TintaSiyasi.id -- Di tengah zaman yang gaduh oleh ambisi, hiruk oleh kekuasaan, dan bising oleh kepentingan dunia, dakwah Islam kerap kehilangan ruhnya. Banyak suara lantang, tetapi miskin makna. Banyak seruan perjuangan, namun hampa dari cahaya iman. Padahal, dakwah sejati bukanlah sekadar aktivitas lisan atau simbol perjuangan, melainkan jalan panjang penyucian jiwa, pencerahan akal, dan penghambaan total kepada Allah SWT.
Rasulullah ﷺ telah meletakkan fondasi dakwah ini dengan kokoh melalui sabda-sabda beliau yang diriwayatkan secara shahih oleh Imam al-Bukhari. Hadits-hadits ini bukan sekadar teks normatif, melainkan peta ideologis dan suluk ruhani bagi setiap pejuang dakwah di sepanjang zaman.
Jihad Dimulai dari Disiplin Ruhani.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ:
الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا
قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ:
بِرُّ الْوَالِدَيْنِ
قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ:
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
(HR. al-Bukhari)
Dari Abdullah bin Mas‘ud r.a. berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.”
Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?”
Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
Ketika Abdullah bin Mas‘ud r.a. bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amal yang paling dicintai Allah, jawaban beliau bukanlah retorika heroik, melainkan penegasan fondasi ruhani:
“Salat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, kemudian jihad di jalan Allah.”
(HR. al-Bukhari)
Hadits ini menampar kesadaran kita: jihad bukanlah langkah pertama, melainkan puncak dari kematangan spiritual. Perjuangan Islam tidak lahir dari jiwa yang lalai terhadap shalat, kering dari adab, dan kasar dalam relasi sosial.
Dalam perspektif sufistik, shalat adalah mi‘raj ruhani harian, tempat jiwa dibersihkan dari ambisi dunia. Birrul walidain adalah latihan kerendahan hati, sebab siapa yang tidak tunduk kepada orang tuanya, niscaya sulit tunduk kepada Tuhannya. Maka jihad hadir sebagai buah, bukan sebagai slogan.
Dakwah adalah Amanah Cahaya, Bukan Monopoli Elite
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. al-Bukhari)
Hadits ini meruntuhkan tembok eksklusivisme dakwah. Dakwah bukan milik segelintir elite mimbar, melainkan tanggung jawab ideologis setiap Muslim. Siapa pun yang telah disentuh cahaya kebenaran, ia memikul amanah untuk menyalakannya bagi yang lain.
Dalam kaca mata tasawuf, ilmu adalah nur. Dan sifat cahaya adalah menyinari, bukan disembunyikan. Barang siapa menyimpan cahaya hanya untuk dirinya, maka ia akan padam oleh ego. Tetapi siapa yang membagikannya dengan ikhlas, Allah akan menambahkannya tanpa batas.
Di era digital hari ini, satu ayat yang disampaikan dengan niat lurus bisa menjadi jalan hidayah bagi ribuan jiwa yang tersesat dalam gelapnya zaman.
Ilmu adalah Tanda Cinta Allah kepada Seorang Pejuang
Rasulullah ﷺ menegaskan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَنْ يَرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
(HR. al-Bukhari)
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. al-Bukhari)
Hadits ini menempatkan ilmu sebagai indikator kasih sayang Ilahi. Perjuangan tanpa ilmu melahirkan kebrutalan. Semangat tanpa pemahaman melahirkan fanatisme buta. Maka dakwah yang mencerahkan adalah dakwah yang menyatukan kejernihan akal dan kelembutan hati.
Para sufi menyebut pemahaman agama sebagai basirah—mata hati yang melihat kebenaran bukan hanya dengan logika, tetapi dengan cahaya iman. Inilah bekal utama para dai ideologis: tegas dalam prinsip, lembut dalam pendekatan, dan jernih dalam berpikir.
Ikhlas: Ruh yang Menghidupkan Seluruh Perjuangan
Semua amal, semua dakwah, semua jihad, pada akhirnya bermuara pada satu kunci:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ikhlas adalah ruh dari seluruh gerak perjuangan Islam. Tanpa ikhlas, dakwah berubah menjadi panggung pencitraan. Jihad berubah menjadi kendaraan ambisi. Ilmu berubah menjadi alat dominasi.
Dalam tradisi sufistik, ikhlas disebut sebagai rahasia antara hamba
dan Tuhannya. Tidak diketahui malaikat, tidak dicatat dengan angka, tetapi ditimbang dengan cahaya. Amal yang kecil dengan niat yang lurus lebih berat di sisi Allah daripada amal besar yang tercemar kepentingan dunia.
Penutup: Menjadi Dai di Jalan Cahaya
Dakwah ideologis yang mencerahkan bukanlah dakwah yang penuh amarah, melainkan dakwah yang melahirkan kesadaran. Bukan dakwah yang memecah umat, tetapi dakwah yang membangun peradaban ruhani.
Perjuangan tanpa iman akan runtuh oleh dunia.
Dakwah tanpa ikhlas akan mati di lisan.
Jihad tanpa ilmu akan berubah menjadi fitnah.
Maka jadilah dai yang berdiri di atas shalat, berjalan dengan ilmu, bergerak dengan ikhlas, dan berjuang dengan cinta. Karena hanya dengan cara itulah dakwah Islam akan kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan sekadar gema tanpa cahaya.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari pejuang-pejuang dakwah yang tercerahkan akalnya dan disucikan hatinya. Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)