TintaSiyasi.id -- Hati manusia tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu bergerak, berdenyut, dan bertarung. Bukan bertarung dengan dunia di luar sana, tetapi dengan dunia yang tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Setiap detik, hati didatangi lintasan-lintasan halus—ada yang menuntun menuju cahaya, ada pula yang menyeret ke dalam gelap.
Di situlah hakikat ujian hidup manusia dimulai.
“Hidup bukan soal menang atau kalah di hadapan manusia, tetapi tentang siapa yang menang di medan batin.”
Hati: Medan Pertempuran yang Tak Pernah Sepi
Allah ﷻ berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
(QS. Asy-Syams: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa dua jalan itu selalu hadir bersamaan. Tidak ada manusia yang hanya diuji dengan kebaikan, dan tidak ada pula yang hanya digoda keburukan. Justru kemuliaan manusia terletak pada pilihan yang ia menangkan dalam hatinya.
Lintasan nafsu datang dengan suara lembut namun mematikan:
“Nikmati dulu, taubat nanti.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Ini hakmu, jangan terlalu keras pada diri sendiri.”
Sementara lintasan takwa hadir pelan, seringkali tidak memaksa, namun penuh cahaya:
“Allah melihatmu.”
“Apakah ini diridhai-Nya?”
“Akhirat lebih kekal.”
“Lintasan takwa tidak berteriak, tetapi mengetuk pelan pintu hati yang masih hidup.”
Nafsu Tidak Selalu Jahat, Tapi Selalu Ingin Menjadi Pemimpin
Dalam tasawuf, nafsu tidak selalu dimaknai sebagai musuh mutlak, tetapi bahaya ketika ia menjadi penguasa. Nafsu yang tidak ditundukkan akan:
• Membenarkan kesalahan
• Mengaburkan dosa
• Menghiasi keburukan
• Melemahkan tekad taubat
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
“Nafsu adalah seperti anak kecil. Jika dibiarkan, ia akan terus meminta. Jika dididik, ia akan patuh.”
Maka persoalannya bukan apakah kita punya nafsu atau tidak, tetapi siapa yang memimpin hati: nafsu atau takwa.
Hati yang Masih Bertarung Adalah Hati yang Sehat
Jangan bersedih jika Anda masih merasakan konflik batin. Jangan putus asa jika hati terasa berat meninggalkan dosa. Karena hati yang benar-benar mati tidak lagi merasa bersalah.
“Kegelisahan orang beriman adalah tanda bahwa cahaya iman masih menyala.”
Yang patut ditakuti bukan lintasan dosa,
tetapi kenyamanan dalam dosa. Bukan godaan maksiat, tetapi hilangnya rasa malu kepada Allah.
Siapa yang Akan Menang di Akhirnya?
Hati akan condong ke arah yang paling sering ia beri makan.
• Dzikir menguatkan takwa
• Ilmu menerangi hati
• Maksiat mengeraskan jiwa
• Lalai memperlemah iman
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Hati tidak rusak karena dosa yang besar, tetapi karena dosa kecil yang diremehkan dan diulang.”
Jalan Menenangkan Hati yang Bertarung
Para arif billah mengajarkan tiga kunci utama:
1. Muraqabah – merasa diawasi Allah setiap saat
2. Muhasabah – jujur mengoreksi diri
3. Mujahadah – konsisten melawan nafsu meski berat
Ibnu Athaillah berkata:
“Barangsiapa tidak melawan nafsunya di awal, ia akan diperbudak olehnya di akhir.”
Penutup: Jangan Menyerah pada Pertarungan Ini
Wahai jiwa yang lelah, jangan menyerah hanya karena hari ini engkau kalah. Selama engkau masih ingin kembali, pintu Allah belum tertutup.
“Allah tidak menuntut kita sempurna, tetapi menuntut kita terus kembali.”
Mari kita tutup dengan doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Semoga Allah ﷻ menjadikan hati kita medan kemenangan takwa,
bukan singgasana nafsu.
Aamiin.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis 38 Judul Buku. Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM, Coach Pengusaha Hijrah)