Tintasiyasi.id.com -- Indonesia kembali dikejutkan dengan kasus memilukan: seorang ibu di Kabupaten Bandung mengakhiri hidupnya setelah diduga meracuni dua anaknya sendiri. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengategorikan insiden ini sebagai kasus filisida maternal—yakni tindakan seorang ibu yang membunuh anaknya.
Antara News melaporkan, KPAI menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan sebuah tragedi yang perlu perhatian serius karena menunjukkan adanya tekanan berat yang dialami seorang ibu (Antara, 10/9/2025, link).
Kasus serupa sebelumnya juga terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dua anak perempuan berusia 6 dan 3 tahun ditemukan tewas di Pantai Sigandu pada Agustus 2025. Sang ibu, berinisial VM (31), ditemukan bersembunyi di toilet portabel dekat lokasi kejadian setelah diduga membunuh anak-anaknya.
Tragedi ini menambah daftar panjang kasus filisida maternal di tanah air. Menurut MetroTV, para ahli psikologi forensik mengungkap bahwa faktor penyebab filisida bisa beragam: tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, hingga kondisi mental yang tidak tertangani (MetroTV, 9/9/2025, link).
Lebih dari Sekadar Masalah Individu
Dalam kodratnya, seorang ibu adalah sosok dengan kasih sayang paling besar kepada anak-anaknya. Maka, ketika seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya sendiri, jelas ada beban luar biasa yang memutus naluri keibuan yang fitri.
Tidak adil jika persoalan ini dilihat semata dari sisi individu—bahwa sang ibu “hilang akal” atau “kehilangan naluri keibuan”. Tidak pula cukup jika hanya diletakkan pada persoalan keluarga semata.
Kasus filisida maternal adalah fenomena kompleks, yang mencerminkan sistem kehidupan kita yang sedang sakit. Sistem yang gagal menopang keluarga, gagal melindungi perempuan, dan gagal memastikan setiap ibu bisa menjalani perannya dengan mulia.
Tekanan ekonomi, sulitnya akses kesehatan jiwa, lemahnya perlindungan sosial, dan rapuhnya ikatan keluarga—semua berpadu hingga menghasilkan tragedi yang memilukan.
Di tengah sistem kapitalistik, perempuan dituntut untuk berperan ganda. Ia didorong untuk bekerja demi menambah penghasilan rumah tangga, sementara di sisi lain tetap harus menjalankan peran domestiknya sebagai ibu dan istri.
Tidak jarang, beban ganda ini membuat perempuan terhimpit, apalagi jika suami tidak mampu memenuhi nafkah secara layak.
Islam Memuliakan Ibu
Berbeda dengan logika kapitalisme yang seringkali menempatkan perempuan sebagai “alat produksi” tambahan, Islam menempatkan perempuan, khususnya seorang ibu, pada posisi yang sangat mulia.
Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya siapa orang yang paling berhak mendapat bakti:
“Ibumu.” Beliau ditanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Beliau ditanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Beliau ditanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada ibu. Dalam Islam, seorang ibu tidak diwajibkan mencari nafkah.
Kewajiban menafkahi ada pada suami, atau jika tidak ada, pada ayah, saudara laki-laki, dan wali-wali lainnya. Bahkan ketika hamil dan menyusui, seorang ibu diberi keringanan dalam ibadah puasa demi menjaga kesehatan dirinya dan bayinya.
Dengan demikian, naluri keibuan seorang perempuan dapat tumbuh dan berkembang sempurna, karena sistem kehidupan mendukungnya, bukan membebaninya.
Peran Negara dalam Islam
Tragedi filisida maternal memperlihatkan lemahnya peran negara dalam sistem saat ini. Negara sekuler hanya hadir setelah tragedi terjadi—dengan investigasi, penindakan hukum, atau sekadar pemberian bantuan. Padahal, yang dibutuhkan adalah sistem yang mencegah tragedi itu sejak awal.
Dalam Islam, negara berkewajiban memastikan setiap laki-laki mampu menunaikan kewajiban menafkahi keluarganya. Negara menyediakan lapangan kerja, menjamin pendidikan gratis, kesehatan gratis, serta jaminan sosial bagi keluarga yang tidak mampu.
Dengan cara ini, beban hidup seorang ibu jauh lebih ringan. Ia bisa fokus menjalankan peran keibuannya tanpa dihantui tekanan ekonomi dan psikologis.
Lebih jauh, Islam menekankan pentingnya ikatan keluarga yang kokoh. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam akan membentuk individu berkepribadian Islami, yang memandang pernikahan dan keluarga sebagai ibadah, bukan sekadar beban.
Dengan demikian, konflik rumah tangga dapat diminimalkan, dan perempuan terlindungi dari tekanan yang melampaui batas kemampuannya.
Penutup
Kasus filisida maternal di Bandung dan Batang bukan sekadar kisah pilu individual. Ia adalah cermin dari sistem kehidupan yang sakit, yang gagal melindungi ibu dan anak. Sistem kapitalistik menambah beban perempuan dengan tuntutan ekonomi, sementara negara abai menyediakan jaring pengaman sosial yang memadai.
Maka, jika kita ingin tragedi serupa tidak terulang, tidak cukup sekadar memberi label filisida maternal atau menyalahkan kondisi psikologis individu. Kita harus berani mengakui: sistem yang berlaku hari ini memang sakit.
Dan hanya dengan kembali pada aturan Islam, seorang ibu dapat benar-benar menjadi ibu yang bahagia, dan seorang anak dapat tumbuh dengan penuh kasih sayang.[]
Oleh: Prayudisti SP
(Aktivis Muslimah)