Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Guru Tak Dimuliakan, Murid Tak Dibina: Inikah Buah dari Pendidikan Sekuler Niradab?

Sabtu, 24 Januari 2026 | 12:15 WIB Last Updated 2026-01-24T05:15:20Z

TintaSiyasi.id -- Dilansir dari detiknews (17-1-2026), seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra adu jotos dengan siswanya hingga video yang memuat aksi mereka viral di media sosial. Tak berhenti di situ, Agus Saputra melaporkan adu jotos itu ke Polda Jambi sebagai penganiayaan. 

Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada guru tersebut, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas saat belajar. Sementara itu, di sisi lain sejumlah siswa mengaku Agus telah menghina salah satu murid dengan perkataan 'miskin' yang memicu keributan tersebut.

Akademisi dari UIN Sultan Thaha Saefuddin, Junaidi Habe mengatakan dalam perspektif sosiologi, tindakan verbal yang kasar terhadap guru merupakan bentuk anomali sosial. Situasi ketika norma dan nilai sosial kehilangan daya ikatnya. Aturan hanya hadir sebagai formalitas administratif tanpa legitimasi moral. Sekolah tetap berjalan secara struktural, namun gagal menjalankan fungsinya sebagai institusi moral. (Kompas, 18-1-2026)

Kondisi ini tidak bisa lepas dari sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini. Sebenarnya telah lama kurikulum berbasis sekuler kapitalistik telah gagal mencetak generasi unggul, baik dari segi karakter maupun akademis. 

Bagaimana sistem pendidikan sekuler kapitalistik membentuk relasi guru dan murid yang nir adab?
Apa dampak penerapan pendidikan sekuler kapitalistik terhadap krisis moral di sekolah?
Bagaimana konsep pendidikan Islam dapat menjadi solusi sistemik untuk memulihkan kemuliaan guru dan membina murid secara menyeluruh?


Niradab: Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik Gagal Membentuk Relasi Guru dan Murid

Sistem sekuler kapitalistik yang melingkupi dunia hari ini telah mewarnai seluruh lini kehidupan. Fondasinya yang rapuh seakan telah menjadi bom waktu untuk meruntuhkan peradabannya setiap saat. Kerusakan demi kerusakan di seluruh lini kehidupan menjadi bukti tidak terbantahkan kegagalan sistem ini. Begitu pula dalam sistem pendidikan juga telah menampakkan kerusakan yang makin parah.

Keberadaan sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah memisahkan agama dari perannya mengatur kehidupan, termasuk dari tujuan pendidikan. Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia beriman dan berakhlak, melainkan manusia yang siap menjadi pelayan-pelayan kapitalis.

Landasan pendidikan sekularisme telah mengaburkan nilai-nilai Islam seperti adab, takzim kepada guru, dan pembinaan ruhiyah. Tentu saja dalam sistem ini, Islam tidak mungkin dijadikan fondasi, melainkan sekadar pelengkap atau bahkan dihilangkan. Inilah yang menjadikan pendidikan telah kehilangan ruhnya, hanya menyentuh aspek kognitif dan keterampilan teknis demi memenuhi tuntutan kebutuhan ekonomi.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik inilah yang menjadikan tujuan pendidikan bergeser, dari pembinaan untuk mencetak generasi unggul yang berkepribadian Islam beralih menjadi sekadar produksi SDM demi pemuasan kebutuhan kapitalis. Mengikuti logika kapitalisme, telah memposisikan sekolah sebagai "pabrik SDM", sehingga tolok ukur keberhasilan pendidikan berdasarkan nilai akademik, kelulusan, sertifikat, dan daya saing pasar kerja. Relasi guru dan murid berubah menjadi relasi transaksional, guru menyampaikan ilmu dan murid sebagai objek layanan.

Inilah yang akhirnya mengaburkan, bahkan menghilangkan konsep adab dalam relasi guru dan murid. Tak lagi ada guru sebagai figur teladan yang patut dimuliakan. Begitu pula murid, tidak dibina untuk menghormati dan taat kepada guru serta mengambil teladan darinya. Pertikaian guru dan murid di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi ini hanya satu contoh kegagalan sistem pendidikan sekuler kapitalistik. Nir adab relasi guru dan murid bukan semata kesalahan personal, tetapi akibat sistem yang tidak mampu menopang kemuliaan peran mereka.

Pendidikan sekuler kapitalistik telah memfragmentasi pembinaan murid. Di sekolah murid dibina secara parsial, hanya demi mengejar nilai akademik. Sedangkan akhlak dan ruhiyah diserahkan kepada keluarga. Maka wajar yang terlahir adalah insan cerdas tapi hilang nilai, kaya generasi kritis tapi miskin adab, punya sikap berani tapi tak punya kontrol moral. Hilangnya pembinaan murid secara utuh menyebabkan penyimpangan sikap dan perilaku. Sehingga kondisi ini melahirkan adanya realitas guru menghina murid dan murid mengkeroyok guru. 

Dunia pendidikan di bawah sistem sekuler kapitalistik telah kehilangan guru sebagai figur teladan, begitu pula murid telah hilang adab. Kondisi ini mengubah sekolah menjadi ruang konflik bukan ruang pembinaan. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik gagal membentuk relasi guru dan murid, sehingga kehilangan nilai adab. Niradab adalah buah dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik.


Dampak Penerapan Pendidikan Sekuler Kapitalistik terhadap Krisis Moral di Sekolah

Konsekuensi logis dari penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah membawa pada kondisi krisis moral. Adanya kasus adu jotos antara guru dan murid bukan sekadar kasus insidental, tapi bagian dari dampak sistemik. Beberapa dampak sistemik dari pendidikan sekuler kapitalistik di antaranya:

Pertama, normalisasi kekerasan dan konflik di lingkungan sekolah. 
 
Pendidikan sekuler kapitalistik menjadikan sekuler sebagai dasar akidahnya, dan telah menunjukkan kegagalan menanamkan kontrol moral. Inilah wujud kepribadian sekuler, di mana standar benar dan salah menjadi relatif dan pragmatis. Dari sini terlahir karakter yang mudah marah, agresif hingga berujung kekerasan tanpa kendali kesabaran dan ketakwaan. Berkaca dari kasus viral tersebut, sekolah telah berubah menjadi arena konflik, tak ada lagi ruang aman.

Kedua, hilangnya penghormatan terhadap guru sebagai figur ilmu.

Sebagaimana yang telah diulas di poin sebelumnya, dalam sistem kapitalistik, guru hanya diposisikan sebagai pekerja profesional semata. Ini menjadikan guru tak lagi dimuliakan karena ilmunya, tapi sekadar penyedia jasa. Ini memunculkan dampak murid yang merasa superior terhadap guru, menganggap kritik sebagai pelecehan, dan otoritas moral guru melemah. Hilang kemuliaan bagi guru, sehingga proses pendidikan pun hilang arah dan wibawa.

Ketiga, rusaknya relasi pendidikan.

Relasi antara guru dan murid tidak lagi berbasis pembinaan adab, tapi berbasis kepentingan antara penyedia jasa dan penerima jasa. Murid belajar hanya demi nilai dan ijazah semata, begitu pula guru mengajar demi gaji dan kewajiban formal. Interaksi guru dan murid kehilangan keteladanan dan penghormatan. Model pendidikan yang transaksional ini menghilangkan tujuan pendidikan hakiki sebagai proses pembentukan generasi tangguh yang berkepribadian Islam.

Keempat, generasi cerdas rapuh akhlak.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik memang mampu-mampu saja mencetak generasi cerdas, kritis, unggul secara teknologi. Namun, generasi ini kehilangan fondasi akidah Islam, sehingga tumbuh menjadi individualis, nirempati, nir adab yang berpotensi merusak sistem sosial.

Kelima, hilangnya wujud keteladanan.

Sistem pendidikan sekuler menghilangkan nilai ruhiyah, sehingga memicu guru kelelahan secara mental dan spiritual, murid kehilangan figur teladan secara utuh. Akidah Islam tak menjadi dasar, kompas moral tak memiliki kejelasan arah.

Keenam, kerusakan sistem sosial.

Dampak krisis moral penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang berkepanjangan dapat merusak tatanan sosial. Generasi minim moral melahirkan pemimpin tanpa integritas, meningkatkan konflik sosial, hilang rasa hormat dan santun di tengah masyarakat, terbangun peradaban yang rapuh.


Konsep Pendidikan Islam Menjadi Solusi Sistemik untuk Memulihkan Kemuliaan Guru dan Membina Murid Secara Menyeluruh

Sistem pendidikan Islam mampu menjadi jawaban atas krisis moral yang diakibatkan dari kegagalan sistem pendidikan sekuler kapitalistik. Dalam Islam, pendidikan menjadi hak dasar yang wajib disediakan oleh negara. Tujuan dari pendidikan Islam adalah mencetak generasi yang bersyaksiyah (berkepribadian) Islam. Maka tak ada akidah lain yang boleh mendasari sistem pendidikan ini, kecuali hanya Islam.

Di dalam Islam, adab diletakkan sebelum ilmu, maka jelas Islam tidak hanya sekadar mencetak generasi yang unggul dalam sisi akademis semata, tapi juga tangguh dalam membentuk manusia beradab. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Sistem pendidikan Islam bukan sekadar menjadi alternatif solusi krisis moral, melainkan solusi yang komprehensif atas krisis di bidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya akibat sistem sekuler kapitalistik. Maka menjadi kewajiban negara untuk menerapkan Islam secara kaffah di seluruh lini kehidupan. Adapun dalam sistem pendidikan:

Pertama, menetapkan akidah Islam sebagai landasan kurikulum pendidikan.

Pendidikan Islam mewajibkan akidah Islam sebagai asas seluruh proses pendidikan. Tujuan utama pendidikan untuk mencetak generasi berkepribadian Islam, membentuk insan yang beriman, bertakwa, berakhlak, dan berilmu.

Oleh karena itu, dalam pendidikan Islam tidak ada dikotomi antar ilmu agama dan ilmu umum karena setiap ilmu akan diarahkan untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Begitu pula tidak ada dikotomi antara pengetahuan dan nilai, ataupun antara kecerdasan dan moral. Ilmu yang dipelajari sepenuhnya bertujuan untuk kemaslahatan umat, bukan demi pemuas kepentingan segelintir orang (kapitalis), bukan demi keuntungan ekonomi. Begitu pula bingkai halal haram bukan didasarkan pemahaman relatif manusia, tapi berdasarkan syariat Islam. Maka yang terlahir adalah generasi tangguh yang tajam secara intelektual dan juga kokoh akhlaknya.

Kedua, mementingkan adab sebelum ilmu.

Dalam Islam, penting untuk mendahulukan adab sebelum ilmu. Konsep ta'dib (pembinaan adab) diberikan sebelum ilmu, semua dirinci dalam kitab Ta'lim al-muta'allim. Jadi, pendidikan bukan sekadar ta'lim (transfer ilmu) semata. Relasi antara guru dan murid adalah relasi keteladanan dan penghormatan.

Ketiga, mengembalikan kemuliaan guru.

Dalam Islam, menempatkan guru sebagai tugas yang mulia. Sistem Islam menjamin kesejahteraan guru. Guru harus menjadi teladan, pembina, dan pengajar yang taat kepada Allah SWT, sehingga layak dihormati. Kewajiban negara mengembalikan kemuliaan guru secara struktural, bukan sekadar etika moral.

Ada adab, bahwa murid harus takzim terhadap ilmu dan ahli ilmu. Dikatakan seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu, dan tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu itu, kecuali dengan menakzimkan ilmu dan para ahlinya, juga memuliakan dan menghormati para ustad (Ta'lim al-muta'allim).

Keempat, negara berperan penuh menjamin sistem pendidikan Islam.

Peran negara dalam menjamin sistem pendidikan Islam harus menyeluruh. Selain menetapkan pendidikan berbasis akidah Islam, negara juga harus memenuhi kebutuhan pendidikan seluruh rakyatnya secara murah bahkan gratis, sehingga guru dan murid terbebas dari komersialisasi dan kepentingan kapitalis, sebagaimana dalam sistem sekuler kapitalistik.

Negara juga harus menciptakan lingkungan sekolah yang islami. Baik dari sisi peraturan di masyarakat maupun sistem sanksinya harus berdasarkan Islam. Bukan itu saja, arus informasi pun harus difilter dengan filter akidah Islam. Tak ada tayangan yang mengarah pada kekerasan, pelecehan, bullying, pornografi, dll.

Dari penerapan sistem pendidikan Islam, akan melahirkan manusia-manusia yang berkepribadian Islam, akan membentuk masyarakat yang islami, sehingga menciptakan fondasi peradaban Islam yang kokoh. Pendidikan Islam menjadi solusi sistemik untuk memulihkan kemuliaan guru dan membina murid secara menyeluruh. Namun, solusi pendidikan Islam ini tidak dapat berdiri parsial, maka dibutuhkan penerapan Islam secara kaffah di seluruh lini kehidupan.[]

#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst


Oleh: Dewi Srimurtiningsih
Dosol Uniol 4.0 Diponorogo

Opini

×
Berita Terbaru Update