Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Resep Jitu Menanggulangi Marah

Sabtu, 20 September 2025 | 06:19 WIB Last Updated 2025-09-19T23:19:33Z
TintaSiyasi.id --Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin

Marah adalah sifat manusiawi yang melekat pada setiap diri. Ia ibarat api dalam sekam—bila terkendali, bisa menjadi energi yang bermanfaat, namun bila dibiarkan membakar, ia akan menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulumiddin, memberikan panduan yang sangat jitu untuk menanggulangi marah sehingga ia tidak berubah menjadi bencana spiritual.

1. Mengenali Hakikat Marah

Al-Ghazali menjelaskan bahwa marah adalah pasukan nafsu yang seringkali ditunggangi setan. Ia bisa merusak akal sehat, menutup cahaya iman, bahkan menyeret seseorang pada tindakan zalim. Kesadaran ini menjadi pondasi utama—bahwa marah bukan sekadar luapan emosi, tetapi ujian besar bagi kemurnian hati.

2. Bahaya Besar di Balik Amarah

• Merusak persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.

• Menjadi pintu dosa seperti ghibah, fitnah, bahkan kekerasan.

• Membuat hati keras dan jauh dari rahmat Allah.

Al-Ghazali menegaskan: orang yang dikuasai amarah ibarat orang mabuk, kehilangan kendali dan tidak tahu akibat buruk perbuatannya.

3. Resep Praktis Meredam Marah

Berdasarkan petunjuk Nabi ﷺ yang dikutip Al-Ghazali, ada langkah-langkah praktis:

Diam: jangan ucapkan sepatah kata pun saat hati terbakar.

Mengubah posisi: jika berdiri, duduklah; jika duduk, berbaringlah.

Berwudhu: karena marah berasal dari api, dan api padam dengan air.

Shalat dua rakaat: menenangkan jiwa, mendekatkan hati pada Allah.

4. Mengubah Marah Menjadi Kekuatan Spiritual

Al-Ghazali tidak mengajarkan kita untuk mematikan marah sama sekali, tetapi mengarahkan marah agar menjadi ghadlab lillah (amarah karena Allah). Marah dibolehkan bila muncul karena melihat agama dilecehkan, kebenaran diinjak, atau kemungkaran merajalela. Inilah marah yang bernilai ibadah, bukan karena kepentingan diri dan hawa nafsu.

5. Doa Penyejuk Hati

Ketika marah menyala, beliau menganjurkan untuk berdoa:

"Allahumma ighfir li dzanbi, wa adzhhib ghaidzha qalbi, wa ajirni minasy-syaithan"

(Ya Allah, ampunilah dosaku, hilangkanlah amarah dari hatiku, dan lindungilah aku dari setan).

Doa ini bagaikan air jernih yang menyirami hati yang gersang oleh bara emosi.

6. Latihan Jiwa dengan Sabar dan Memaafkan

Al-Ghazali menekankan pentingnya melatih jiwa dengan sifat sabar, lapang dada, dan suka memaafkan. Membalas keburukan dengan kebaikan adalah puncak kendali diri. Allah berfirman:

"Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia." (QS. Fussilat: 34).

Penutup Reflektif

Marah adalah fitrah, tetapi tanpa kendali ia akan menjerumuskan. Resep jitu Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengajarkan kita jalan tengah: kendalikan marah dengan kesadaran, padamkan dengan langkah praktis, arahkan dengan niat lillah, dan jinakkan dengan doa serta kesabaran.

Dengan begitu, marah tidak lagi menjadi api yang membakar, tetapi cahaya yang menerangi jalan menuju ridha Allah.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update