TintaSiyasi.id -- Menyelami Nasihat Emas Sayid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya
Pendahuluan
Hidup manusia selalu terikat dengan lingkungan dan pertemanan. Sahabat memiliki peran besar dalam membentuk karakter, akhlak, bahkan nasib akhir seseorang. Karena itu, para ulama menekankan pentingnya memilih teman yang baik.
Sayid Abu Bakar Syatha dalam kitab Kifayatul Atqiya menasihatkan agar seorang hamba tidak berteman dengan pengangguran (orang malas yang enggan berusaha) dan tidak berteman dengan orang yang meremehkan agama, karena pertemanan demikian dapat mengundang bala dan menjauhkan dari keberkahan hidup.
Pengaruh Sahabat dalam Kehidupan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
Artinya, sahabat bukan hanya kawan berbincang, tetapi cermin yang memantulkan siapa diri kita.
Mengapa Jangan Berteman dengan Pengangguran?
Pengangguran yang dimaksud adalah orang yang malas bekerja, tidak berusaha, dan memilih hidup bergantung pada orang lain.
Sifat malas menular. Bila kita terbiasa bersama orang yang malas, kita akan ikut terbiasa menunda amal.
Islam memuliakan usaha. Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik makanan adalah yang diperoleh dari hasil usaha tangan sendiri.” (HR. Bukhari).
Mengundang kehinaan. Kemalasan membuka pintu kefakiran, dan kefakiran dapat mendekatkan kepada kekufuran.
Mengapa Jangan Berteman dengan Orang yang Meremehkan Agama?
Meremehkan agama berarti menganggap enteng kewajiban, meremehkan larangan Allah, atau bahkan memperolok syariat.
Allah berfirman:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Janganlah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66).
Berteman dengan mereka berbahaya karena:
Hati menjadi keras dan iman melemah.
Amal ibadah dianggap sepele.
Mengundang murka Allah dan bala dalam kehidupan.
Nasihat Emas Ulama Salaf
1. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
Imam al-Ghazali menegaskan bahwa sahabat itu ada empat jenis:
1. Sahabat dunia dan agama – inilah yang harus diprioritaskan, karena ia menolong kita dalam urusan dunia sekaligus akhirat.
2. Sahabat agama semata – ia berharga meskipun tidak banyak membantu urusan dunia, sebab ia menjaga kita dari maksiat.
3. Sahabat dunia semata – boleh diambil sekadarnya, tapi jangan terlalu bergantung.
4. Sahabat yang merusak agama – inilah yang wajib dijauhi, sebab ia bisa menyeret kita ke dalam kebinasaan.
Imam al-Ghazali berpesan:
“Jangan berteman kecuali dengan orang yang engkau yakin agamanya, takut kepada Allah, dan menjaga lisannya dari dosa.”
2. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Futuhul Ghaib
Syekh Abdul Qadir al-Jailani menasihatkan:
“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang mendorongmu kepada ketaatan, menunjukkanmu kepada jalan Allah, dan mengingatkanmu bila engkau lalai.”
Beliau juga memperingatkan:
“Berhati-hatilah dari duduk bersama orang-orang lalai, sebab hati akan menjadi keras karena bergaul dengan mereka. Sedangkan bersama orang-orang shalih, hati menjadi hidup.”
3. Hikmah Salaf
Ali bin Abi Thalib RA berkata:
“Janganlah engkau berteman dengan orang fasik, karena ia akan menghiasi amal buruknya di hadapanmu dan berharap engkau serupa dengannya.”
Abdullah bin Mas’ud RA berkata:
“Anggaplah seseorang itu berdasarkan siapa temannya. Bila engkau melihat ia berteman dengan ahli masjid, maka hitunglah ia sebagai ahli masjid. Bila engkau melihat ia bersama ahli maksiat, maka hitunglah ia sebagai ahli maksiat.”
Penutup
Nasihat Sayid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya adalah pagar keselamatan: hindari pengangguran yang malas dan orang yang meremehkan agama. Nasihat ini diperkuat oleh wejangan Imam al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan para sahabat Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan:
Sahabat adalah cermin iman dan jalan menuju surga atau neraka.
Jauhi orang malas dan lalai, dekatilah orang shalih dan bertakwa.
Dengan sahabat yang benar, Allah akan bukakan pintu keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)