TintaSiyasi.id -- Sebuah Otokritik Peradaban Menuju Kebangkitan Bangsa.
(Refleksi Ideologis-Transformatif) Pendahuluan: Pendidikan di Persimpangan Jalan
Indonesia sedang berada di titik krusial. Gedung sekolah berdiri megah, kurikulum silih berganti, digitalisasi digencarkan, tetapi satu pertanyaan mendasar belum terjawab:
Apakah pendidikan kita benar-benar sedang membangun manusia atau sekadar memproduksi tenaga kerja?
Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan bertanggung jawab. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya jarak antara idealitas normatif dan praktik sistemik.
Di sinilah akar krisis itu bermula.
1. Krisis Paradigma: Pendidikan Tanpa Jiwa
Masalah terbesar pendidikan Indonesia bukan pada teknis, melainkan pada paradigma.
Kita mengadopsi sistem global yang menekankan:
Standarisasi nilai
Kompetisi angka
Ranking dan akreditasi
Namun, melupakan pembentukan jiwa.
Padahal, tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”
Hari ini, pendidikan lebih banyak menekan daripada menuntun. Lebih banyak mengukur daripada membimbing.
Akibatnya lahirlah generasi:
Pintar, tetapi rapuh
Cerdas, tetapi gelisah
Berprestasi, tetapi kehilangan arah
2. Sekularisasi Ilmu: Terpisahnya Pengetahuan dan Moralitas
Krisis pendidikan juga berakar dari pemisahan antara ilmu dan nilai.
Ilmu dianggap netral.
Moral dianggap urusan pribadi.
Agama ditempatkan di ruang ritual, bukan sistem nilai kehidupan.
Dampaknya:
Korupsi dilakukan oleh orang berpendidikan tinggi.
Manipulasi dilakukan oleh lulusan universitas ternama.
Kejahatan intelektual meningkat.
Artinya apa?
Ada kegagalan integrasi antara kecerdasan intelektual dan kesadaran etis.
3. Komersialisasi Pendidikan: Ilmu Menjadi Komoditas
Pendidikan berubah menjadi industri.
Sekolah unggulan berlomba dalam:
Branding
Fasilitas mewah
Label internasional
Sementara di desa-desa terpencil, anak-anak masih belajar dengan keterbatasan.
Ketimpangan ini menciptakan dualisme kualitas:
Pendidikan elite
Pendidikan marginal
Padahal pendidikan seharusnya menjadi instrumen keadilan sosial.
4. Degradasi Peran Guru: Dari Murabbi ke Administrator
Guru adalah jantung pendidikan. Namun, sistem sering memperlakukan guru sebagai:
Pengisi administrasi
Pelaksana teknis kurikulum
Target pencapaian angka
Padahal guru adalah:
Pendidik jiwa
Penanam nilai
Pembentuk karakter
Ketika guru kehilangan kemuliaannya, pendidikan kehilangan ruhnya.
5. Kurikulum yang Fluktuatif: Ganti Sistem, Tanpa Ganti Arah
Kita menyaksikan perubahan kurikulum yang cepat:
Dari KTSP
Ke Kurikulum 2013
Hingga Kurikulum Merdeka
Namun pertanyaan filosofisnya tetap sama: Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk?
Tanpa fondasi ideologis yang kokoh, perubahan hanya bersifat administratif, bukan transformasional.
6. Krisis Keteladanan dan Budaya
Anak-anak hari ini hidup dalam dunia digital yang tanpa batas. Media sosial lebih berpengaruh daripada ruang kelas.
Jika sekolah tidak menghadirkan:
Keteladanan moral
Ketegasan nilai
Budaya literasi
Maka, pendidikan akan kalah oleh algoritma.
Akar Terdalam: Krisis Peradaban
Jika ditarik lebih dalam, krisis pendidikan Indonesia adalah cerminan krisis peradaban:
Orientasi materialisme mengalahkan idealisme.
Gelar lebih dihargai daripada integritas.
Prestasi lebih dipuja daripada akhlak.
Kita membangun gedung, tetapi lupa membangun jiwa. Kita memperbaiki sistem, tetapi lupa memperbaiki niat.
Jalan Kebangkitan: Pendidikan Berbasis Peradaban
Solusi pendidikan Indonesia tidak cukup dengan regulasi teknis. Ia membutuhkan revolusi paradigma.
1. Reintegrasi Ilmu dan Nilai
Ilmu harus melahirkan kesadaran moral.
2. Penguatan Pendidikan Karakter
Bukan sekadar slogan, tetapi sistem budaya sekolah.
3. Memuliakan Guru
Pelatihan berkelanjutan, kesejahteraan layak, dan otonomi pedagogik.
4. Konsistensi Kebijakan Jangka Panjang
Pendidikan tidak boleh menjadi eksperimen politik lima tahunan.
5. Digitalisasi Berbasis Etika
Teknologi harus menjadi alat pembangun karakter, bukan perusak moral.
Penutup: Membangun Manusia, Bukan Sekadar Lulusan
Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu. Ia adalah proses transformasi jiwa.
Jika pendidikan hanya menghasilkan tenaga kerja, maka kita akan memiliki ekonomi yang kuat tetapi masyarakat yang rapuh.
Namun, jika pendidikan melahirkan manusia beradab, berintegritas, dan beriman, maka Indonesia bukan hanya akan maju, tetapi akan bermartabat.
Krisis pendidikan bukan akhir cerita. Ia adalah panggilan kebangkitan.
Dan kebangkitan itu dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita ingin mencetak generasi sukses atau generasi yang bermakna?
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa