Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ulama: Rasulullah saw Memberikan Keteladanan Sistem dan Sosok Menjadi Kepala Negara

Kamis, 02 Oktober 2025 | 23:18 WIB Last Updated 2025-10-02T16:19:04Z
TintaSiyasi.id -- Membincang pribadi Rasulullah saw., selain sebagai utusan Allah Swt., Nabi Muhammad saw. ulama K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A. menyampaikan, Nabi saw. merupakan seorang sosok pemimpin teladan sekaligus memberikan contoh sistem kepemimpinan. “Rasulullah saw mengajari kita tentang sistem kepemimpinan agar menjadi kepala negara yang baik. Mulai dari pertama misalnya, Rasulullah mengatakan, pemimpin tidak akan pernah membohongi rakyatnya. Itu kalimat Beliau,” ujarnya dalam Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H: Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan, Sabtu (27-9-2025) di YouTube One Ummah TV.

Meksipun terletak ada perbedaan, katanya, yaitu Rasulullah saw maksum sebagai Nabi saw. atau utusan Allah Swt. sedangkan para khalifah setelahnya tidak meiliki sifat maksum tersebut. Sehingga menurut Kiai Hafidz, umat Islam harus bisa mengikuti Nabi saw. dari aspek kepemimpinan yang dicontohkan dalam penerapan syariat Islam sebagai kepala negara di Madinah. Sebab Nabi saw. menjadi seorang kepala negara posisinya adalah manusia biasa yang bisa ditiru.

Ia menjelaskan, sementara aspek kenabian yang membawa risalah dari Allah Swt. dan memiliki mukjizat merupakan keistimewaan seorang Rasul yang menjadikannya maksum. “Ini jadi bukan soal, ya orang-orang kan sering bilang ya, Nabi saw. kan punya mukjizat, ya wajar. Seolah-olah Nabi saw. digambarkan kayak Superman. Padahal Rasulullah saw. itu mengatakan, inna ma’ana basharun mistlukum. Aku ini manusia biasa seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu. Nabi saw. itu juga dia sakit kayak kita. Oleh karena itu, termasuk kesalahan besar kaum Muslim, jika mempelajari sosok Nabi saw. sebatas kulit atau permukaannya saja,” terangnya.

Pemikir

Terkait dengan pemikiran, Rasulullah saw., jelas Kiai Hafidz, adalah sosok yang sangat detail, baik di level konsep dan operasional. Ia  mengatakan demikian seperti yang telah tertulis dalam Kitab Madrasatu Muhammad karya Syekh Jihad al-Turbani pada saat peristiwa hijrah Nabi saw. “Contoh begini, dalam buku Madrasatu Muhammad yang ditulis oleh Syeikh  Jihad al-Turbani, pada saat peristiwa hijrah, ketika proses hijrah, mulai dari proses keluar dari rumah, siapa yang menggantikan Nabi saw. di tempat tidur, sampai kemudian keluar rumah ketemu Abu Bakar Ash-Shiddiq ra lalu meninggalkan rumahnya dan tidak singgah di tempat sumber air,” bebernya.

Ia menambahkan, Nabi saw. juga tidak langsung berangkat ke Madinah tetapi singgah di Gua Tsur. “Kemudian membentuk tim suplai makanan selama tiga hari hingga menuju Madinah harus bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Langkah-langkah operasional demikian dilakukan oleh Nabi saw adalah dalam rangka menghindari bekas jejaknya agar tidak diketahui. Syekh Jihad At-Turbani menjelaskan bahwa hal tersebut menandakan betapa detailnya Nabi saw. di dalam memikirkan persoalan,” paparnya.

Selanjutnya contoh lain, kata Kiai Hafidz,  dalam peristiwa proses baiat Aqabah yang sangat terjaga dan tidak bocor. “Tidak ada yang membocorkan, kecuali iblis. Iblislah yang membocorkannya yang menyamar sebagai seorang lelaki. Begitu pun ketika Rasulullah saw. keluar dari Gua Tsur tidak ada yang tahu. Kemudian Rasulullah saw singgah di tenda Ummu Ma’bad, iblis bocorkan lagi. Jadi itu menunjukkan betapa Rasulullah saw. adalah sosok yang luar biasa cara berpikirnya,” jelasnya.

Banyak di antara umat Islam, menurut Kiai Hafidz, tidak paham bahwa sosok Rasulullah saw. adalah pemikir yang rinci dan implementasi kerincian pemikiran itulah yang membuat dakwah Nabi saw. mencapai keberhasilan dalam waktu singkat. “Itu diimplementasikan Rasulullah saw. Sampai kemudian tiba di Madinah, Rasulullah saw. menjadi pemimpin di sana. Coba bayangkan dalam waktu 10 tahun seluruh Jazirah Arab kalau dihitung sekarang terdiri dari 10 negara, Arab Saudi, Quwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yaman, semuanya takluk dalam 10 tahun di bawah kepemmipinan Nabi saw. Kalau Rasulullah saw. tidak memiliki pemikiran yang hebat enggak akan mungkinkan?“ tegasnya.

Keteladanan

Pidato Nabi saw. dia atas mimbar ketika menjelang wafatnya, menurut Kiai Hafidz, menjadi bukti selanjutnya keteladanan sosok pemimpin negara. Beliau saw. meminta keridaan umat (rakyat) atas sikap selama menjadi pemimpin di tengah-tengah kaum muslim. “Nabi saw. berkata, selama aku memimpin siapa yang hartanya pernah kuambil, ini hartaku, silakan ambil! Siapa yang punggungnya pernah aku cambuk selama aku memimpin, ini cambuk, silakan balas! Itu Rasulullah saw.,” tambahnya. 

Bahkan, ketika ada seseorang yang mencuri dan seorang sahabat mendatangi Nabi saw. untuk melunakkan hati Nabi saw., K.H. Hafidz mengungkapkan, malah Nabi saw. menunjukkan ketegasan dalam menjalankan syariat Allah Swt. sekalipun darah dagingnya yang menjadi pelaku. “Maka Nabi saw. mengatakan, andai Fatimah yang mencuri, aku sendri yang akan memotong tangannya. Artinya Rasulullah saw. saat itu sedang menunjukkan keteladanan sebagai seorang kepala negara,” terangnya.

Ia menyampaikan, hukum ditegakkan sangat luar biasa di masa Nabi saw. dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan hingga militer. Selama Nabi saw. memimpin Madinah telah terjadi sekitar 150 peperangan kecil, besar, dan semuanya adalah kewajiban umat Islam untuk itibak terhadap perbuatan Nabi saw. dalam menjadi kepala negara. “Rasulullah saw. telah mewariskan sebuah hadis yang menggambarkan fase-fase kehidupan umat Islam yang kelak akan kembali lagi seperti fase kenabian (Madinah), yang juga merupakan penjelasan tentang sistem kepempinan. Dalam hadis, takunu nubuwwatu fii kum mashaalah antakun, tsumma yarfa’ aha idza saa’a. Itu fase yang disebut dengan daulah nubuwwah. Setelah itu summa takunu khilafah, watakunu  mashaallah an takunu, yarfau idza saa yarfauha (kalau Allah berkehendak diakhiri). Kemudian setelah itu apa? Mulkan adhan, seterusnya mulkan jabriyyan. Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan, summa takukunu khilafah ala manhaj nubuwaah. Tsumma sakata,” ujarnya.  

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan Al-Bazar).

Hadis tersebut menerangkan kepada kaum muslim, katanya, Rasulullah saw. telah memberikan gambaran terkait dengan sistem kepemimpinan. “Itulah yang kemudian Rasulullah saw. katakan, ‘alaikum bissunnati wasunnati khulafa warrasyidina minba’di abdu alaiha min nawajidhi. Kalian harus pegang teguh sunahku, sunah para khulafa setelahku, dan gigitlah jangan dilepas. Ketika umat melepas pada tahun 1924, maka hancurlah umat enggak karuan-karuan seperti ini,” pungkasnya. []M. Siregar.


Opini

×
Berita Terbaru Update