Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Generasi Cemas: Bahaya Dunia Maya bagi Anak dan Remaja

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46 WIB Last Updated 2026-01-02T06:47:05Z
TintaSiyasi.id -- Kita hidup pada zaman ketika layar lebih sering menjadi teman anak-anak dibanding orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Dunia maya menjanjikan kecepatan, hiburan, dan koneksi tanpa batas. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi ancaman serius yang perlahan membentuk sebuah fenomena baru: generasi cemas.

Generasi ini tumbuh dengan akses teknologi yang luas, tetapi rapuh secara emosional, mudah gelisah, dan sering kehilangan makna hidup. Kecemasan bukan lagi gangguan insidental, melainkan kondisi kolektif yang semakin mengkhawatirkan, terutama pada anak dan remaja.

Dunia Maya dan Krisis Kesehatan Jiwa

Dunia maya sejatinya netral. Ia menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Namun bagi anak dan remaja yang masih dalam fase pembentukan jiwa, identitas, dan kontrol diri, dunia maya sering hadir tanpa filter dan bimbingan.

Paparan media sosial yang berlebihan melahirkan budaya perbandingan tanpa henti. Anak-anak mengukur harga dirinya dari likes, views, dan komentar. Ketika validasi digital tidak didapatkan, muncul rasa tidak berharga, rendah diri, dan kecemasan sosial. Mereka takut tertinggal (fear of missing out), takut tidak diakui, dan takut dianggap gagal sebelum benar-benar memahami makna hidup.

Kecemasan ini diperparah oleh arus informasi yang deras, sering kali negatif, sensasional, dan tidak mendidik. Otak anak yang belum matang dipaksa memproses konflik global, standar kecantikan semu, gaya hidup hedonistik, hingga normalisasi perilaku menyimpang.

Hilangnya Kedalaman Relasi dan Kesunyian Sosial

Ironisnya, di tengah dunia yang terhubung, banyak anak dan remaja justru merasa kesepian. Interaksi digital menggantikan percakapan nyata. Empati melemah karena hubungan dibangun lewat layar, bukan tatap mata dan sentuhan kemanusiaan.

Anak menjadi asing dengan dirinya sendiri. Ia sulit mengenali emosi, tidak terlatih menghadapi frustrasi, dan cenderung mencari pelarian instan. Inilah yang menjelaskan mengapa kecemasan, depresi, dan bahkan pikiran bunuh diri meningkat di usia yang semakin muda.

Perspektif Islam: Jiwa yang Kehilangan Arah

Islam memandang manusia sebagai makhluk ruhani dan jasmani. Ketika ruh diabaikan, kegelisahan menjadi keniscayaan. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Generasi cemas pada hakikatnya adalah generasi yang kehilangan pusat ketenangan. Dunia maya menawarkan kesenangan cepat, tetapi mengeringkan makna. Anak-anak dibesarkan untuk terhubung dengan dunia, tetapi tidak terikat dengan Allah.

Padahal, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga menenangkan jiwa dan membentuk akhlak. Tanpa fondasi iman, teknologi justru menjadi alat perusak fitrah.

Peran Orang Tua dan Pendidik: Bukan Melarang, tetapi Membimbing

Solusi Islam tidak ekstrem. Islam tidak menolak teknologi, tetapi menuntun manusia agar berdaulat atasnya. Orang tua dan pendidik memiliki peran kunci, bukan sekadar mengawasi layar, tetapi membangun kedekatan emosional dan spiritual.

Anak perlu ruang dialog, teladan akhlak, dan pembiasaan ibadah yang hidup, bukan sekadar ritual. Dunia nyata harus lebih bermakna daripada dunia maya. Rumah harus lebih menenangkan daripada layar. Masjid dan majelis ilmu harus menjadi pusat pertumbuhan jiwa, bukan hanya formalitas.

Membangun Generasi Tangguh di Era Digital

Menghadapi dunia maya, anak dan remaja perlu dibekali:

1. Ketahanan iman agar tidak mudah goyah oleh arus nilai yang menyimpang.

2. Literasi digital untuk memilah informasi dan mengelola waktu.

3. Kecerdasan emosional agar mampu menghadapi tekanan tanpa lari ke pelarian semu.

4. Makna hidup yang bersumber dari pengabdian kepada Allah, bukan pengakuan manusia.

Generasi yang kuat bukanlah generasi yang paling mahir teknologi, tetapi generasi yang paling kokoh jiwanya.

Penutup

Generasi cemas adalah peringatan bagi kita semua. Dunia maya telah melaju cepat, sementara pendampingan ruhani sering tertinggal. Jika tidak segera dibenahi, kita akan mewariskan kecanggihan tanpa ketenangan, informasi tanpa hikmah, dan koneksi tanpa makna.

Islam hadir untuk memanusiakan manusia, menenangkan jiwa, dan menuntun peradaban. Di tengah badai digital, hanya iman dan akhlak yang mampu menjadi jangkar keselamatan bagi anak dan remaja kita.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update