TintaSiyasi.id -- Akhir-akhir ini di Konawe Selatan dihebohkan dengan hilangnya anak perempuan yang masih berumur 5 tahun. Setelah dilakukan pencarian selama 2 hari ternyata ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa dan di simpan dalam karung. Sungguh sangat menyayat hati dan sangat sadis pembunuhan ini.
Sebagaimana yang dilansir oleh (Kendariinfo.com, 13/9/2025), hasil autopsi mengungkap adanya tanda kekerasan pada tubuh NNH, anak perempuan berusia 5 tahun (sebelumnya ditulis 4 tahun) yang ditemukan tak bernyawa di dalam karung di kebun Desa Tolu Wonua, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (13/9/2025).
Kasus pembunuhan dan pelecehan seksual terhadap anak, bukanlah kasus pertama terjadi. Kasus ini berulang dan berulang secara terus menerus tanpa solusi solutif. Para pembunuh juga hanya dihukum beberapa tahun saja kemudian bebas begitu saja. Sementara orang tua para korban menyimpan trauma besar atas meninggalnya anak mereka.
Pertanyaannya kemudian apakah hukum penjara bagi para pembunuh dan pelaku pelecehan ini memberikan jera terhadap para pelaku atau orang yang berniat hal sama? Jawabannya tidak. Karena belum satu tahun saja sudah puluhan kasus yang sama. Artinya hukuman penjara bukanlah solusi tepat untuk kasus ini. Dan bukan hanya hukumannya yang bermasalah, tapi pola pikir manusia hari ini sungguh sangat jauh dari Islam, begitu juga dengan media yang ada.
Semua terakumulasi menjadi satu. Dimulai dari sistem hukumnya, sistem sosial, media, dan sistem aturan hidup yang ada tidak mencerminkan kebaikan manusia sedikitpun. Sistem aturan hidup yang ada malah membentuk manusia menjadi binatang bahkan lebih dari binatang.
Jelaslah dalam Al-Quran ketika manusia tidak lagi menggunakan akal pikirannya untuk memahami kehidupan ini dengan yang Allah tetapkan maka dia lebih dari binatang ternak. Sebagaimana firman Allah:
"Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah" (TQS. Al-A'raf ayat 179).
Sistem hari ini itu rusak dan merusak, sadar atau tidak perlahan-lahan kita digiring untuk tidak memiliki rasa kemanusiaan lagi. Karena dasar atau fondasi dalam mengatur kehidupan berdasarkan standar manusia. Sehingga tidak menjadikan halal haram yang ditetapkan oleh sang pencipta. Yang ada hanyalah mberikan manfaat atau tidak.
Misalnya saja terkait dengan konten-konten di media sosial kebanyakkan merusak akal dan mental yang mengarah kepada pelecehan seksual dan negara tidak ikut campur atas hal ini, seakan membiarkan konten-konten yang ada tanpa adanya filter sama sekali. Maka wajarlah kita temukan disistem ini banyak kasus yang sama dan berulang.
Jadi, jika di telisik lebih mendalam masalah pembunuhan dan pelecehan ada banyak fakto penyebabnya, tetapi satulah akar masalahnya yakni menerapkan sistem buatan manusia dan mencampakkan aturan Tuhan. Karena barang siapa yang berpaling dari peringatan Allah maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Sebagaimana yang terjadi hari ini, berbagai masalah muncul dan tidak terkendali yang dipengaruhi oleh tidak menjadikan hukum Allah sebagai pengatur dalam kehidupan.
Sementara Islam adalah agama sekaligus ideologis untuk mengatur seluruh urusan hidup manusia, mulai dari individu, masyarakat, maupun negara. Sehingga yang ada bukan kesempitan hidup, namun keamanan dan kesejahteraan yang didapatkan. Mulai dari sistem sosial maupun sistem hukumnya sangat apik dan memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan dan di dalam hukum tersebut ada kehidupan. Artinya akan memberikan keamanan dan mampu menjaga nyawa, kehormatan, dan akal.
Ini bukan hanya sekedar kata bualan, namun ada bukti nyata baik secara empiris maupun historis. Ketika Rasulullah SAW diutus dan berhijrah dari Mekah ke Madinah menjadi kepala negara sampai berakhir pemerintahan Islam di Turki, sistem hukum dan segala aspek kehidupan yang diterapkan adalah aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. Standar yang dipakai halal haram, bukan berdasarkan hawa nafsu sebagaimana hari ini.
Misalnya saja terjadi penbunuhan, maka si pembunuh juga harus dibunuh agar ada keadilan dan keluarga yang bersangkutan juga tidak merasa terpukul terus-menerus. Sebagaimana kisah penbunuhan terhadap Khalifah Umar bin Khattab, maka pembunuhnya juga dibunuh pada saat itu. Maka jika membunuh harus dibunuh, jika menghilangkan mata, dihilangkan juga matanya. Ini baru dikatakan adil dan setimpal, bukan dengan penjara.
Oleh karena itu, agar semua masalah dalam kehidupan hari ini terselesaikan sampai ke akarnya dan menginginkan keadilan hukum, Islamlah solusinya.
Waallahu a'alam Bish-Bish-Shawab.
Oleh: Siti Aminah, S. Pd
Pegiat Literasi Konawe Selatan