Pendahuluan
TintaSiyasi.id — Di antara tanda kemuliaan para ulama salaf adalah kejernihan hati dan ketajaman pandangan mereka dalam membaca hakikat kehidupan manusia. Salah satu di antaranya adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali — sang hujjatul Islam, pembaharu abad kelima hijriah, dan dokter ruhani yang menyingkap penyakit hati umat manusia.
Dalam kitab Mukâsyafatul Qulûb, beliau menyampaikan sebuah peringatan lembut namun mengguncang hati bagi siapa pun yang menapaki jalan menuju Allah:
"Barang siapa mengaku tiga perkara tanpa membersihkan diri dari tiga perkara yang lain, maka ia adalah orang yang tertipu."
Ungkapan ini tampak sederhana, namun sesungguhnya merupakan peta ruhani yang dalam. Ia mengajarkan bahwa jalan menuju Allah bukan sekadar kata-kata, bukan pula pengakuan, melainkan perjuangan membersihkan hati dari kotoran duniawi yang menutupi cahaya iman.
Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan tiga hal yang seringkali menipu manusia dalam perjalanan spiritualnya:
1. Mengaku Menikmati Rasa Manis Dzikir kepada Allah,
Sementara Hatinya Masih Mencintai Dunia
Dzikir sejati bukan hanya gerak lidah, melainkan hadirnya hati di hadapan Allah. Ia adalah hubungan batin antara hamba dengan Tuhannya, sebuah percakapan cinta yang lembut dan mendalam.
Namun, bagaimana mungkin seseorang mengaku telah merasakan manisnya dzikir, sementara hatinya masih dipenuhi cinta dunia — kedudukan, harta, pujian, dan keinginan-keinginan fana?
Cinta dunia ibarat racun halus yang membunuh ketulusan hati.
Dunia yang berlebihan membuat hati keras, pikiran gelisah, dan dzikir kehilangan maknanya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.”
(H.R. Baihaqi)
Imam Al-Ghazali ingin menegaskan bahwa manisnya dzikir hanya akan dirasakan oleh hati yang bebas dari keterikatan dunia. Saat dunia tidak lagi menguasai hati, barulah dzikir menjadi sumber ketenangan sejati.
Dzikir tanpa pembersihan hati hanyalah suara kosong; tetapi dzikir yang keluar dari hati yang bersih, menjadi cahaya yang menembus langit.
2. Mengaku Mencintai Keikhlasan dalam Beramal, Tetapi Senang Dipuji Manusia
Keikhlasan (ikhlas) adalah inti dari seluruh amal ibadah. Ia berarti memurnikan niat hanya karena Allah semata. Amal yang ikhlas bagaikan air jernih yang mengalir dari mata air keimanan. Namun begitu sedikit orang yang benar-benar menjaganya, karena riya dan ujub mengintai dari setiap sudut hati.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Riya adalah penyakit halus yang lebih samar dari semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap.”
Orang yang masih senang dipuji dan takut dicela, sejatinya belum ikhlas. Ia masih menjadikan manusia sebagai cermin nilai amalnya, bukan ridha Allah. Padahal pujian manusia tidak menambah kemuliaan di sisi Allah, dan celaan manusia tidak mengurangi nilai seorang hamba yang tulus.
Ikhlas itu bukanlah melupakan manusia, tetapi meniadakan manusia dari niat beramal. Seorang sufi pernah ditanya: “Kapan amal menjadi ikhlas?”
Ia menjawab: “Ketika engkau tidak peduli siapa yang melihatmu, dan siapa yang tidak melihatmu.”
Hati yang ikhlas akan tetap beramal meski tak ada mata yang menyaksikan, tak ada pujian yang datang, dan tak ada balasan yang segera tampak di dunia. Karena ia yakin, Allah Maha Melihat segala amal, dan tidak akan menyia-nyiakannya.
3. Mengaku Mencintai Sang Pencipta, Tetapi Tidak Merasa
Rendah di Hadapan-Nya
Cinta kepada Allah adalah puncak dari seluruh perjalanan ruhani. Ia adalah maqam tertinggi, yang melahirkan ketaatan, kerendahan, dan kepasrahan total.
Namun cinta sejati tidak mungkin lahir dari hati yang masih dipenuhi rasa bangga diri. Orang yang benar-benar mencintai Allah akan merasa hina di hadapan kebesaran-Nya, karena ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Dzat Yang Maha Agung.
Imam Al-Ghazali menegaskan:
“Cinta kepada Allah adalah buah dari ma’rifat kepada-Nya. Siapa yang mengenal kebesaran Allah, maka ia akan hancur rasa egonya, lenyap keakuannya, dan tunduk sepenuhnya di hadapan-Nya.”
Kerendahan diri (tawadhu‘) adalah tanda cinta yang tulus. Sebaliknya, kesombongan adalah penghalang terbesar menuju Allah. Fir‘aun, Iblis, dan Qarun binasa bukan karena kurang ilmu, melainkan karena menolak tunduk kepada kebenaran.
Seseorang yang benar-benar mengenal Allah akan selalu berkata seperti Nabi ﷺ:
“Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (H.R. Muslim)
Maka, cinta kepada Allah bukan sekadar pengakuan, tetapi keadaan hati yang penuh kerendahan, syukur, dan penyerahan diri.
Refleksi: Menyucikan Hati Sebelum Mengaku
Nasihat Al-Ghazali ini menggugah setiap jiwa yang beriman. Beliau mengingatkan bahwa jalan menuju Allah dimulai dari pembersihan hati.
Orang yang mengaku beriman, berdzikir, beramal, dan mencintai Allah, tetapi tidak memerangi penyakit hati, sejatinya sedang menipu dirinya sendiri.
Dalam setiap pengakuan spiritual, ada ujian penyucian batin yang harus dilewati:
• Dunia harus keluar dari hati, bukan dari tangan.
• Pujian harus hilang dari tujuan, bukan dari masyarakat.
• Keakuan harus lenyap di hadapan keagungan-Nya.
Hanya dengan itu, dzikir menjadi nikmat, amal menjadi ringan, dan cinta menjadi sejati.
Penutup: Jalan Menuju Kejujuran Ruhani
Imam Al-Ghazali mengajarkan kepada kita bahwa agama ini bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan hati. Perjalanan dari kegelapan nafsu menuju cahaya ma’rifat. Dari kepura-puraan menuju kejujuran ruhani.
Barang siapa membersihkan dirinya dari tiga penyakit ini — cinta dunia, cinta pujian, dan cinta diri — maka Allah akan membukakan baginya tiga karunia agung:
1. Nikmatnya dzikir yang menenangkan.
2. Keikhlasan amal yang diterima.
3. Cinta Ilahi yang mengangkat derajat ruh.
Semoga kita termasuk hamba yang jujur dalam pengakuan, tulus dalam penghambaan, dan terus berjuang membersihkan hati demi meraih cinta Allah yang hakiki.
Cinta dunia, jauhkan kami dari riya dan ujub, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang rendah hati di hadapan-Mu, hingga kami dapat mencintai-Mu dengan sebenar-benarnya cinta.”
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)