TintaSiyasi.id -- Tafsir Hikmah QS. Ali ‘Imran (3): 18 Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi
Pendahuluan: Ketika Tauhid Menjadi Kesaksian Agung.
Di tengah dunia modern yang gaduh oleh relativisme kebenaran, krisis moral, dan pemujaan terhadap materi, Al-Qur’an menghadirkan satu ayat yang berdiri kokoh sebagai poros peradaban iman dan ilmu. Ayat itu bukan sekadar pernyataan akidah, melainkan deklarasi kosmik tentang kebenaran tauhid:
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan…” (QS. Ali ‘Imran: 18).
Imam Fakhruddin ar-Razi, seorang mufassir besar, filosof, dan teolog Islam menyebut ayat ini sebagai ayat tauhid paling rasional dalam Al-Qur’an. Ayat ini bukan hanya mengajak untuk beriman, tetapi mengajak untuk bersaksi.
Dan kesaksian ini bukan sembarang kesaksian. Ia disaksikan oleh:
Allah sendiri
para malaikat
dan orang-orang berilmu (ulul ‘ilmi)
Inilah ayat yang mengikat iman, ilmu, dan keadilan dalam satu tarikan nafas tauhid.
Allah Bersaksi atas Diri-Nya: Tauhid yang Terbukti, Bukan Dipaksakan
Imam ar-Razi menegaskan bahwa frasa “Syahida Allah” bukan bermakna kesaksian lisan sebagaimana makhluk. Kesaksian Allah adalah:
penampakan dalil-dalil yang tak terbantahkan melalui ciptaan-Nya.
Langit yang teratur, bumi yang seimbang, hukum sebab-akibat yang presisi, dan harmoni kosmos, semuanya adalah kesaksian diam, tetapi fasih bahwa Tuhan itu Esa.
Tauhid Islam bukan iman yang buta, tetapi iman yang tercerahkan oleh akal.
Oleh karena itu, semakin seseorang berpikir jernih, semakin dekat ia kepada tauhid. Sebaliknya, kebodohan sering kali menjadi pintu menuju kesyirikan, meskipun berbalut simbol-simbol religius.
Urutan Kesaksian: Allah, Malaikat, dan Ulul ‘Ilmi
Imam ar-Razi memberikan perhatian besar pada urutan dalam ayat ini. Allah tidak menyebut manusia biasa, tetapi orang-orang berilmu, dan bahkan menyandingkan mereka dengan malaikat.
Ini adalah pengangkatan derajat ulama dan intelektual beriman.
Maknanya sangat dalam:
Malaikat mengenal Allah tanpa syahwat
Ulul ‘ilmi mengenal Allah dengan perjuangan akal dan hati
Ilmu yang sejati adalah jalan kesaksian tauhid, bukan sekadar alat mencari dunia.
Maka, ulama sejati bukan hanya penceramah atau penghafal dalil, tetapi penjaga kesadaran tauhid umat. Ketika ulama diam dari kebenaran, rusaklah arah masyarakat.
Siapakah Ulul ‘Ilmi Menurut Imam ar-Razi?
Ar-Razi menolak pemahaman dangkal tentang ulul ‘ilmi. Mereka bukan sekadar orang yang banyak ibadah, tetapi:
Memahami dalil aqli dan naqli
Berpikir sistematis dan jernih
Tidak taqlid membabi buta
Menggunakan akal sebagai amanah Allah
Ilmu yang tidak mengantarkan pada tauhid adalah ilmu yang tersesat
Tauhid tanpa ilmu adalah keyakinan rapuh
Inilah sebab mengapa krisis umat hari ini bukan hanya krisis iman, tetapi krisis ilmu yang tercerahkan oleh iman.
Qāiman bil-Qisṭ: Tauhid yang Melahirkan Keadilan
Salah satu poin terpenting dalam tafsir ar-Razi adalah hubungan antara tauhid dan keadilan. Allah disifati sebagai “Qāiman bil-Qisṭ”, yakni tegak dalam keadilan.
Artinya:
Tauhid sejati pasti melahirkan keadilan
Syirik adalah kezaliman terbesar
Ketidakadilan sosial adalah tanda rusaknya tauhid
Tidak mungkin seseorang mengaku bertauhid tetapi menindas, korup, dan zalim.
Tauhid bukan hanya ibadah ritual, tetapi ideologi pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, termasuk penghambaan kepada kekuasaan, uang, dan ego.
Pengulangan Tauhid: Penegasan Setelah Argumentasi
Allah mengulang kalimat:
“Lā ilāha illā Huwa”
Menurut ar-Razi, pengulangan ini adalah:
Penegasan setelah pemaparan dalil
Penancapan keyakinan dalam hati
Penutupan ruang bagi syubhat
Dan ditutup dengan dua Asmaul Husna:
Al-‘Azīz (Mahaperkasa)
Al-Ḥakīm (Mahabijaksana)
Kekuasaan Allah tidak sewenang-wenang, dan hikmah-Nya tidak pernah sia-sia.
Hikmah Dakwah Kontemporer
Dari ayat ini, umat Islam hari ini harus belajar bahwa:
1. Dakwah tidak boleh anti-ilmu
2. Ilmu tidak boleh steril dari iman
3. Tauhid harus berdampak pada keadilan sosial
4. Ulama adalah penjaga nurani umat
5. Islam adalah agama akal dan nurani sekaligus
Jika umat Islam ingin bangkit, maka tauhid harus kembali menjadi kesadaran hidup, bukan hanya slogan.
Penutup: Menjadi Saksi Tauhid di Zaman Fitnah
QS. Ali ‘Imran ayat 18 adalah panggilan untuk menjadi saksi, bukan sekadar penonton. Menjadi saksi tauhid berarti:
Berpikir jernih
Beriman dengan sadar
Bersikap adil
Berani pada kebenaran
Tauhid bukan hanya di lisan, tetapi di pikiran, di sikap, dan di keberpihakan hidup.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ulul ‘ilmi yang ilmunya menuntun pada iman,
dan imannya melahirkan keadilan.
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah.
Dr Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo