Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jangan Gantungkan Harapanmu pada Makhluk, Sesungguhnya yang Memberi Adalah Allah

Sabtu, 06 Desember 2025 | 03:48 WIB Last Updated 2025-12-05T20:48:39Z
TintaSiyasi.id -- Dalam perjalanan hidup ini, manusia sering terjebak dalam ketergantungan—bukan kepada Allah, tetapi kepada manusia, keadaan, jabatan, peluang, dan fasilitas dunia. Padahal hakikat hidup ini adalah perjalanan kembali menuju Allah, bukan perjalanan mencari tempat bergantung selain-Nya.

Nasihat Ibnu Athaillah As-Sakandari yang pendek ini, sesungguhnya merupakan kompas spiritual:
“Jangan gantungkan harapanmu pada makhluk, karena yang memberi sesungguhnya hanyalah Allah.”
(Al-Hikam)

Kalimat ini tampak sederhana, namun ia mengandung aqidah, tawakal, akhlak, dan hakikat tauhid dalam satu ungkapan.

1. Allah: Sumber Segala Pemberian
Semua yang kita miliki — kesehatan, waktu, tenaga, keluarga, jabatan, ilmu, peluang, bahkan napas — bukan berasal dari usaha kita, tetapi karunia Allah.
Allah berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)

Usaha hanyalah sebab.
Manusia hanyalah perantara.
Tetapi penentu hasil hanyalah Allah.
Karena itu, orang yang hanya mengandalkan usaha tetapi lupa bersandar kepada Allah, akan hidup gelisah, letih, dan penuh ketakutan.
Sedangkan orang yang berusaha sambil bertawakal, hatinya tenang karena ia tahu:
Yang menentukan adalah Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Adil.

2. Bahaya Menggantungkan Harapan pada Makhluk
Menggantungkan harapan kepada makhluk membawa tiga musibah batin:
 a. Kekecewaan
Karena manusia tidak selalu mampu memenuhi harapan.
Hari ini memuji — besok mencela.
Hari ini menolong — besok meninggalkan.
Ibnu Athaillah berkata:
“Jangan berharap kepada sesuatu yang rentan hilang.”
b. Kehinaan Diri
Mengharap pada manusia membuat hati tunduk kepadanya.
Lidah kehilangan kejujuran demi diterima.
Jiwa kehilangan martabat demi disukai.
Siapa menggantungkan nasib pada manusia, maka ia telah menyerahkan kehormatannya kepada sesuatu yang lemah.
 c. Jauh dari Allah
Karena ketergantungan itu adalah hijab—penghalang antara hati dan Tuhannya.

3. Buah Keimanan: Bergantung Hanya kepada Allah
Jika hati menggantungkan harapannya hanya kepada Allah, maka lahirlah:
 a. Ketenangan
Karena satu-satunya tempat bergantung adalah Dzat yang tidak pernah berubah kasih-Nya.
 b. Qana'ah (Merasa Cukup)
Tidak iri, tidak gelisah, tidak haus pengakuan.
 c. Kekuatan Batin
Tidak mudah terpengaruh opini manusia, tidak mudah goyah oleh penolakan, tidak rapuh oleh kehilangan.
 d. Harga Diri dan Kemuliaan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menjaga kehormatannya, Allah akan muliakan dia.”
(HR. Ahmad)

4. Sunnatullah: Rezeki Sudah Dijamin
Setiap jiwa telah ditentukan bagian rezekinya — sebelum ia diciptakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah ruh dicabut hingga ia menyempurnakan rezekinya.”
(HR. Ibn Hibban)
Maka, mencoba mencari rezeki dengan cara haram atau menjilat manusia karena takut miskin, adalah bentuk ketidakyakinan kepada janji Allah.

5. Cara Melatih Hati Agar Bergantung kepada Allah
a. Perbanyak doa dan munajat
Semakin banyak engkau berbicara dengan Allah, semakin sedikit engkau mengharapkan manusia.
b. Biasakan berkata dalam hati:
“Allah cukup bagiku.”
Kalimat ini adalah tameng hati dari kekecewaan.
c. Syukuri setiap nikmat
Syukur membunuh rasa kurang yang memaksa hati bergantung pada manusia.
d. Ikhlas memberi dan berbuat baik
Jangan menunggu balasan dari makhluk — itu pintu kehinaan.
e. Berbaik sangka kepada takdir
Apa yang Allah beri — itulah yang terbaik.
Apa yang Dia tahan — juga rahmat yang belum engkau pahami.

Penutup: Jiwa yang Tergantung pada Allah Tidak Akan Jatuh
Jika engkau bergantung pada manusia, engkau akan jatuh.
Jika engkau bergantung pada harta, engkau akan hancur.
Jika engkau bergantung pada jabatan, engkau akan kecewa.
Tetapi jika engkau bergantung kepada Allah — engkau akan berdiri dengan kemuliaan.
Karena Ia satu-satunya yang:
• Tidak pernah mengecewakan,
• Tidak pernah menolak,
• Tidak pernah mengabaikan doa orang yang mengetuk pintu-Nya.

Doa Penutup

Allahumma, jadikan hati kami hanya bergantung kepada-Mu.
Kuatkan kami dengan tawakal, hiasilah kami dengan qana'ah, dan jadikan Engkau satu-satunya tempat kami berharap, meminta, dan kembali.
Amin.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update