“Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti ia telah menghilangkan nikmat itu. Dan siapa yang mensyukurinya, maka ia telah mengikatnya dengan tali kekangnya.”
Sementara Sayyidina Umar bin Khaththab RA mempertegas dengan sebuah kiasan yang indah:
“Nikmat adalah hewan liar, ikatlah ia dengan syukur.”
Dua kalimat ini, meskipun ringkas, menyimpan pelajaran mendalam tentang bagaimana menjaga nikmat agar tetap abadi dalam hidup kita.
1. Hakikat Nikmat: Karunia dan Ujian
Nikmat bukan sekadar pemberian Allah yang bisa kita nikmati sesuka hati. Ia juga merupakan ujian yang akan dipertanggungjawabkan. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:
“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8)
Maka, ketika seseorang lalai, merasa nikmat itu datang dari dirinya sendiri, atau menggunakannya untuk hal yang tidak diridhai Allah, sejatinya ia telah mengkhianati nikmat tersebut. Seperti hewan liar, nikmat akan pergi dan tak lagi bisa dikuasai.
2. Syukur: Tali Kekang yang Menjaga Nikmat
Mengapa syukur disebut sebagai tali kekang? Karena sebagaimana seekor unta atau kuda yang tak diikat akan melarikan diri, begitu pula nikmat. Syukur adalah ikatan hati, lisan, dan amal yang membuat nikmat itu tetap berada di sisi kita.
Allah berjanji dalam firman-Nya:
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya menjaga, tetapi juga menambah nikmat. Sebaliknya, kufur nikmat akan mendatangkan hilangnya keberkahan bahkan bencana.
3. Tiga Dimensi Syukur yang Hakiki
Syukur tidak sebatas ucapan alhamdulillah yang keluar dari lisan. Ia memiliki tiga dimensi penting:
1. Syukur hati – meyakini dengan sepenuh jiwa bahwa segala nikmat berasal dari Allah, bukan murni dari jerih payah manusia.
2. Syukur lisan – memuji Allah, mengingat karunia-Nya, serta menceritakan nikmat itu dengan kerendahan hati, bukan kesombongan.
3. Syukur amal – menggunakan nikmat untuk tujuan yang diridhai Allah: harta untuk berbagi, ilmu untuk mengajar, kesehatan untuk beribadah, waktu untuk kebaikan.
Tanpa dimensi amal, syukur hanya menjadi hiasan kata tanpa makna.
4. Akibat Mengabaikan Syukur
Seperti diingatkan Ibnu ‘Athaillah, nikmat yang tidak disyukuri sejatinya sudah hilang meskipun masih ada wujudnya. Harta yang banyak tanpa syukur akan terasa sempit, ilmu yang tinggi tanpa syukur akan melahirkan kesombongan, dan kesehatan tanpa syukur akan dipakai untuk berbuat maksiat.
Hilangkan syukur, maka hilanglah keberkahan. Bahkan, dalam sejarah banyak umat yang dibinasakan karena kufur nikmat. Nikmat yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi azab.
5. Syukur sebagai Jalan Keberlanjutan Hidup
Umar bin Khaththab memberi perumpamaan sederhana namun tajam: “Nikmat adalah hewan liar, ikatlah ia dengan syukur.”
Artinya, nikmat tidak pernah menetap selamanya tanpa ikatan. Syukur adalah cara agar nikmat tidak berubah menjadi musibah. Nikmat yang diikat dengan syukur akan jinak, bermanfaat, dan bertambah.
Seorang ulama mengatakan: “Barang siapa yang menjadikan syukur sebagai pakaian hidupnya, maka nikmt akan selalu datang kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.”
6. Menjadi Hamba yang Bersyukur
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa hamba-Nya yang benar-benar bersyukur sangatlah sedikit (QS. Saba’: 13). Maka, kita dituntut untuk melatih diri agar menjadi bagian dari sedikit orang itu.
Cara sederhana memulai syukur:
• Mengingat nikmat Allah setiap pagi dan malam.
• Membiasakan zikir alhamdulillah dalam segala keadaan.
• Tidak mengeluh atas kekurangan, karena di baliknya ada nikmat yang jauh lebih besar.
• Menjadikan nikmat sebagai jalan taat, bukan jalan maksiat.
Penutup
Nasehat Ibnu ‘Athaillah dan Umar bin Khaththab adalah cahaya bagi kita dalam menjaga keberlangsungan nikmat. Nikmat itu ibarat hewan liar, dan syukur adalah tali pengikatnya. Tanpa syukur, nikmat akan hilang; dengan syukur, nikmat akan langgeng dan bertambah.
Maka marilah kita jadikan syukur bukan hanya sebagai ucapan, tetapi sebagai jalan hidup. Dengan itu, hidup kita akan dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan limpahan nikmat yang terus mengalir dari Allah SWT.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)