(Refleksi Dakwah Islam di Masa Ketiadaan Khalifah)
Pendahuluan: Dakwah Tidak Pernah Kosong Arah
TintaSiyasi.id -- Dakwah Islam bukanlah aktivitas spontan tanpa peta. Ia bukan sekadar seruan emosional, apalagi rutinitas seremonial yang kehilangan ruh dan orientasi. Dakwah adalah proyek besar peradaban, yang Allah sendiri desain melalui risalah para Nabi dan Rasul, dan mencapai kesempurnaannya pada diri Rasulullah ﷺ.
Sejarah mencatat, Rasulullah ﷺ memulai dakwahnya dalam kondisi umat yang terpecah, tanpa kepemimpinan Islam, tanpa negara, tanpa kekuasaan, bahkan dalam tekanan dan intimidasi yang luar biasa. Namun justru dari fase inilah kita belajar bahwa ketiadaan kekuasaan bukan alasan untuk kehilangan visi perjuangan.
Di sinilah pentingnya memahami Thariqah Dakwah Rasulullah ﷺ—bukan sekadar apa yang beliau sampaikan, tetapi bagaimana dan untuk apa dakwah itu dijalankan.
Islam: Agama yang Mengatur Kehidupan, Bukan Sekadar Ritual
Islam tidak pernah hadir sebagai agama yang memisahkan masjid dari kehidupan. Islam datang membawa aqidah, syariat, dan sistem nilai yang mengatur:
• hubungan manusia dengan Allah
• hubungan manusia dengan sesama
• hubungan manusia dengan kehidupan dan kekuasaan
Allah ﷻ berfirman:
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl: 89)
Maka dakwah Islam tidak boleh direduksi hanya menjadi ceramah motivasi personal, sementara realitas kezaliman sistemik dibiarkan tanpa kesadaran kritis umat.
Dua Pilar Utama Dakwah Rasulullah ﷺ
Ketika tidak ada seorang Khalifah bagi kaum Muslimin, dakwah Islam—sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ—mencakup dua bagian besar yang tidak boleh dipisahkan.
Pertama: Dakwah Mengajak Manusia Memeluk Islam
(Membangun Aqidah, Kesadaran, dan Kepribadian Islam)
Fase awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah adalah fase pembangunan manusia. Bukan pembangunan gedung, bukan pula perebutan jabatan, melainkan pembangunan iman dan cara pandang hidup.
Dakwah beliau berfokus pada:
• Tauhid yang murni
• Pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk
• Kesadaran bahwa hidup ini memiliki tujuan akhir: bertemu Allah
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An‘am: 162)
Rasulullah ﷺ menanamkan aqidah yang mengguncang struktur batin manusia, hingga lahir generasi yang:
• tidak tunduk pada tekanan
• tidak silau oleh kekuasaan
• tidak tergoda oleh kompromi batil
Refleksi penting:
Umat yang lemah hari ini bukan karena kekurangan masjid, tetapi karena kehilangan visi tauhid yang membebaskan.
Kedua: Dakwah untuk Melanjutkan Kehidupan Islam Secara Kaffah
(Membangun Kesadaran Sistem dan Tanggung Jawab Peradaban)
Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada pembinaan iman individual. Islam tidak diturunkan untuk dipraktikkan secara privat, tetapi untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).” (QS. Al-Baqarah: 208)
Karena itu Rasulullah ﷺ:
• mengkritik sistem jahiliyah
• membongkar kezaliman sosial
• menolak hukum buatan manusia yang bertentangan dengan wahyu
• mencari dukungan politik (thalabun nushrah) untuk melindungi dakwah
Semua itu dilakukan tanpa kekerasan, tanpa teror, tanpa pemaksaan, tetapi melalui:
• dakwah pemikiran
• pembentukan opini umum
• dialog terbuka
• keteladanan moral
Inilah dakwah yang mencerdaskan, bukan membius umat dengan spiritualitas semu.
Kesalahan Umat: Memisahkan Iman dari Sistem Kehidupan
Salah satu tragedi intelektual umat hari ini adalah memisahkan agama dari urusan publik, seolah Islam hanya urusan sajadah dan tasbih, bukan keadilan, hukum, dan kepemimpinan.
Akibatnya:
• lahir umat yang saleh tapi pasif
• rajin ibadah namun alergi terhadap kritik sistem
• cinta agama tapi takut membicarakan kezaliman struktural
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Ahmad)
Dakwah di Zaman Fitnah: Antara Hikmah dan Ketegasan
Dakwah hari ini menuntut keseimbangan antara hikmah dan ketegasan prinsip. Hikmah tanpa prinsip melahirkan kompromi, sementara ketegasan tanpa hikmah melahirkan kekerasan.
Rasulullah ﷺ adalah teladan keseimbangan itu:
• lembut dalam akhlak
• tegas dalam aqidah
• santun dalam dialog
• kokoh dalam prinsip
“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Refleksi Akhir: Dakwah adalah Amanah Sejarah
Dakwah bukan sekadar menyelamatkan individu, tetapi menyelamatkan arah sejarah umat. Dakwah bukan hanya soal pahala personal, tetapi tanggung jawab peradaban.
Ketika umat kehilangan pemimpin yang menyatukan:
• dakwah tidak boleh kehilangan orientasi
• dakwah tidak boleh berhenti pada ritual
• dakwah harus membangun kesadaran, kecerdasan, dan keberanian moral
Penutup: Menjadi Pewaris Dakwah Kenabian
Mari kita luruskan kembali niat dan metode dakwah kita. Jadikan dakwah sebagai:
• jalan taqarrub kepada Allah
• sarana mencerdaskan umat
• ikhtiar menghadirkan keadilan dan rahmat Islam
“Dan Allah akan menolong agama-Nya, meskipun dengan kaum yang tidak kalian sangka.” Semoga Allah menjadikan kita pewaris dakwah Rasulullah ﷺ, bukan sekadar pengagumnya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis 38 Judul Buku, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM, Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)