Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menjadi Luar Biasa pada Apa yang Ada dalam Kendali Kita: Jalan Kesadaran, Amanah, dan Keunggulan Ruhani

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:48 WIB Last Updated 2026-01-02T06:48:28Z
TintaSiyasi.id — Salah satu sumber kegelisahan terbesar manusia adalah salah fokus dalam menjalani hidup. Kita terlalu sibuk memikirkan hasil yang belum tentu, cemas terhadap penilaian manusia, dan gelisah terhadap masa depan yang belum terjadi. Energi jiwa terkuras untuk hal-hal yang berada di luar kendali, sementara amanah yang sesungguhnya Allah titipkan justru sering terabaikan.

Padahal Islam mengajarkan sebuah prinsip agung: Allah tidak menuntut manusia menguasai segalanya, tetapi menyempurnakan apa yang berada dalam kendalinya. Di sinilah letak rahasia ketenangan dan keunggulan orang-orang beriman.

Memahami Batas Kendali: Antara Takdir dan Ikhtiar

Dalam pandangan Islam, kehidupan berjalan di atas dua poros besar: takdir dan ikhtiar.

Takdir mencakup segala sesuatu yang tidak bisa kita pilih: kelahiran, latar keluarga, ujian hidup, rezeki, bahkan waktu kematian. Sedangkan ikhtiar adalah wilayah yang Allah serahkan kepada manusia: niat, usaha, sikap, pilihan moral, dan ketekunan dalam proses. 

Kesalahan banyak manusia adalah ingin mengendalikan takdir, namun lalai menunaikan ikhtiar. Kita ingin hasil besar, tetapi enggan bersungguh-sungguh. Kita ingin perubahan cepat, tetapi enggan bersabar. Kita ingin sukses, tetapi mengabaikan disiplin dan kejujuran.

Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Ayat ini menegaskan bahwa tuntutan Allah selalu berada dalam wilayah kemampuan manusia, bukan pada hal-hal yang berada di luar kendali.

Apa yang Sepenuhnya Ada dalam Kendali Kita

Jika kita jujur bermuhasabah, ada beberapa hal yang benar-benar berada dalam genggaman kita dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah:
1. Niat
Kita tidak mengendalikan hasil, tetapi kita mengendalikan keikhlasan niat.
Amal kecil dengan niat karena Allah bisa bernilai besar di sisi-Nya.
2. Kesungguhan Ikhtiar
Allah tidak menilai seberapa cepat kita berhasil, tetapi seberapa jujur dan sungguh-sungguh kita berusaha.
3. Akhlak dan Sikap
Kita bisa memilih jujur di tengah godaan, sabar di tengah ujian, dan adil di tengah kepentingan.
4. Respon terhadap Keadaan
Kita tidak mengendalikan peristiwa, tetapi kita mengendalikan cara menyikapinya.
5. Istiqamah
Sedikit tetapi konsisten lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi terputus.
Di sinilah ladang keunggulan sejati itu berada.

Keunggulan Menurut Islam: Amanah, Bukan Popularitas

Islam tidak mengajarkan umatnya mengejar kehebatan di mata manusia. Islam mengajarkan kesempurnaan amanah. Seorang hamba menjadi luar biasa bukan karena dikenal banyak orang, tetapi karena jujur dan bertanggung jawab dalam perannya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakannya.” (HR. al-Baihaqi)

Menyempurnakan di sini bukan berarti tanpa salah, tetapi bersungguh-sungguh, profesional, dan bertakwa.

Perspektif Sufistik: Melakukan yang Kecil dengan Jiwa yang Besar

Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa nilai amal bukan pada besarnya pekerjaan, tetapi pada hidupnya hati saat mengerjakannya. Satu amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran bisa lebih bernilai daripada seribu amal tanpa ruh.

Menjadi luar biasa berarti:
• melakukan hal biasa dengan niat ibadah,
• mengerjakan tugas kecil seolah itu amanah besar,
• tetap berbuat baik meski tidak dilihat manusia.

Ibnu ‘Athaillah رحمه الله berkata:
“Amal itu tegak dengan keikhlasan, bukan dengan banyaknya perbuatan.”

Menghentikan Kegelisahan dengan Menguasai Diri

Banyak kegelisahan muncul karena manusia ingin mengendalikan sesuatu yang bukan miliknya: hasil, pengakuan, pujian, dan masa depan.

Orang beriman menenangkan dirinya dengan berkata: “Aku bertanggung jawab atas niat dan ikhtiarku, bukan atas hasilnya.”

Ketika fokus berpindah dari hasil kepada amanah, jiwa menjadi lapang, dan Allah pun mencukupkan.

Allah berfirman: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. ath-Thalaq: 3)

Menjadi Luar Biasa di Sisi Allah
Keunggulan sejati bukanlah menjadi yang paling terkenal, tetapi menjadi yang paling bertakwa. Bukan yang paling cepat berhasil, tetapi yang paling istiqamah di jalan kebenaran.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13)

Takwa itulah puncak penguasaan diri—
mengendalikan niat, sikap, dan amal agar selalu berada dalam ridha Allah.

Penutup: Keunggulan yang Membebaskan Jiwa

Menjadi luar biasa tidak harus menunggu keadaan ideal.
Tidak harus menunggu pengakuan manusia.
Tidak harus menunggu segalanya sempurna.

Mulailah dari:
• apa yang ada dalam kendalimu hari ini,
• apa yang bisa engkau kerjakan dengan jujur,
• dan apa yang bisa engkau niatkan karena Allah.

Sempurnakan ikhtiarmu. Serahkan hasil kepada Allah. Karena ketika seorang hamba jujur dalam usaha dan niatnya, Allah akan menjadikannya luar biasa dengan cara-Nya sendiri—cara yang menenangkan hati, mengangkat derajat, dan menerangi jalan hidup di dunia dan akhirat.


Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis 38 Judul Buku. Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM, Coach Pengusaha Hijrah)

Opini

×
Berita Terbaru Update