Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pakar Ekonomi Syariah: Masalah Ekonomi di Indonesia Bukan Soal Pertumbuhan

Minggu, 21 September 2025 | 17:57 WIB Last Updated 2025-09-21T11:13:09Z

TintaSiyasi.id -- Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) baru, Purbaya Yudhi Sadewa, yang memandang aksi demo yang terjadi belum lama ini dipicu masalah perlambatan ekonomi, ditanggapi Pakar Ekonomi Syariah Dr. Arim Nasim. Ia tidak setuju lantaran persoalan ekonomi bukanlah terkait pertumbuhan.

 

"Pernyataan dia (Menkeu) kan muncul, ini saya lihat juga, seolah-olah dia menutup diri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu problem ekonomi kita bukanlah soal pertumbuhan,” ujarnya di kanal YouTube Khilafah News; Overconfidence Purbaya Berbahaya untuk Publik dan Ekonomi, Ahad (14/09/2025).

 

Arim menegaskan, faktanya dilihat, ekonomi indonesia itu tumbuh selalu tinggi bahkan dibandingkan dengan negara-negara maju.

 

Ia menambahkan bahwa problem ekonomi di Indonesia terjadi lantaran tingginya pertumbuhan ekonomi namun tidak diikuti dengan distribusi atau pemerataan di setiap lini.

 

“Bahasa para pakar ekonomi perekonomian tumbuh tetapi tidak berkualitas, artinya satu persen pertumbuhan yang berkualitas salah satu indikatornya bisa menyetap sejuta tenaga kerja,” bebernya.

 

"Tetapi faktanya, justru ini juga yang disampaikan oleh Pak Prabowo dalam salah satu kesempatan, dia mengatakan bahwa ekonomi indonesia itu tumbuh bahkan pertumbuhan 4,5 persen walaupun ada manipulasi juga kan di 5 persen, misalnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara Eropa,” ulasnya.

 

Lanjut dikatakan, tetapi dia lupa atau pura-pura tidak tahu kalau pertumbuhan ekonomi itu tidak dinikmati oleh rakyat, yang terjadi ekonomi tumbuh tetapi satu sisi ada kesenjangan semakin lebar.

 

"Jadi problem ekonomi kita bukan semata-mata di pertumbuhan, justru problem ekonomi kita itu adalah di situ ada pertumbuhan tetapi yang menikmati pertumbuhan ekonomi bukan rakyat secara umum tapi hanya segelintir orang," tambahnya menegaskan.

 

Ia membeberkan bukti contohnya ekonomi tumbuh tetapi pengangguran terus bertambah dan ekonomi tumbuh tapi kesenjangan semakin parah. “Misalnya, seperti di paparkan data dari riset Celios di mana menyebutkan 50 orang terkaya di Indonesia itu kekayaannya setara dengan 50 juta warga biasa,” ungkapnya.

 

"Jadi saya melihat pernyataan Menkeu itu justru tidak menggambarkan pemahaman dia terhadap substansi masalah. Indonesia bukan tidak tumbuh ekonominya tetapi yang menikmati hanya segelintir orang," tegasnya.

 

Selain itu, ia menilai pernyataan Menkeu juga tidak tepat tentang 17+8. “Hanya suara sebagian kecil masyarakat. Tampak pernyataan tersebut tidak tahu masalah sebenarnya atau menggampangkan masalah, karena pemicu aksi pada akhir Agustus sebenarnya soal kesenjangan ekonomi,” tandasnya.

 

"Kesenjangan ekonomi di satu sisi, rakyat dihimpit dengan kemiskinan sementara para anggota dewan berfoya-foya. Rakyat untuk mendapatkan gaji tiga juta itu sulitnya minta ampun. Penghasilan mereka terus turun termasuk ojek online, sementara anggota dewan tiga juta setiap hari tapi kerjaannya jingkrak-jingkrak. Nah, fenomena ini yang saya lihat tidak dibaca," terangnya.

 

Alhasil, ia menjelaskan, padahal kalau dilihat fakta menunjukkan kemiskinan di Indonesia sudah luar biasa. “Misalnya kalau menggunakan data versi World Bank itu kemiskinan dengan tingkat pengeluaran masyarakat per orang satu bulan satu juta itu diangka 171 juta orang miskin. Dan kalau versi BPS yang diakui dengan tingkat pengeluaran 595.242 per bulan ada di angka 24,1 juta,” bebernya.

 

"Ini kan bukan angka yang kecil. Harusnya yang dilihat oleh Menteri Keuangan yang baru bukan soal demonya, tetapi pemicu demo itu apa? Kemiskinan yang sudah luar biasa di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita," keluhnya.

 

Arim menegaskan, jadi ada sebuah kesenjangan atau ironi rakyat sulit untuk mendapatkan pekerjaan sementara anggota DPR yang kerjaannya gitu-gitu aja dan mengeluarkan kebijakan justru menyengsarakan rakyat, justru gajinya besar.

 

“Ini harusnya kemudian pesan moral yang harus ditangkap dari aksi tersebut, bukan hanya melihat seolah-olah yang aksi itu hanya segelintir orang yang tidak puas terhadap penghasilan dampak dari pertumbuhan ekonomi yang menurut dia lambat," pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update