(Refleksi Dakwah Ideologis–Sufistik)
Pendahuluan: Ketika Waktu Menjadi Sang Guru Terakhir
TintaSiyasi.id -- Kematian adalah kepastian yang paling dekat, namun paling jauh dari kesadaran manusia. Ia tidak pernah terlambat, dan tidak pernah datang terlalu cepat. Ia datang tepat pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah ﷻ.
Allah berfirman: “Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian.” (QS. Ali Imran: 185)
Pertanyaan besar bukanlah kapan kematian itu datang, tetapi dalam keadaan apa kita menghadap Allah.
Bayangkan jika seseorang diberi kepastian bahwa hidupnya tinggal enam bulan. Maka seluruh ilusi dunia akan runtuh. Jabatan kehilangan maknanya. Harta kehilangan daya tariknya. Ambisi dunia menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan eksistensial:
Apa yang akan engkau persembahkan kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada umat Islam sebelum engkau kembali?
Sesungguhnya, inilah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan setiap mukmin setiap hari.
I. Persembahan kepada Allah: Mengembalikan Hati ke Hadirat-Nya
Persembahan terbesar kepada Allah bukanlah harta, bukan pula tubuh, tetapi hati yang kembali sepenuhnya kepada-Nya.
Karena Allah berfirman: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Hati yang bersih (qalbun salim) adalah hati yang terbebas dari:
Kesombongan
Ketergantungan kepada dunia
Riya dan cinta pujian
Lalai dari mengingat Allah
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akar kehancuran manusia bukan pada dosa lahiriah, tetapi pada penyakit hati yang tidak disadari. Dalam perspektif sufistik, dosa terbesar bukan sekadar maksiat, tetapi kelalaian dari Allah.
Enam bulan terakhir kehidupan harus menjadi momentum untuk:
1. Taubat Nasuha (Taubat Total)
Taubat bukan sekadar ucapan, tetapi revolusi batin. Taubat adalah kembali sepenuhnya kepada Allah.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat yang sejati melahirkan tiga perubahan:
Penyesalan terhadap masa lalu
Perbaikan total di masa kini
Komitmen istiqamah di masa depan
2. Menghidupkan Dzikir dan Kesadaran Ilahi (Muraqabah)
Dzikir bukan sekadar bacaan lisan, tetapi kesadaran eksistensial bahwa Allah selalu melihat kita.
Allah berfirman: “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian." (QS. Al-Baqarah: 152)
Hati yang hidup dengan dzikir tidak akan takut kepada kematian, karena kematian hanyalah perpindahan menuju Yang Selalu Diingatnya.
3. Memperbaiki Shalat
Shalat adalah pertemuan harian dengan Allah.
Nabi Muhammad bersabda: “Shalatlah seolah itu shalat perpisahan.” (HR. Ibnu Majah)
Orang yang sadar kematian akan mempersembahkan shalat terbaiknya, karena ia tidak yakin masih hidup setelah shalat itu.
II. Persembahan kepada Rasulullah: Melanjutkan Cahaya Risalah
Persembahan terbesar kepada Rasulullah ﷺ bukanlah pujian, tetapi melanjutkan perjuangan beliau.
Allah berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu.” (QS. At-Taubah: 128)
Rasulullah hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Hasan al-Bashri berkata: “Seorang mukmin sejati adalah orang yang menjadi perpanjangan cahaya Rasulullah di zamannya.”
Persembahan kepada Rasulullah dalam enam bulan terakhir adalah:
1. Menghidupkan Sunnah
Sunnah bukan sekadar ritual, tetapi cara hidup yang menghadirkan Allah dalam setiap aspek kehidupan.
2. Memperbanyak Shalawat
Shalawat adalah bukti cinta dan loyalitas spiritual kepada Rasulullah.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
3. Melanjutkan Dakwah
Setiap mukmin adalah pewaris para nabi.
Rasulullah bersabda: “Para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud)
Maka menulis, mengajar, dan membimbing umat adalah persembahan terbesar kepada Rasulullah ﷺ.
III. Persembahan kepada Umat Islam: Meninggalkan Warisan Keabadian
Kehidupan seorang mukmin tidak berakhir dengan kematiannya. Ia terus hidup melalui warisan amalnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika manusia meninggal, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Warisan terbesar bukanlah harta, tetapi:
1. Ilmu yang Membimbing Manusia kepada Allah
Satu kalimat yang menghidupkan hati lebih berharga daripada dunia dan seisinya.
Ibnu Athaillah as-Sakandari berkata: “Satu cahaya dalam hati lebih berharga daripada ribuan dunia.”
2. Amal yang Terus Mengalir
Masjid, sekolah, tulisan, dan dakwah adalah investasi keabadian.
3. Membentuk Generasi yang Mengenal Allah
Mendidik keluarga agar mencintai Allah adalah warisan terbesar.
IV. Kritik Peradaban Modern: Manusia yang Takut Kehilangan Dunia, Tetapi Tidak Takut Kehilangan Allah
Tragedi terbesar manusia modern bukan kematian, tetapi kehilangan makna hidup.
Manusia modern takut kehilangan:
Jabatan
Harta
Popularitas
Tetapi tidak takut kehilangan Allah.
Padahal Allah berfirman: “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Peradaban modern mengajarkan manusia untuk mempersiapkan masa pensiun, tetapi tidak mengajarkan mempersiapkan kematian.
Inilah krisis spiritual terbesar umat manusia.
V. Enam Bulan yang Menentukan Keabadian
Enam bulan terakhir kehidupan harus menjadi:
Momentum taubat total
Momentum memperbaiki hubungan dengan Allah
Momentum melayani umat
Momentum meninggalkan warisan abadi
Karena keberhasilan hidup bukan diukur dari lamanya hidup, tetapi dari kualitas akhir kehidupan.
Imam Al-Ghazali berkata: “Nilai seorang hamba ditentukan oleh akhir kehidupannya.”
Penutup: Kembali dengan Kehormatan
Tujuan akhir kehidupan bukanlah sukses dunia, tetapi kembali kepada Allah dengan kehormatan.
Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)
Jika enam bulan terakhir dipenuhi dengan:
Taubat
Dzikir
Dakwah
Ilmu
Cinta kepada Allah
Maka kematian bukanlah tragedi, tetapi pertemuan agung dengan Sang Kekasih.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan:
Berapa lama engkau hidup?
Tetapi: Apakah engkau hidup untuk Allah?
Dr. Nasrul Syarif M.Si.
(Penulis dan Akademisi Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)