TintaSiyasi.id -- Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Dr. Ahmad Sastra MM., mengungkapkan bahwa banyak pengamat menilai tindakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donal Trump di Venezuela dan Greenland merupakan manifestasi dari imperialisme melalui tangan militer.
"Dalam konteks modern, banyak pengamat melihat tindakan AS di Greenland dan Venezuela sebagai manifestasi baru dari imperialisme, bukan dalam bentuk kolonialisme tradisional, tetapi melalui campur tangan militer dan tekanan politik yang asertif," ungkapnya dikutip TintaSiyasi, Kamis (15/1/2026).
Kritikus seperti sejarawan dan pengamat politik menyatakan bahwa kebijakan semacam ini bisa memperkuat stereotip dominasi budaya dan politik Barat terhadap negara lain, khususnya negara berkembang. Munculnya istilah-istilah seperti “Donroe Doctrine” oleh media pro-Trump sendiri menunjukkan bahwa interpretasi ideologi kekuatan AS terus bergeser menuju dominasi yang lebih tegas di arena global.
"Jadi opini bahwa Amerika sebagai kampiun demokrasi runtuh seketika, sebab yang dipertontonkan amerika justru arogansi dan kepongahan melanggar aturan dan kesepakatan internasional," tambahnya.
Dalam diskursus keislaman kontemporer, kata Ahmad, dominasi dan penjajahan memiliki arti penting dalam kajian etika politik dan sejarah umat Islam. Banyak sarjana Muslim menilai bahwa dominasi kekuatan besar, termasuk AS, telah berdampak signifikan terhadap negara-negara Muslim, baik melalui intervensi langsung maupun dukungan terhadap rezim yang pro-Barat.
"Dalam konteks ini, gagasan tentang pembentukan kekhalifahan sering dikutip oleh kalangan tertentu sebagai bentuk kepemimpinan yang berbeda: bukan dominasi militer atau ekonomi yang agresif, tetapi kepemimpinan moral dan spiritual yang diharapkan bisa menolak hegemoni kekuatan besar seperti AS. Namun, dalam tataran akademik dan kebijakan publik, gagasan tersebut sering diperdebatkan karena kompleksitas tantangan global, termasuk pluralisme, hak asasi, dan sistem internasional saat ini," paparnya.
Ia menjelaskan, kebijakan luar negeri AS terkait Greenland dan Venezuela pada awal 2026 mencerminkan tantangan besar dalam tata dunia pasca-Perang Dingin. Ketegangan antara kedaulatan nasional, keamanan global, dan dominasi kekuatan besar memperlihatkan bagaimana kekuatan besar masih memegang peran kunci dalam membentuk dinamika geopolitik.
Sehingga, diskusi tentang imperialisme modern tidak hanya relevan untuk sejarawan atau akademisi, tetapi juga bagi pembuat kebijakan, pengamat internasional, dan masyarakat luas yang ingin memahami arah masa depan.
"Apakah dunia menuju pembaruan tatanan global yang lebih adil dan sama derajatnya, atau apakah dominasi kekuatan besar akan terus membentuk nasib bangsa lain? Pertanyaan ini tetap menjadi pusat debat global saat kita memasuki dekade berikutnya," pungkasnya.[] Alfia