“Banjir bandang dan longsor yang kini
rutin melanda berbagai wilayah Indonesia tidak bisa lagi dipandang hanya
sebagai "bencana alam" dalam pengertian tradisional. Bencana tersebut
merupakan gejala peradaban, yang diartikan sebagai manifestasi dari sistem
kehidupan manusia yang sudah menyimpang dari keseimbangan,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID,
Senin (01/12/2025).
Menurut Intellectual Opinion No.
029, HILMI menyebut Tuhan sedang menegur manusia dan peradabannya di
hadapan air yang meluap, tanah yang runtuh, dan nyawa yang melayang.
“Perubahan iklim adalah kenyataan
ilmiah yang dapat diukur menggunakan instrumen, statistik, dan model numerik,” ujar
HILMI.
HILMI menyebut gejala utamanya
meliputi peningkatan suhu global, laut yang menghangat, dan atmosfer yang
menampung lebih banyak uap air, membuat siklus hujan menjadi lebih ekstrem.
“Hujan mungkin turun dalam waktu
lebih singkat, tetapi intensitasnya semakin lebat, yang dahulu langka kini
menjadi berulang hampir setiap tahun,” ulasnya.
Akar utama dari perubahan iklim dikatakan
HILMI sebagai keserakahan manusia dalam mengonsumsi energi fosil.
“Energi murah dari batu bara, minyak, dan gas yang melahirkan kemajuan
teknologi dan ekonomi global juga menciptakan utang ekologi terbesar dalam
sejarah. Karbon yang menumpuk di atmosfer ini memerangkap panas dan mengubah
sirkulasi iklim global,” urai HILMI.
HILMI juga menyoroti adanya kemunafikan
energi kolektif di dunia. “Negara-negara konsumen energi yang paling rakus
seringkali paling lambat dalam mengubah arah, di mana mereka berbicara tentang
"transisi" namun terus memperluas industri fosil,” tandas HILMI.[] Rere
