan alam tidak berhenti pada tanah dan air. Ia menjelma menjadi:
bencana yang menelan korban,
kemiskinan struktural,
konflik sosial,
dan penderitaan berkepanjangan.
Ekosida adalah kekerasan spiritual, karena ia mencabut manusia dari sumber keberkahan hidup. Ketika alam rusak, doa kehilangan langitnya, ibadah kehilangan ketenangannya, dan kehidupan kehilangan rahmatnya.
Dakwah Ekologis: Jalan Sufistik Membela Kehidupan
Dakwah hari ini tidak cukup hanya bicara halal-haram ritual. Dakwah harus turun ke luka bumi. Inilah dakwah ideologis-sufistik: menggabungkan kesadaran struktural dengan kelembutan ruhani.
1. Menghidupkan Tauhid Ekologis
Tauhid bukan hanya mengesakan Allah dalam ibadah, tetapi mengesakan-Nya dalam cara kita memperlakukan alam.
Barang siapa merusak alam demi keuntungan, sejatinya ia telah menjadikan materi sebagai sesembahan.
2. Ulama sebagai Penjaga Nurani Peradaban
Ulama adalah pewaris nabi, bukan pelayan kepentingan. Mereka harus:
berani menyuarakan keadilan ekologis,
menegur kekuasaan yang melanggengkan ekosida,
dan membela masyarakat yang kehilangan ruang hidup.
Diamnya ulama terhadap ekosida adalah fitnah terbesar bagi umat.
3. Pendidikan Ruhani dan Kesadaran Sosial
Pesantren, masjid, dan majelis taklim harus menjadi pusat:
tazkiyatun nafs,
kesadaran ekologis,
dan keberanian moral.
Tasawuf sejati melahirkan manusia yang lembut hatinya dan tegas sikapnya.
4. Gerakan Kesadaran Kolektif Umat
Umat harus bangkit dari sikap pasrah. Kesabaran bukan berarti diam. Tawakal bukan berarti menyerah. Islam mengajarkan ikhtiar yang beradab dan berani.
Penutup: Menjaga Alam adalah Menjaga Iman
Jawa Timur sedang diuji: apakah akan terus dikorbankan atas nama pembangunan semu, atau diselamatkan sebagai amanah generasi.
Ekosida adalah tanda bahwa manusia telah lupa diri. Maka jalan keluarnya bukan hanya regulasi, tetapi taubat peradaban.
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A‘rāf: 56)
Menjaga alam adalah ibadah.
Menyelamatkan bumi adalah bentuk syukur.
Melawan ekosida adalah jihad kemanusiaan.
Semoga kita tidak tercatat sebagai generasi yang menyaksikan kehancuran, tetapi sebagai generasi yang mengembalikan bumi ke pangkuan rahmat Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa. 8 Pebruari 2026. Diskusi Tokoh Umat: Membangun Kesadaran Kritis Melawan Ekosida Hotel Santika Premerier. Gubeng Surabaya)