TintaSiyasi.id -- Ketua KPAD Karawang, Yana Aryana, mengungkapkan sejak Januari sampai Agustus tahun ini, sebanyak 476 kasus baru HIV/AIDS ditemukan. Kasus paling banyak didominasi LSL (laki-laki seks laki-laki) sejumlah 163 kasus baru, sisanya berasal dari populasi umum dan beberapa kelompok rentan lain, di antaranya ibu rumah tangga, pekerja seks, hingga pasien tuberkulosis. Bahkan, ditemukan 21 kasus baru pada usia 15–19 tahun (www.tvberita.co.id, 26/09/25).
Belum lagi, kasus perundungan menambah daftar hitam kondisi generasi yang kian mengkhawatirkan, sebab terjadi berulang walau sudah ada TPPK di sekolah. Seperti kasus perundungan yang ditemukan oleh Koordinator Pengawas KCD Wilayah III, Rojali, yang menyatakan bahwa kejadian perundungan pelajar SMKN di Cikarang Barat terjadi di luar dugaan, karena kelompok basis siswa masih eksis walau sudah diawasi guru dan TPPK berjalan optimal (www.radarkarawang.id, 26/09/25).
Bicara soal generasi, pastilah semua orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi penerus bangsa yang mampu memajukan masa depan Indonesia supaya lebih baik. Namun alih-alih memperbaiki, justru di antara mereka ditemukan ada yang terjangkit penyakit menular HIV/AIDS, terlibat dalam kasus perundungan, juga narkoba.
---
Sekularisme Mengancam Generasi
Sungguh sangat disayangkan, usia muda yang seharusnya produktif menjadi sia-sia, sebab generasi kehilangan jati diri dan sibuk mencari kesenangan dunia. Generasi saat ini terhanyut dalam kenikmatan semu yang dibuat oleh sistem sekuler-liberal, hingga membuat akal dan pikiran generasi pun rusak. Sebab sistem tersebut memisahkan agama dengan kehidupan, juga menjadikan kebebasan sebagai hal yang mutlak walau melanggar norma agama, seperti halnya pelaku penyimpangan seksual.
Di satu sisi, negara seakan kurang peka terhadap apa yang benar-benar dibutuhkan generasi saat ini. Negara justru terlihat hanya peduli pada perbaikan ekonomi, sehingga generasi diarahkan untuk produktif dalam artian setelah lulus sekolah atau kuliah harus sudah siap kerja, walau nihil nilai ruhaniyahnya. Tak jarang remaja akhirnya terjebak dalam mental illness, individualisme, dan gila kerja, sebab materi menjadi tujuan utama menjalani kehidupan demi bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan sehari-hari di tengah himpitan ekonomi yang sulit karena dikuasai oleh oligarki dan elit pengusaha.
Sekularisme-kapitalisme-liberalisme hanya akan menjadi luka yang terus membusuk dan merusak kehidupan manusia, baik dalam segi ekonomi, pergaulan, maupun pendidikan. Padahal, Islam memandang generasi muda sebagai aset yang harus dibimbing dan dilindungi dari segala macam pemikiran di luar Islam yang dapat menyesatkan manusia, seperti sekularisme, kapitalisme, nasionalisme, individualisme, hedonisme, komunisme, atau liberalisme.
---
Islam Solusi Hakiki
Islam memiliki sistem kehidupan khas berlandaskan akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Setiap aturan yang terpancar dari Islam adalah cahaya yang dapat menjadi pelita menerangi kehidupan serta menyelamatkan manusia dari kegelapan dan ketidakadilan dunia. Sebagaimana firman-Nya:
> "Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil..." (QS. Al-Hadid: 25)
Islam memandang bahwa seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, harus berasaskan akidah Islam. Untuk itulah, sejak usia dini dalam ruang lingkup keluarga atau sekolah, dasar pendidikan yang digunakan adalah akidah Islam. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam. Sehingga ketika anak sudah mencapai usia baligh, ia dapat beramal berdasarkan hukum syara dan menjadikan Islam solusi dalam menyelesaikan problem kehidupannya.
Selain itu, negara dalam sistem Islam akan turut berperan dalam memperkuat akidah Islam umat dengan cara membangun suasana keimanan. Maka, setiap informasi maupun edukasi yang boleh tersebar di masyarakat hanyalah yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Negara juga akan menutup akses tersebarnya tsaqafah Barat semacam paham liberal serta melarang tersebarnya tayangan pornoaksi, pornografi, atau tindak kekerasan. Dengan begitu, generasi yang terdidik oleh Islam akan berkecimpung dalam masyarakat dengan didasari amal perbuatan yang berpatokan pada Islam, memiliki spirit Islam yang tinggi, dan akan disibukkan dalam berlomba melakukan amal kebaikan serta amar makruf nahi mungkar.
Namun, negara yang mampu menerapkan Islam secara sempurna adalah sistem pemerintahan Islam: Khilafah. Hanya Khilafah satu-satunya sistem yang dapat mencegah terjadinya perundungan dan menjaga sistem pergaulan, sebab Khilafah menerapkan sanksi hukum yang tegas bagi seluruh perilaku kriminal. Dengan demikian, masyarakat akan merasa takut melakukan tindak kejahatan atau pelanggaran hukum syara.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Essy Rosaline Suhendi
Aktivis Muslimah