TintaSiyasi.id -- Tidak habis pikir dengan ulah Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia kembali menebar teror di dunia atas nafsu ambisinya. Trump kembali menebar ancaman di kawasan Amerika Latin dengan memberikan peringatan keras kepada pemerintah Kuba untuk segera melakukan "kesepakatan" (deal) dengan AS atau menghadapi konsekuensi fatal, menyusul penghentian total pasokan minyak dan dana dari Venezuela. Hal ini merupakan buntut dari operasi militer AS pada 3 Januari lalu yang berhasil menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Selain itu, Trump juga menebar ancaman ke Iran, yakni akan melancarkan serangannya ke Iran. Namun Iran menjawab jika Amerika benar menyerangnya, entitas Yahudi akan menjadi target serangannya.
Dikutip, CNBC Indonesia (5-1-2026), Trump secara terbuka mengaitkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan ambisi energi Washington. Trump menyebut ingin membuka kembali akses perusahaan minyak AS ke Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Hal ini tentu bukan pepesan kosong. Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Menurut data OPEC, Venezuela tercatat memiliki cadangan terbukti sekitar 303,2 miliar barel. Ini melampaui Arab Saudi di posisi kedua dengan 267 miliar barel, Iran di posisi ketiga dengan 209 miliar barel, Irak di posisi keempat dengan 209 miliar barel. Rusia saja hanya memiliki 80 miliar barel alias di posisi ketujuh. Sementara AS sendiri di posisi sembilan dengan 45 miliar barel. Namun, produksi minyak negara anjlok tajam. Ini akibat sanksi AS, salah urus, serta minimnya investasi. Di bawah sanksi AS, ekspor minyak Venezuela mayoritas mengalir ke China, diperkirakan mencapai 80%. Sering kali minyak sampai ke China melalui jalur tidak langsung via Malaysia atau sebagian kecil lainnya dikirim ke Kuba.
Apa yang dilakukan Trump ini adalah bentuk ambisi energi Whasington. Trump ingin menjadi negara nomor 1 pengendali energi di dunia. Dia tidak membiarkan ada satu pun negara di muka bumi ini mendapatkan pasokan minyak melebihi pasokan yang ia dapatkan. Bahkan konflik yang dipelihara di Timur Tengah sampai Amerika menciptakan "virus" ganas di sana, yakni Israel, karena ambisinya menguasai kekayaan alama di negeri-negeri muslim. Trump membaca peluang besar pasokan Venezuela yang menjadi penghasil minyak terbesar di dunia. Bahkan, kemarin Trump mengumumkan dirinya sebagai Presiden Sementara Venezuela. Patut diduga, hal ini dilakukan untuk mengambil alih kendali ekonomi terutama soal cadangan minyak di Venezuela.
Di Balik Trump Menabuh Genderang Perang terhadap Beberapa Negara Baik Amerika Latin Maupun Timur Tengah
Keserakahan Trump untuk menguasai sumber daya alam di muka bumi ini sudah ditampakkan sejak lama. Setelah menciptakan konflik di Timur Tengah, sekarang Trump menampakkan kebengisan dan keserakahan yang brutal di dunia demi menguasai cadangan minyak di Venezuela. Tentunya, dunia tidak lupa, bagaimana Amerika menancapkan hegemoninya di berbagai negara. Amerika tidak segan-segan menyulut konflik di suatu negara agar ia bisa cawe-cawe sebagaimana yang sedang terjadi di Iran saat ini.
Lebih dari 25 tahun, hubungan Amerika Serikat dan Venezuela diwarnai konflik ideologis, sengketa minyak, dan perebutan pengaruh geopolitik. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS pada 3 Januari 2026 menandai puncak perseteruan panjang yang bermula sejak era Hugo Chavez. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diseret keluar dari kamar tidur mereka oleh pasukan AS. Keduanya ditangkap tengah malam saat sedang tidur. Penangkapan dan penggerebekan Maduro serta ibu negara Venezuela dilakukan oleh Delta Force, satuan elite Angkatan Darat AS.
Ia kemudian dibawa ke pusat tahanan Brooklyn, New York menggunakan menggunakan kendaraan khusus setelah tiba di Manhattan dari pangkalan udara nasional Stewart menggunakan helikopter. Maduro akan menghadapi dakwaan di pengadilan federal AS di Manhattan atas tuduhan narkoterorisme. Penangkapan Maduro sendiri menambah panjang daftar pemimpin negara yang ditangkap oleh AS. Sebelumnya AS sudah menangkap paksa pemimpin Panama Manuel Noriega, Presiden Irak Saddam Husein, hingga Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez.
Tidak berhenti di situ, tensi geopolitik di Timur Tengah belum mereda kendati Trump, menyatakan bahwa Iran mulai menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi dengan Washington. Pernyataan ini muncul di tengah ancaman serangan militer AS sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap demonstran yang dilaporkan telah menelan ratusan korban jiwa. Iran memperingatkan, pasukan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel akan menjadi sasaran sah jika Washington berani melancarkan serangan terhadap Iran.
Menyorot hal tersebut ada beberapa catatan kritis sebagai berikut. Pertama, keserakahan Amerika dalam menguasai minyak dunia tampak pada ambisi Washington atas minyak yang mengerahkan aspek militer dan teknologinya. Bahkan, sampai mengeluarkan satuan elit militer untuk melumpuhkan suatu negara demi menangkap presidennya. Hal ini tidak satu atau dua kali ia lakukan, tapi berulang kali. Kedua, Amerika menerapkan hukum rimba. Ia bertindak seperti raja rimba yang merasa paling kuat dan menyerang negara-negara yang lemah. Amerika sejak dulu memang mengerahkan daya upayanya menguasai teknologi dan membatasi negara lain agar tetap bodoh supaya bisa memperdaya negara lain.
Ketiga, manuver politik Amerika. Delta Force, satuan elite Angkatan Darat AS yang menangkap Maduro adalah bentuk manuver politik Amerika. Trump ingin menunjukkan berapa hebatnya pasukan militer mereka yang memiliki senjata mematikan. Dikisahkan dari kesaksian tentara Venezuela. Mereka datang seolah-olah menembakkan 300 peluru sehingga tidak ada yang bisa menghindar dan langsung tewas ratusan militer Venezuela. Selain itu, mereka mengeluarkan senjata misterius seperti bunyi dan membuat yang mendengarkan langsung mimisan dan muntah darah. Amerika telah mengeluarkan senjata biologisnya demi melumpuhkan militer Venezuela dengan cepat.
Keempat, imperialisme sekaligus neokolonialisme yang dilakukan Amerika terhadap negara jajahannya. Kontrol kuat Amerika terhadap sumber daya alam yang ada negara lain adalah bentuk penjajahan nyata yang ia lakukan. Ketika pemimpin negara itu menyadarinya dan ingin melepaskan diri dari penjajahan tersebut, tangan besi Amerika bertindak cepat untuk melumpuhkannya. Dia menguasai minyak bumi tidak hanya di sekitar Amerika Latin tapi juga di seluruh dunia termasuk Timur Tengah. Konflik dan penjajahan di Timur Tengah adalah cara Amerika untuk mengeksploitasi negara-negara di sana. Tidak terlepas Indonesia, sejak Indonesia merdeka mereka telah menyerahkan tambang emas di Papua kepada Amerika.
Kelima, tuduhan penangkapan narkoterorisme adalah pepesan kosong. Ideologi kapitalisme telah menghalalkan narkoba untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Bahkan inilah senjata Amerika untuk merusak generasi muslim di berbagai negara. Memang ini alasan tidak masuk akal. Dasar kuat dia menangkap Maduro adalah karena minyak bumi di Venezuela. Padahal di sana sudah melimpah tapi Amerika tetap menjajah negeri-negeri muslim untuk mengeksploitasi minyak dan pengerukan sumber daya alam supaya negara tersebut miskin, bodoh, dan tidak bisa berkembang.
Hal ini menunjukkan apa yang dilakukan Amerika adalah bentuk kepemimpinan ideologi kapitalisme sekuler yang selama ini dia emban. Inilah ideologi kapitalisme sekuler yang dipimpin Amerika dan menciptakan kezaliman sistematis di seluruh dunia. Dia tidak akan puas hanya bisa mengeruk atau mengeksploitasi kekayaan di negerinya sendiri tapi juga ingin menguasai di seluruh dunia. Tidak ada yang boleh ikut mencicipi minyak bumi yang ada di Venezuela kecuali Amerika. Oleh karena itu, kapal hantu yang membawa minyak ke China dihadang Amerika dan Venezuela mendapatkan sanksi hingga sekarang Trump yang menjadi presiden sementaranya. Tidak bisa umat Islam berdiam diri, jangan sampai nasib negeri-negeri muslim seperti Venezuela. Di sinilah kaum muslim bangkit dan bersatu mengembalikan khilafah.
Dampak Ambisi Amerika terhadap Aspek Politik, Hukum, dan Ekonomi Dunia
Hukum rimba yang dilakukan Amerika menunjukkan betapa sombongnya Amerika hari ini. Ia merasa menjadi negara paling kuat dan paling hebat di dunia ini sehingga bisa bertindak semaunya dengan menguasai dan merampas sumber daya alam yang ada di suatu negara. Apabila negara tersebut tidak mau tunduk maka ia akan mengerahkan kekuatannya untuk melumpuhkan dan menguasainya. Seolah-olah tidak ada yang boleh menggagalkan tindakan yang dilakukan Amerika dan ini berdampak terhadap dunia saat ini.
Pertama, dampak politik adalah Amerika makin sombong dan bertindak seseenaknya. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang tidak mau dan tidak menginginkan sumber daya alam seperti minyak bumi tersebut. Karena memang ini adalah sumber daya yang masuk dalam kepemilikan umum dan tidak boleh dikapitalisasi atau diprivatisasi. Sehingga yang dilakukan Amerika ini bertentangan dengan fitrah manusia. Ini termasuk bagian dari penjajahan dan penindasan nyata yang dilakukan Amerika terhadap negara-negara yang lebih lemah dari dirinya.
Kedua, dampak hukum. Walaupun apa yang dilakukan Amerika atau Israel melanggar hukum internasional tidak ada satu pun negara yang mampu menghentikannya. Bahkan PBB di bawah kepemimpinan Amerika juga diam karena yang melakukan kezaliman itu adalah pencetus PBB. Inilah kezaliman nyata yang dilakukan Amerika dengan ideologi kapitalismenya. Di negeri-negeri kafir sekuler dia hanya mengorbankan kepala negaranya. Namun di negeri-negeri muslim, ia menyiksa dan membantai kaum muslim dengan brutal. Seperti yang terjadi di Palestina maupun Afrika. Hal itu pun dicontoh oleh negara-negara kafir lainnya seperti China yang membantai muslim Xinjiang dan Myanmar yang membantai muslim Rohingya.
Ketiga, dampak ekonomi adalah Amerika makin serakah dan berkuasa mengendalikan harga minyak dunia. Prediksi dari yang terjadi di Venezuela berpotensi menaikkan harga minyak dunia. Ini menambah draf penderitaan seluruh umat manusia. Sifat ekonomi kapitalisme yang menguasai kepemilikan umum menjadi milik pribadi telah menciptakan kekacauan tatanan masyarakat dan konflik di berbagai dunia. Baik konflik antara pemerintah dengan rakyat, kapitalis dengan kapitalis, bahkan negara dan negara. Sebagaimana yang terjadi di Venezuela bukti nyata Amerika serakah dan buas, tidak puas dengan rampasan minyak di negeri-negeri muslim tapi juga seluruh penjuru dunia.
Secara fitrah apa yang dilakukan Amerika yang ingin menguasai kekayaan milik negara lain tentu membuat seluruh manusia tidak suka, tapi apa daya umat manusia tidak memiliki kekuatan untuk melawan keserakahan Amerika karena dunia sudah dilumpuhkan dan dijajah dengan sistem kapitalisme sekuler demokrasi. Sistem inilah yang menjajah seluruh negara secara halus, karena semuanya disuruh tunduk dengan kemauan Amerika dengan ideologinya.
Strategi Islam Menghadapi Amerika
Dulu ketika ideologi Islam runtuh bersamaan runtuhnya Kekhilafahan Utsmani di Turki, dunia ini hanya ada dua ideologi yang berkuasa yakni kapitalisme sekuler yang dipimpin AS dan sosialisme komunis yang dipimpin Uni Soviet. Namun, Uni Soviet telah runtuh. Sekarang yang digdaya adalah Amerika. Amerika adalah negara yang memiliki kepemimpinan ideologi kapitalisme sekuler. Tidak bisa melawan Amerika hanya dengan modal otot saja. Jelas kalah dan hanya mati konyol.
Menghadapi Amerika harus dengan ideologi. Satu-satunya ideologi yang mampu melumpuhkan dan memusnahkan kesombongan Amerika adalah ideologi Islam. Hanya saja hari ini tidak ada satu negara pun yang mengemban ideologi Islam dalam bentuk negara. Semua negeri-negeri muslim telah dijajah dengan ideologi kapitalisme sekuler demokrasi. Mereka dijajah secara sistematis tunduk pada aturan main kapitalis global karena sistem yang dipaksakan dan didoktrinkan Barat kepada negara jajahannya.
Untuk mewujudkan kemenangan kaum muslim, tidak bisa kaum muslim hanya berdakwah seputar ibadah saja. Kaum muslim harus berdakwah politik yakni mendakwahkan Islam untuk diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam aspek individu, tetapi masyarakat dan negara harus menerapkan Islam. Dakwah menegakkan Islam tidak bisa dengan cara sekenanya tetapi harus sistematis, terstruktur, dan masif sesuai dengan metode dakwah Rasulullah saw.
Meneladan dakwah Rasulullah saw. yakni sebagai berikut. Metode dakwah untuk menegakkan khilafah umumnya mengikuti tahapan kenabian. Pertama. Tatsqif (pembinaan kader) dengan pemikiran Islam mendalam. Rasulullah saw. melakukan pembinaan dakwah kepada para sahabat Nabi saw. untuk membentuk kepribadian Islam yang mengkristal di benak para sahabat.
Kedua. Tafa'ul ma'a al-Ummah (interaksi dengan umat) melalui pergolakan pemikiran (ash-shira' al-fikri) menentang pemikiran sekuler dan politik praktis. Rasulullah saw. mendakwahkan ajaran Islam secara terang-terangan dengan menampakkan jemaah dakwahnya di tengah masyarakat Makkah. Pada saat itu, ujian dan cobaan Nabi saw. dan para sahabat bertambah berat. Penolakan kaum kafir Quraisy ditampakkan dengan penyiksaan yang mereka lakukan kepada para sahabat. Bahkan mereka berencana membunuh Nabi Muhammad saw.
Ketiga, thalabun nushrah (pencarian pertolongan) dari kekuatan yang mampu memberikan kekuasaan, hingga akhirnya Istilam al-Hukm (penerimaan kekuasaan) seperti hijrah ke Madinah, dengan tujuan akhir membentuk masyarakat berlandaskan syariat Islam dan sistem khilafah global, seringkali melalui partai politik Islam atau gerakan yang fokus pada perubahan sistem secara menyeluruh.
Begitulah Nabi Muhammad saw. berjuang mewujudkan kehidupan Islam dengan menegakkan negara Islam pertama di Madinah yang diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin. Inilah yang patut diteladan dari metode dakwah Rasulullah saw. hingga Islam mampu menguasai 2/3 dunia dan memusnahkan kesombongan kafir penjajah Romawi. Oleh karena itu, untuk melumpuhkan Amerika tidak ada cara lain kecuali dengan persatuan umat Islam di bawah naungan sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah Islamiah. []
Oleh. Ika Mawarningtyas (Direktur Mutiara Umat Institute)
Materi Kuliah Online Uniol 4.0 Diponorogo. Rabu, 14 Januari 2026. Di bawah asuhan Prof. Dr. Suteki, S.H., M. Hum.
#Lamrad #LiveOpperessedOrRiseAgainst