Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Inilah Faktor Angka Pernikahan Menurun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:35 WIB Last Updated 2026-01-03T03:35:53Z

TintaSiyasi.id -- Pengamat Sosial Politik Ustaz Iwan Januar, menjelaskan faktor angka pernikahan menurun.

"Pertama, warning buat pemerintah, negara, karena menurunnya angka pernikahan ancaman sosial, ancaman secara populasi, ancaman kepada kehidupan berkelanjutan bangsa dan negara," ungkapnya dalam Kabar Petang, Takut Miskin Jadi Faktor Banyak Gen Z Takut Menikah?, di akun YouTube Khilafah News, Senin (22/12/2025).

Dia menjelaskan bahwa kalau (angka) pernikahan turun maka otomatis pertambahan populasi juga akan menurun, pada masa selanjutnya pada hitungan 10 atau mungkin 30 tahun ke depan ini menjadi ancaman untuk negeri.

Kedua, jika menikah ada komitmen. "Logikanya begini karena kalau nikah ada komitmen, komitmen memberikan nafkah, belum lagi kalau sebelum punya anak udah harus mikir cari rumah, memberikan makan, pakaian, sementara mereka berhitung dari satu pendapatan mereka yang mungkin menurut mereka itu tidak cukuplah untuk menyambung hidup dari bulan-bulan ya untuk ukuran mapan, mapan dalam pandangan mereka," jelasnya. 

"Kalau pacaran kan enggak ada komitmen apapun ya kalau orang pacaran mohon maaf ya sambil hubungan zina misalnya begitu apalagi enggak sampai hamil pacarnya kan mereka aman, enggak ada komitmen apapun, lagi pula zaman sekarang mereka lihat ternyata enggak sedikit loh perempuan yang mau diajak hubungan intim tanpa perlu komit menikah, pacaran sampai kemudian hubungan badan tanpa perlu komitmen nikah, yang perempuan juga sama mereka berpikir it’s oke kalau mau hubungan badan ya enggak apa-apa tetapi jangan sampai hamil, akhirnya berpikirnya bahwa kalau enggak nikah, pacaran dan pacar bisa memenuhi kebutuhan biologis mereka tanpa komitmen apapun," sambungnya. 

Sehingga, ia mengatakan, ada degradasi moral, ada ancaman terhadap kesehatan reproduksi yang terjadi tengah-tengah kalangan muda.

"Sudah diberikan data oleh banyak pihak termasuk para dokter yang bergerak di bidang penyakit kelamin, kandungan, bahwa ternyata tingkat penularan penyakit kelamin di tanah air di kalangan usia muda belasan sampai 20 tahunan sampai 31 cukup tinggi sekali, jadi ini enggak dipikiran panjang oleh para pelakunya, mereka menikah takut karena enggak bisa memberikan komitmen nafkah yang memadai dalam pandangan mereka, sementara mereka berpikir pacaran ajalah hidup bersama tanpa ada ikatan nikah, samen leven atau pacaran tetapi bisa melakukan apapun," cecarnya. 

Banyak kalangan muda berpikirnya praktis tanpa memandang bahwasany nanti jadi persoalan besar untuk kehidupan mereka di masa berikutnya. "Maksudnya ketika nanti mereka mau rumah tangga, masih banyak laki-laki atau perempuan yang mereka berpikir kalau saya sudah tidak gadis, perjaka malu dong kepada pasangan, nah ini memang akhirnya persoalan yang ternyata malah tidak diselesaikan secara tuntas solusinya tetapi malah menimbulkan masalah baru," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update