Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Game Online dan Ancaman Nyata bagi Generasi

Senin, 12 Januari 2026 | 07:06 WIB Last Updated 2026-01-12T00:06:26Z

Tintasiyasi.id.com --Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah kehidupan manusia secara drastis. Salah satu produk paling masif dari era digital adalah game online, yang kini dengan mudah diakses oleh anak-anak dan remaja. 

Di balik kemasan hiburan yang tampak sepele, muncul fakta-fakta mengkhawatirkan: game online tidak jarang menjadi pemicu kekerasan, gangguan mental, bahkan tindak pembunuhan.

Berbagai kasus menunjukkan bahwa kekerasan yang terinspirasi dari game online bukanlah isapan jempol. Dilansir dari Kompas.com (29-12-25) seorang anak di Medan tega membunuh ibunya sendiri, dengan latar belakang kecanduan game online yang memengaruhi kondisi psikologis dan emosinya. 

Kasus tersebut mengguncang publik karena memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh konten digital terhadap perilaku anak ketika tidak ada kontrol yang memadai.

Kasus lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah teror bom di lingkungan pendidikan. Dilansir dari CNN Indonesia (26-12-25) kepolisian menetapkan seorang mahasiswa sebagai tersangka teror bom terhadap sepuluh sekolah di Depok. 

Aksi ini disebut terinspirasi dari konten digital dan narasi kekerasan yang beredar luas di ruang maya. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kekerasan di dunia digital dapat bermigrasi dengan mudah ke dunia nyata.

Selain pembunuhan dan teror, berbagai bentuk kekerasan lain juga muncul, mulai dari bullying, gangguan emosi, hingga bunuh diri. Game online yang mengandung adegan kekerasan ekstrim, pembunuhan, dan agresivitas disajikan secara bebas dan menarik, tanpa penyaringan ketat. 

Anak-anak yang masih dalam fase pembentukan kepribadian menjadi sasaran empuk, sehingga kekerasan lambat laun dianggap sebagai hal wajar, bahkan solusi atas masalah.

Secara analitis, penting dipahami bahwa platform digital tidaklah netral. Di dalam game online terkandung nilai, ideologi, dan cara pandang tertentu yang sering kali bertentangan dengan moral dan kemanusiaan. 

Kekerasan, dominasi, balas dendam, dan pembunuhan dikemas sebagai hiburan, tantangan, bahkan prestasi. Ketika nilai-nilai ini dikonsumsi terus-menerus, ia akan membentuk cara berpikir dan bertindak penggunanya, terutama anak-anak dan remaja.

Ruang digital hari ini juga tidak bisa dilepaskan dari cengkeraman kapitalisme global. Industri game bernilai triliunan dolar, sehingga orientasi utamanya adalah keuntungan, bukan keselamatan generasi. 

Selama sebuah game laku di pasaran, kontennya akan terus diproduksi, meskipun terbukti merusak kesehatan mental dan perilaku anak. Kerusakan generasi dan hilangnya nyawa manusia bukanlah pertimbangan utama dalam logika kapitalisme.

Ironisnya, negara yang seharusnya menjadi pelindung justru tampak tidak berdaya menghadapi derasnya arus konten kekerasan digital. Regulasi lemah, pengawasan minim, dan pendekatan yang parsial membuat negara gagal melindungi generasi muda dari bahaya laten game online. Dalam sistem sekuler-kapitalistik, negara seringkali kalah oleh kepentingan industri dan pasar bebas.

Islam memandang persoalan ini secara sangat tegas. Dalam Islam, negara memiliki kewajiban menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan, baik fisik, mental, maupun moral. 

Anak-anak dan remaja bukan sekadar konsumen, melainkan amanah yang harus dijaga keberlangsungan dan keselamatannya. Membiarkan mereka terpapar konten kekerasan adalah bentuk kelalaian yang besar.

Lebih jauh, hegemoni ruang digital oleh kapitalisme global harus dilawan dengan kedaulatan digital. Negara tidak boleh menyerahkan ruang pembentukan karakter generasi kepada korporasi global yang hanya mengejar keuntungan. 

Dalam sistem Islam, negara memiliki otoritas penuh untuk mengatur media, konten, dan teknologi agar selaras dengan nilai-nilai Islam dan kemaslahatan umat.

Islam juga menawarkan solusi menyeluruh untuk menangkal kerusakan generasi melalui tiga pilar utama:

Pertama, ketakwaan individu, yang dibentuk melalui akidah dan pendidikan Islam sehingga anak memiliki kontrol diri dan kesadaran moral. 

Kedua, kontrol masyarakat, di mana lingkungan sosial turut menjaga dan menegur ketika muncul penyimpangan. 

Ketiga, perlindungan negara, yang menghadirkan regulasi tegas, sistem pendidikan yang benar, serta pengelolaan media dan budaya yang sehat.

Ketiga pilar ini hanya dapat berjalan efektif jika diterapkan dalam satu kesatuan sistem, meliputi sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya yang berlandaskan Islam. 

Tanpa perubahan sistemik, berbagai larangan parsial hanya akan menjadi tambalan sementara, sementara kerusakan terus berulang dengan bentuk yang berbeda.

Kasus-kasus kekerasan yang terinspirasi dari game online seharusnya menjadi peringatan keras bagi kita semua. Ini bukan sekadar persoalan hiburan, tetapi menyangkut masa depan generasi dan keselamatan manusia. 

Selama ruang digital dikuasai oleh logika kapitalisme dan negara abai menjalankan perannya, kekerasan akan terus menemukan jalannya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.[]

Oleh: Anggun istiqomah 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update