"Makanya kayak ayat tadi itu,
‘Liyużīqahum ba'ḍallażī 'amilụ la'allahum yarji'ụn.’ Kalau ada hikmah,
maka hikmah terbesar dari bencana yang barusan terjadi dan yang lain-lainnya
adalah mestinya menyadarkan kepada kita untuk segera ruju' ilal haq,
kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridai Allah Swt,” tutur UIY.
UIY menegaskan bahwa jalan yang
benar itu adalah syariat. “Kalau itu tidak juga, bencana itu tidak menyadarkan
kita untuk ruju' ilal haq. Pertanyaannya, mesti bencana lebih besar
kayak apa untuk kesadaran itu? Kan ngeri jadinya," ujarnya dalam talkshow
Bencana, Fasad, dan Kemaksiatan Negara di kanal Youtube UIY Official
pada Sabtu (03/01/2026).
Bencana yang terjadi baru-baru
ini dijelaskan UIY bukan berasal dari qada semata. “Bencana itu terbagi menjadi
dua. Pertama, qada, yakni yang kita tak bisa ikut campur sama sekali, seperti
gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya. Kedua, bencana karena
kejahatan,” bebernya.
"Tetapi kalau kita bicara
tentang banjir yang membawa kayu, gelondongan-gelondongan kayu sedemikian rupa
lalu longsor kemudian banjir yang membawa lumpur sedemikian tebalnya, itu jelas
bukan jenis yang pertama (qada),” jelasnya.
Lanjut dijelaskan, banjir seperti
itu adalah jenis kedua. “Yaitu hujannya memang qada tetapi hujan yang menimpa
atau mengenai area hutan yang sudah gundul, yang sudah ditebang begitu rupa
untuk kegiatan ekstraktif, penebangan legal maupun ilegal, penambangan, maupun
untuk pembukaan kebun itu jelas kejahatan. Kejahatan yang dilegalkan undang-undang,"
jelasnya.
“Kejahatan atau kemaksiatan yang
terjadi sudah pada level kejahatan struktural. Negara tak berpihak pada rakyat
melainkan pada swasta yang hanya mencari keuntungan materi semata,” ungkapnya.
"Kita bisa tahu bahwa
korporasi swasta itu intensinya, apa tujuannya. Interest mereka paling besar
itu apa? Mencari keuntungan. Ketika mereka mencari keuntungan, mereka bisa
melakukan apa saja,” lugasnya.
“Nah, di sinilah kita bisa
mendapatkan penjelasan kenapa tema-tema lingkungan, reklamasi, AMDAL, itu semua
berhenti pada formalitas. Dari sanalah semua, kita mendapatkan penjelasan
kenapa kok ketika terjadi hujan seperti yang baru-baru terjadi. Lalu kita alami
itu, kemudian membawa bencana yang sangat besar," jabarnya.
Dia menyatakan jika kemaksiatan
secara struktural itu yang menyebabkan kerusakan yang besar pula. “Hal ini
karena sejatinya setiap maksiat atau dosa, akan membawa fasad (kerusakan),”
ulasnya.
UIY pun turut menyayangkan tak
banyak yang berbicara mengenai kerusakan struktural itu. “Perlu kerangka
berfikir yang benar sehingga didapatkan hikmah dari bencana yang terjadi,”
pesannya.
"Nah, sayangnya topik ini
tidak tersentuh sejauh kita ikuti narasi yang berkembang. Jangan lagi di kalangan
birokrat, kalangan pemimpin, penguasa, sampai penguasa tertinggi ini, kadang
kalangan ulama pun nggak ada. Yang ada ya betul bantuan itu penting tetapi
narasi ini, cara memandang sebenarnya musibah tadi itu atau bencana tadi itu
penting sekali untuk kita bisa mendapatkan hikmah,” tandasnya.
“Karena hikmah itu yang akan
membawa kita kepada perubahan, perubahan yang fundamental, perubahan yang
sangat penting yang tadi ruju' ilal haq, kembali pada jalan yang
benar," pungkasnya.[] Hima Dewi