Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jadilah Penjaga Ilmu, Bukan Sekadar Periwayat Ilmu

Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:14 WIB Last Updated 2026-02-20T23:15:37Z
TintaSiyasi.id -- Refleksi Dakwah Ideologis–Sufistik atas Hikmah Ibnu Mas’ud dan Wasiat Nabi Saw., tentang Menjaga Ilmu

Ilmu dalam Islam bukan sekadar sesuatu yang didengar, dihafal, lalu disampaikan. Ilmu adalah cahaya yang harus dijaga, dipelihara, dihidupkan dalam amal, dan diwariskan dengan tanggung jawab ruhani. Oleh karena itu, para sahabat Rasulullah Saw., dan para ulama besar memberikan peringatan keras: jangan menjadi sekadar periwayat ilmu, tetapi jadilah penjaga ilmu.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Jadilah kalian penjaga ilmu, dan janganlah kalian menjadi periwayat ilmu. Bisa jadi orang yang menjaga, tidak meriwayatkan.”
Dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Saw., bersabda:
“Catatlah ilmu dengan tulisan.”
Kedua nasihat ini dikutip dalam kitab agung Adab ad-Dunya wa ad-Din karya Imam al-Mawardi, sebuah karya monumental tentang adab, akhlak, dan peradaban ilmu dalam Islam.
Nasihat ini mengandung makna yang sangat dalam: ilmu bukan sekadar informasi, tetapi amanah ilahiyah.

Hakikat Penjaga Ilmu: Menghidupkan Ilmu dalam Jiwa dan Amal
Penjaga ilmu (حافظ العلم) bukan sekadar orang yang hafal banyak dalil, tetapi orang yang menjaga ilmu dalam tiga dimensi utama:
1. Menjaga ilmu dalam hati (hifzh fi al-qalb)
Ilmu harus meresap menjadi keyakinan, bukan hanya menjadi pengetahuan. 
Allah Swt., berfirman:
“Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-‘Ankabut: 49).

Ayat ini menunjukkan bahwa tempat utama ilmu bukanlah buku, tetapi hati. Buku hanyalah wadah, sedangkan hati adalah rumahnya.
Orang yang menjaga ilmu dalam hati akan memiliki bashirah (pandangan ruhani), sehingga ilmunya menjadi cahaya yang membimbing kehidupan.

2. Menjaga ilmu dalam amal (hifzh fi al-‘amal)
Ilmu yang tidak diamalkan akan hilang keberkahannya. 
Rasulullah Saw., bersabda:
“Perumpamaan orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi membakar dirinya sendiri.”

Penjaga ilmu adalah orang yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidup, bukan sekadar bahan ceramah.
Inilah perbedaan antara:
• Periwayat ilmu → menyampaikan ilmu dengan lisan
• Penjaga ilmu → menghidupkan ilmu dengan kehidupan
Periwayat mungkin menggerakkan telinga manusia.
Penjaga menggerakkan hati manusia.

3. Menjaga ilmu dengan menulis dan mendokumentasikannya
Sabda Nabi Saw.,. 
“Catatlah ilmu dengan tulisan.”
Ini adalah perintah peradaban. Tulisan adalah benteng ilmu dari kepunahan.
Para ulama besar memahami hal ini, sehingga lahirlah karya-karya agung:
• Imam al-Bukhari menulis Shahih al-Bukhari
• Imam an-Nawawi menulis Riyadhus Shalihin
• Imam al-Ghazali menulis Ihya Ulumuddin
• Imam al-Mawardi menulis Adab ad-Dunya wa ad-Din
Mereka bukan sekadar periwayat ilmu, tetapi penjaga peradaban ilmu.
Tulisan adalah bentuk penjagaan ilmu lintas zaman.

Bahaya Menjadi Sekadar Periwayat Ilmu
Ibnu Mas’ud memperingatkan bahaya menjadi periwayat ilmu tanpa penjagaan ruhani.
Periwayat ilmu mungkin:
• Menghafal banyak dalil
• Mengutip banyak ulama
• Pandai berbicara
Namun, jika ilmu tidak mengubah hatinya, maka ia belum menjadi penjaga ilmu.
Allah Swt., memberikan perumpamaan keras:
“Perumpamaan orang yang dipikulkan Taurat kemudian tidak mengamalkannya seperti keledai yang membawa kitab-kitab.”
(QS. Al-Jumu’ah: 5).

Ini adalah peringatan ideologis: ilmu tanpa penjagaan ruhani akan kehilangan ruhnya.

Penjaga Ilmu adalah Pewaris Nabi
Rasulullah Saw., bersabda:
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
Pewarisan ini bukan pewarisan informasi, tetapi pewarisan cahaya.
Para nabi menjaga wahyu dengan:
• hati mereka
• amal mereka
• pengorbanan mereka
Demikian pula penjaga ilmu menjaga ilmu dengan:
• keikhlasan
• ketakwaan
• ketawadhuan
Ilmu tanpa ketakwaan adalah beban.
Ilmu dengan ketakwaan adalah cahaya.

Menulis sebagai Bentuk Penjagaan Ilmu dan Perlawanan terhadap Kepunahan
Menulis adalah ibadah peradaban.
Dengan menulis, seorang alim:
• menjaga ilmu dari lupa
• menjaga ilmu dari distorsi
• menjaga ilmu dari kematian
Imam Ahmad berkata:
“Ilmu adalah sesuatu yang diikat dengan tulisan.”
Tulisan adalah rantai yang mengikat ilmu agar tidak hilang. Oleh karena itu, para ulama salaf menulis bukan untuk popularitas, tetapi untuk menjaga amanah.

Dimensi Sufistik: Penjaga Ilmu adalah Penjaga Cahaya Allah
Dalam perspektif sufistik, ilmu adalah cahaya Allah yang dititipkan dalam hati manusia.
Allah berfirman:
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur: 35).

Ilmu adalah manifestasi cahaya ini.
Penjaga ilmu berarti penjaga cahaya.
Ketika seorang alim menjaga ilmunya dengan ikhlas, maka Allah menjaga hatinya.
Sebaliknya, ketika ilmu digunakan untuk dunia, maka cahaya itu padam.

Imam al-Ghazali berkata:
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Penjaga ilmu menggabungkan keduanya.

Tanggung Jawab Intelektual dan Ruhani di Zaman Modern
Di era digital, banyak orang menjadi periwayat ilmu:
• mengutip tanpa memahami
• berbicara tanpa menghayati
• menyampaikan tanpa mengamalkan
Namun, Islam membutuhkan penjaga ilmu, bukan sekadar penyampai ilmu.
Penjaga ilmu adalah mereka yang:
• menulis untuk menjaga kebenaran
• mengajar untuk menjaga umat
• beramal untuk menjaga keberkahan
Mereka adalah benteng peradaban Islam.

Penutup: Jadilah Penjaga Cahaya, Bukan Sekadar Penyampai Kata
Wahai para pencari ilmu, janganlah engkau hanya menjadi penyampai kata, tetapi jadilah penjaga cahaya.
Jagalah ilmu dengan:
• hatimu melalui keikhlasan
• amalmu melalui ketaatan
• tulisanmu melalui dakwah
Karena ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk menjaga manusia menuju Allah.
Orang yang meriwayatkan ilmu mungkin dikenang manusia. Namun, orang yang menjaga ilmu akan dikenang langit.
Dan pada akhirnya, bukan banyaknya ilmu yang menyelamatkan kita, tetapi keberkahan ilmu yang kita jaga dalam hati.

Dr Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update