Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Banjir dan Longsor di Indonesia Bukan Bencana Alam Tradisional, Melainkan Manifestasi Penyimpangan Sistem

Jumat, 05 Desember 2025 | 05:13 WIB Last Updated 2025-12-04T22:13:10Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa banjir bandang dan longsor yang kini rutin melanda berbagai wilayah Indonesia tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai "bencana alam" dalam pengertian tradisional sebagai manifestasi dari sistem kehidupan manusia yang sudah menyimpang dari keseimbangan.

 

“Banjir bandang dan longsor yang kini rutin melanda berbagai wilayah Indonesia tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai "bencana alam" dalam pengertian tradisional. Bencana tersebut merupakan gejala peradaban, yang diartikan sebagai manifestasi dari sistem kehidupan manusia yang sudah menyimpang dari keseimbangan,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Senin (01/12/2025).

 

Menurut Intellectual Opinion No. 029, HILMI menyebut Tuhan sedang menegur manusia dan peradabannya di hadapan air yang meluap, tanah yang runtuh, dan nyawa yang melayang.

 

“Perubahan iklim adalah kenyataan ilmiah yang dapat diukur menggunakan instrumen, statistik, dan model numerik,” ujar HILMI.

 

HILMI menyebut gejala utamanya meliputi peningkatan suhu global, laut yang menghangat, dan atmosfer yang menampung lebih banyak uap air, membuat siklus hujan menjadi lebih ekstrem.

 

“Hujan mungkin turun dalam waktu lebih singkat, tetapi intensitasnya semakin lebat, yang dahulu langka kini menjadi berulang hampir setiap tahun,” ulasnya.

 

Akar utama dari perubahan iklim dikatakan HILMI sebagai keserakahan manusia dalam mengonsumsi energi fosil.



“Energi murah dari batu bara, minyak, dan gas yang melahirkan kemajuan teknologi dan ekonomi global juga menciptakan utang ekologi terbesar dalam sejarah. Karbon yang menumpuk di atmosfer ini memerangkap panas dan mengubah sirkulasi iklim global,” urai HILMI.


HILMI juga menyoroti adanya kemunafikan energi kolektif di dunia. “Negara-negara konsumen energi yang paling rakus seringkali paling lambat dalam mengubah arah, di mana mereka berbicara tentang "transisi" namun terus memperluas industri fosil,” tandas HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update