"Jadi sudah lama Sudan di mata Barat dianggap
kalau ada individu itu radikal, orang radikal, kelompok radikal, ini negara radikal,
itulah Sudan," ucapnya di kanal YouTube Tabloid Media Umat; Peran
AS Dalam Konflik Sudan dan Dunia Islam, Ahad (16/11/2025).
Menurut UIY, Sudan itu di mata Islam dinilai kurang
Islami, namun bagi Barat sangat Islami. “Sudan dianggap negara radikal oleh
Barat,” tandasnya.
Lanjutnya, ia menjelaskan pelemahan Sudan memang sudah
sejak lama diinginkan Barat dan Amerika Serikat (AS). “Hal ini tidak lepas dari
melimpahnya kekayaan sumber daya alam terutama tambang emas,” sebut UIY.
"Paling penting bahwa keislaman Sudan itu terus
tumbuh, terutama dan ini memang tidak bisa dilepaskan dari dakwah. Sebelumnya
di antaranya paling menonjol adalah apa yang disebut dengan gerakan Mahdiah
Muhammad Ahmad Al-Mahdiah. Ini yang sangat besar pada waktu itu
pengaruhnya," jelasnya.
"Kemudian dilanjutkan dengan Ihwanul Muslimin.
Ihwanul Muslimin memberikan pengaruh besar di dalam dakwah di Sudan, dan
kemudian ada Hizbut Tahrir juga di sana," tambahnya.
Lebih lanjut, UIY menerangkan bahwa pada tahun 2000-an
sempat terjadi demo besar di Sudan, kurang lebih diikuti satu juta umat Islam.
“Demo itu menuntut diterapkannya syariat,” ungkapnya.
"Nah, jadi dinamika semacam itulah yang
diperhatikan oleh Barat, karena itu apa yang menjadi kepentingan Barat adalah
bahwa negara ini harus dilemahkan. Bagaimana caranya? Dengan mendorong
terjadinya disintegrasi, disintegrasi Sudan Selatan terhadap Sudan
Selatan," terang pria kelahiran Yogyakarta itu.
Alhasil, ia menegaskan peran AS di dalam arena politik
Sudan tidak bisa dinafikan, lantaran AS yang menjadi mediator pada
Comprehensive Peace Agreement (CPA) atau perjanjian perdamaian komprehensif
tahun 2005.
“Perjanjian ini merupakan kesepakatan pemerintah Sudan
dan Sudan People's Liberation Movement/Army (SPLM/A) untuk mengakhiri perang
saudara yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade,” ulasnya.
"Atas dasar CPA ini kemudian terjadi referendum. 98
persen kurang lebih rakyat Sudan Selatan memilih memisahkan diri dari Sudan
Utara. Meski kita tahu referendum itu tidak bebas dari intervensi sebagaimana
referendum di Timor Timur dahulu, karena referendum jalan yang dianggap paling
absah untuk melegitimasi pemisahan satu wilayah dari induknya," paparnya.
"Karena itu siapa pun yang berkepentingan dalam
tanda petik menyukseskan referendum dengan memenangkan pilihan yang mereka
inginkan, yaitu pemisahan Selatan dari Utara. Jadi ini adalah proses pelemahan
yang sangat signifikan, bahwa selepas Selatan berpisah dari Utara maka Sudan
Utara kehilangan 75 persen cadangan minyak," pungkasnya.[] Taufan
