TintaSiyasi.id -- Refleksi atas Kitab Kifayatul Atqiya
Dalam setiap zaman, umat Islam selalu membutuhkan bimbingan dari para ulama. Mereka ibarat pelita yang menerangi jalan manusia agar tidak tersesat di kegelapan dunia. Namun, tidak semua ulama memiliki kualitas yang sama. Dalam kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, Sayyid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi—seorang ulama besar abad ke-19—menjelaskan perbedaan mendasar antara ulama akhirat dan ulama dunia.
Ulama Dunia dan Ulama Akhirat
Ulama dunia adalah mereka yang menjadikan ilmu sebagai alat untuk menggapai kepentingan duniawi: harta, pangkat, popularitas, dan pujian manusia. Mereka sering bergaul dengan penguasa zalim, condong pada kemewahan, dan terkadang menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah.
Ulama akhirat sebaliknya, menjadikan ilmu sebagai tanggung jawab dan amanah besar dari Allah SWT. Mereka hadir sebagai pengingat, pembimbing, sekaligus teladan yang menuntun umat menuju ridha Allah dan keselamatan akhirat.
Imam al-Ghazali juga pernah menegaskan hal yang sama dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa ulama sejati adalah pewaris para nabi yang mewariskan ilmu bukan untuk diperdagangkan, melainkan untuk diamalkan dan diajarkan demi keselamatan manusia.
Tanda-Tanda Ulama Akhirat Menurut Kifayatul Atqiya
1. Ilmunya Membimbing kepada Amal
Ilmu bukan sekadar kata-kata atau teori, melainkan harus membuahkan amal shalih. Ulama akhirat tidak hanya piawai berfatwa, tetapi menjadi teladan hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu yang Allah tidak memberikan manfaat dari ilmunya.”
(HR. Thabrani)
Ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi bumerang di akhirat.
2. Ikhlas dan Tidak Menjadikan Ilmu sebagai Sarana Dunia
Ulama akhirat tidak mengajar atau berdakwah untuk mencari kedudukan atau kekayaan, melainkan semata-mata karena Allah. Mereka sadar bahwa ilmu adalah amanah, bukan komoditas.
Allah SWT memperingatkan:
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di akhirat tidak akan mendapat apa-apa.”
(QS. Hud: 15)
3. Tawadhu’ dan Rendah Hati
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia merasa kecil di hadapan Allah. Ulama akhirat tidak menyombongkan diri. Tawadhu’ mereka menjadi magnet yang mendekatkan manusia pada kebenaran.
Imam Syafi’i berkata:
“Semakin aku bertambah ilmu, semakin aku sadar akan kebodohanku.”
4. Menjaga Diri dari Penguasa Zalim
Ulama akhirat tidak tergoda untuk dekat dengan penguasa yang zalim hanya demi kepentingan pribadi. Mereka berani menasihati, meski harus menghadapi risiko besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
5. Mengajak Umat kepada Zuhud dan Takut kepada Allah
Ulama akhirat menanamkan dalam hati manusia kecintaan kepada Allah, kesadaran akan fana-nya dunia, serta urgensi mempersiapkan bekal akhirat. Nasihat mereka tidak menghibur telinga semata, melainkan mengetuk hati untuk kembali kepada Allah.
6. Perkataan Sesuai Perbuatan
Mereka tidak menyuruh sesuatu yang mereka sendiri tinggalkan, dan tidak melarang sesuatu yang mereka sendiri lakukan. Integritas ini membuat nasihat mereka hidup dalam jiwa umat.
Allah mengecam keras ulama yang munafik:
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan kebajikan), sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?”
(QS. Al-Baqarah: 44)
7. Waktu Dihabiskan untuk Ibadah dan Dzikir
Ulama akhirat lebih banyak menyibukkan diri dengan ibadah, doa, dan dzikir. Mereka tidak mencari popularitas, melainkan kedekatan dengan Allah. Ilmu mereka tidak hanya menyinari lisan, tetapi juga menembus hati.
Refleksi: Ulama sebagai Cermin Umat
Ketika ulama akhirat banyak muncul, umat akan hidup dalam cahaya hidayah. Sebaliknya, ketika ulama dunia lebih dominan, umat akan ditimpa bala dan fitnah. Inilah sebabnya Sayyid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya menekankan agar umat berhati-hati dalam memilih panutan.
Imam Ibnul Mubarak pernah berkata:
“Apabila ulama rusak, maka rusaklah umat. Karena manusia akan meniru ulama, baik atau buruknya.”
Penutup: Menjadi Penuntut Ilmu Akhirat
Artikel ini tidak hanya menjadi pengingat bagi para ulama, tetapi juga bagi setiap penuntut ilmu. Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjaga niat dalam menuntut ilmu agar tetap lurus.
Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu tidak akan menerangi hati yang gelap karena riya’, ujub, atau cinta dunia.
Maka, marilah kita berdoa sebagaimana doa para salaf:
“Allahumma ij‘alna minal-ladzīna yastami‘ūna al-qaula fayattabi‘ūna ahsanah. Allahumma aj‘al ‘ilmana hujjatan lanā, wa lā taj‘alhu hujjatan ‘alainā.”
(Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ya Allah, jadikanlah ilmu kami sebagai hujjah yang menyelamatkan kami, dan jangan jadikan ia sebagai hujjah yang membinasakan kami).
Kesimpulan:
Ulama akhirat adalah pewaris sejati para nabi, yang ikhlas, tawadhu’, beramal dengan ilmu, menjauhi penguasa zalim, dan selalu menuntun umat kepada Allah. Kitab Kifayatul Atqiya hadir sebagai cermin agar kita mampu membedakan siapa ulama yang layak diikuti dan siapa yang patut diwaspadai.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)