Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cendekiawan: Hikmah Terbesar dari Bencana Adalah Kembali ke Jalan yang Benar

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:35 WIB Last Updated 2026-01-31T09:35:49Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengatakan bahwa cara mengatasi bencana yang dikarenakan oleh kejahatan atau kemaksiatan adalah dengan ruju' ilal haq atau kembali ke jalan yang benar.

 

"Makanya kayak ayat tadi itu, ‘Liyużīqahum ba'ḍallażī 'amilụ la'allahum yarji'ụn.’ Kalau ada hikmah, maka hikmah terbesar dari bencana yang barusan terjadi dan yang lain-lainnya adalah mestinya menyadarkan kepada kita untuk segera ruju' ilal haq, kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridai Allah Swt,” tutur UIY.

 

UIY menegaskan bahwa jalan yang benar itu adalah syariat. “Kalau itu tidak juga, bencana itu tidak menyadarkan kita untuk ruju' ilal haq. Pertanyaannya, mesti bencana lebih besar kayak apa untuk kesadaran itu? Kan ngeri jadinya," ujarnya dalam talkshow Bencana, Fasad, dan Kemaksiatan Negara di kanal Youtube UIY Official pada Sabtu (03/01/2026).

 

Bencana yang terjadi baru-baru ini dijelaskan UIY bukan berasal dari qada semata. “Bencana itu terbagi menjadi dua. Pertama, qada, yakni yang kita tak bisa ikut campur sama sekali, seperti gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya. Kedua, bencana karena kejahatan,” bebernya.

 

"Tetapi kalau kita bicara tentang banjir yang membawa kayu, gelondongan-gelondongan kayu sedemikian rupa lalu longsor kemudian banjir yang membawa lumpur sedemikian tebalnya, itu jelas bukan jenis yang pertama (qada),” jelasnya.

 

Lanjut dijelaskan, banjir seperti itu adalah jenis kedua. “Yaitu hujannya memang qada tetapi hujan yang menimpa atau mengenai area hutan yang sudah gundul, yang sudah ditebang begitu rupa untuk kegiatan ekstraktif, penebangan legal maupun ilegal, penambangan, maupun untuk pembukaan kebun itu jelas kejahatan. Kejahatan yang dilegalkan undang-undang," jelasnya.

 

“Kejahatan atau kemaksiatan yang terjadi sudah pada level kejahatan struktural. Negara tak berpihak pada rakyat melainkan pada swasta yang hanya mencari keuntungan materi semata,” ungkapnya.

 

"Kita bisa tahu bahwa korporasi swasta itu intensinya, apa tujuannya. Interest mereka paling besar itu apa? Mencari keuntungan. Ketika mereka mencari keuntungan, mereka bisa melakukan apa saja,” lugasnya.

 

“Nah, di sinilah kita bisa mendapatkan penjelasan kenapa tema-tema lingkungan, reklamasi, AMDAL, itu semua berhenti pada formalitas. Dari sanalah semua, kita mendapatkan penjelasan kenapa kok ketika terjadi hujan seperti yang baru-baru terjadi. Lalu kita alami itu, kemudian membawa bencana yang sangat besar," jabarnya.

 

Dia menyatakan jika kemaksiatan secara struktural itu yang menyebabkan kerusakan yang besar pula. “Hal ini karena sejatinya setiap maksiat atau dosa, akan membawa fasad (kerusakan),” ulasnya.

 

UIY pun turut menyayangkan tak banyak yang berbicara mengenai kerusakan struktural itu. “Perlu kerangka berfikir yang benar sehingga didapatkan hikmah dari bencana yang terjadi,” pesannya.

 

"Nah, sayangnya topik ini tidak tersentuh sejauh kita ikuti narasi yang berkembang. Jangan lagi di kalangan birokrat, kalangan pemimpin, penguasa, sampai penguasa tertinggi ini, kadang kalangan ulama pun nggak ada. Yang ada ya betul bantuan itu penting tetapi narasi ini, cara memandang sebenarnya musibah tadi itu atau bencana tadi itu penting sekali untuk kita bisa mendapatkan hikmah,” tandasnya.

 

“Karena hikmah itu yang akan membawa kita kepada perubahan, perubahan yang fundamental, perubahan yang sangat penting yang tadi ruju' ilal haq, kembali pada jalan yang benar," pungkasnya.[] Hima Dewi

Opini

×
Berita Terbaru Update