Refleksi Ruhani Menyongsong Tamu Agung
TintaSiyasi.id -- Ramadhan tidak pernah datang sebagai bulan biasa. Ia hadir sebagai tamu agung, membawa cahaya, rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Maka orang-orang beriman yang arif tidak menunggu Ramadhan dengan kelalaian, tetapi menyambutnya dengan pemuliaan.
Memuliakan Ramadhan bukan sekadar menghias masjid atau menyiapkan jadwal ibadah. Memuliakan Ramadhan adalah memuliakan hati, sebab Ramadhan hanya singgah dengan penuh makna pada hati yang siap menerima.
Ramadhan: Bulan yang Dinanti Langit dan Bumi
Para salafush shalih menyambut Ramadhan jauh sebelum ia datang. Mereka berdoa berbulan-bulan sebelumnya:
“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”
Doa ini bukan sekadar permohonan umur panjang, tetapi permohonan agar diberi kelayakan ruhani untuk bertemu Ramadhan. Sebab tidak semua yang hidup, layak menikmati keberkahan Ramadhan.
Memuliakan Ramadhan Dimulai dari Niat
Segala sesuatu dimulai dari niat. Maka langkah pertama memuliakan Ramadhan adalah meluruskan niat:
• berpuasa bukan sekadar menahan lapar,
• shalat malam bukan sekadar menggugurkan kewajiban,
• tilawah bukan sekadar mengejar target.
Ramadhan adalah momentum mendekat, bukan sekadar momentum beramal.
Membersihkan Hati: Pintu Masuk Cahaya Ramadhan
Ramadhan adalah bulan cahaya. Namun cahaya tidak akan masuk ke hati yang tertutup:
• oleh dendam,
• oleh iri dan dengki,
• oleh kesombongan,
• oleh dosa yang dipelihara.
Menyambut Ramadhan berarti memaafkan sebelum meminta ampun, merendahkan hati sebelum meninggikan doa, dan menundukkan ego sebelum berharap rahmat.
Menyambut Ramadhan dengan Kesungguhan Amal
Rasulullah ﷺ menyambut Ramadhan dengan kesungguhan:
• memperbanyak puasa sunnah,
• memperbanyak doa,
• memperbanyak dzikir dan shalawat.
Ramadhan bukan bulan coba-coba, tetapi bulan puncak. Maka siapa yang ingin panen di Ramadhan, ia harus menanam di bulan-bulan sebelumnya.
Ramadhan: Bulan Pendidikan Jiwa
Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi pendidikan jiwa:
• puasa mendidik kejujuran,
• shalat malam mendidik kerendahan hati,
• sedekah mendidik kepedulian,
• tilawah mendidik ketundukan pada wahyu.
Ramadhan mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih manusiawi dan hamba yang lebih rabbani.
Memuliakan Ramadhan dengan Adab
Ramadhan memiliki adab:
• menjaga lisan,
• menjaga pandangan,
• menjaga hati,
• menjaga hubungan sosial.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala yang menjauhkan dari Allah.
Penutup: Jadilah Tuan Rumah yang Layak
Ramadhan adalah tamu mulia.
Tamu mulia hanya betah di rumah yang bersih.
Maka bersihkan rumah hati kita:
• dari kesibukan yang melalaikan,
• dari cinta dunia yang berlebihan,
• dari dosa yang dibiarkan.
Agar ketika Ramadhan datang, ia tidak hanya singgah, tetapi menetap dan mengubah kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memuliakan Ramadhan, menyambutnya dengan iman, menjalankannya dengan kesungguhan, dan keluar darinya dengan ampunan.
اللهم بلغنا رمضان، وبارك لنا فيه، وتقبله منا بقبول حسن
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo