Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dunia sebagai Jembatan, Zikir sebagai Cahaya: Membaca Ulang Nasihat Ibnu Athaillah di Tengah Krisis Peradaban

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:25 WIB Last Updated 2026-02-18T02:25:29Z
TintaSiyasi.id -- Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang mengagungkan materi dan prestasi duniawi, nasihat agung dari Ibnu Athaillah al-Sakandari terasa seperti oase di padang gersang:
“Pergunakanlah dunia sebagai sarana untuk sampai ke akhirat. Perbanyaklah dzikir agar cahaya Tuhan turun padamu.”
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung revolusi cara pandang terhadap kehidupan. Ia bukan sekadar ajakan zuhud, tetapi strategi keselamatan.

I. Dunia: Sarana atau Tujuan?

Persoalan utama manusia modern bukan kurangnya fasilitas, tetapi salahnya orientasi.
Dunia yang seharusnya menjadi kendaraan, berubah menjadi tujuan.
Dunia yang mestinya alat, menjadi tuhan.

Padahal Allah telah mengingatkan:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَاۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ  
“ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” 
(QS. Al-Qashash: 77).

Ayat ini menempatkan dunia dalam posisi subordinat. Dunia penting, tetapi bukan yang utama. Ia ladang, bukan panen. Ia perjalanan, bukan tujuan.

Ibnu Athaillah melihat dengan jernih: keterikatan pada dunia adalah sumber hijab antara hamba dan Tuhannya.

Bukan hartanya yang salah.
Bukan jabatannya yang tercela.
Tetapi ketika hati menggantung padanya.

Seorang pedagang bisa lebih zuhud daripada seorang fakir.
Karena zuhud bukan soal meninggalkan dunia, tetapi menanggalkan ketergantungan hati padanya.

II. Dzikir: Energi Cahaya yang Menghidupkan Jiwa

Bagian kedua dari nasihat itu jauh lebih dalam:
“Perbanyaklah dzikir agar cahaya Tuhan turun padamu.”
Peradaban modern mengandalkan listrik untuk menerangi kota.
Tetapi siapa yang menerangi hati?

Dzikir adalah energi ruhani.
Ia bukan sekadar pengulangan lafaz, tetapi kesadaran total akan kehadiran Allah.

Allah berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Dan:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا  
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”
(QS. Al-Ahzab: 41)

Dalam perspektif tasawuf, cahaya (nur) adalah simbol ma’rifah—kejernihan hati dalam melihat kebenaran.

Ketika cahaya itu turun:
• Hati menjadi tenang.
• Nafsu melemah.
• Dunia mengecil.
• Akhirat membesar.
Tanpa dzikir, manusia mudah cemas.
Dengan dzikir, badai hidup terasa ringan.

III. Kritik Peradaban: Dunia Tanpa Cahaya

Krisis terbesar zaman ini bukan krisis ekonomi.
Bukan pula krisis politik.
Ia adalah krisis makna.
Manusia sukses tetapi kosong.
Banyak koneksi tetapi sepi.
Banyak informasi tetapi miskin hikmah.

Ketika dzikir ditinggalkan, hati menjadi keras.
Ketika dunia dijadikan tujuan, akhirat terlupakan.
Ibnu Athaillah seakan sedang menegur zaman kita.
Peradaban tanpa dzikir akan melahirkan manusia tanpa arah.
Kemajuan tanpa cahaya akan menghasilkan kehancuran yang elegan.

IV. Dunia di Tangan, Allah di Hati

Tasawuf bukan anti-dunia.
Ia hanya ingin menempatkan dunia pada posisi yang tepat.
Dunia di tangan, bukan di hati.
Allah di hati, bukan sekadar di lisan.

Orang yang hatinya diterangi dzikir akan bekerja lebih profesional, karena ia merasa diawasi.

Ia lebih jujur, karena sadar akan hisab.
Ia lebih sabar, karena yakin akan balasan.
Inilah spiritualitas yang produktif.
Bukan pelarian, tetapi pencerahan.

V. Strategi Ruhani di Tengah Zaman Materialistik

Bagaimana mengamalkan nasihat Ibnu Athaillah?
1. Luruskan niat setiap aktivitas dunia sebagai ibadah.
2. Perbanyak istighfar—karena dosa adalah kegelapan.
3. Jaga dzikir pagi dan petang.
4. Biasakan tafakur sebelum tidur.
5. Perbanyak membaca Al-Qur’an sebagai sumber cahaya.
Ingat, cahaya tidak turun pada hati yang penuh kesombongan.
Ia turun pada hati yang tunduk.

Penutup: Jalan Pulang yang Terang

Wahai jiwa yang lelah mengejar dunia,
Mengapa engkau mencari cahaya di tempat yang gelap?

Dunia hanyalah bayangan. Akhirat adalah kenyataan. Gunakan dunia sebagai tangga menuju Allah. Basahi lisanmu dengan zikir. Hidupkan hatimu dengan kesadaran Ilahi. Karena ketika cahaya Tuhan turun,
Engkau tidak lagi takut kehilangan dunia—
sebab engkau telah menemukan Yang Maha Memiliki. Dan itulah kebebasan sejati.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update