Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ekonomi Indonesia Lesu, HILMI: Akibat Rusaknya Tiga Pilar Fundamental

Jumat, 19 September 2025 | 21:46 WIB Last Updated 2025-09-19T14:46:48Z

TintaSiyasi.id -- Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menghadapi kelesuan setelah angkanya stagnan di sekitar 5,12 persen, jauh dari target ambisius pemerintah sebesar 8 persen, maka Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) melalui Intellectual Opinion Nomor 17 (19 09 2025) menyatakan hal itu akibat rusaknya tiga pilar fundamental.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menghadapi kelesuan setelah angkanya stagnan di sekitar 5,12 persen, jauh dari target ambisius pemerintah sebesar 8 persen, hal itu akibat rusaknya tiga pilar fundamental,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Kamis (18/09/2025).

 

“Dalam pandangan Islam, lesunya ekonomi tidak hanya diakibatkan oleh aspek teknis fiskal–moneter, melainkan kerusakan pada tiga pilar fundamental,” sebut HILMI.

 

Pertama, kepercayaan (trust). “Ekonomi tidak akan hidup tanpa kejujuran. Islam menekankan larangan riba, garar (ketidakjelasan), dan maisir (spekulasi), serta menuntut pengawasan pasar melalui mekanisme hisbah untuk memulihkan kepercayaan yang runtuh dalam sistem kapitalisme,” ulas HILMI.

 

Kedua, produktivitas. HILMI mengatakan, Islam mendorong produktivitas melalui distribusi zakat yang bersifat produktif, wakaf untuk pendidikan dan kesehatan, serta pembagian tanah (iqtha’) kepada petani.

 

Ketiga, struktur ekonomi. “Islam menekankan ekonomi riil (pertanian, industri, perdagangan) di atas sektor keuangan spekulatif. Sumber daya alam (SDA) strategis dikategorikan sebagai kepemilikan umum, dikelola negara, dan hasilnya untuk rakyat, bertentangan dengan privatisasi yang menyerahkan kepemilikan kepada korporasi asing,” beber HILMI.

 

Kondisi tersebut, disebut HILMI, memicu kritikan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai lebih bersifat "kosmetik" daripada substansial.

 

HILMI menyoroti langkah Menteri Keuangan yang menarik dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) untuk disalurkan melalui bank-bank dengan tujuan menggerakkan dunia usaha.

“Namun, berbagai ekonom memperingatkan bahwa langkah penyaluran dana besar lewat perbankan ini tidak menyentuh akar persoalan ekonomi. Dana tersebut dikhawatirkan hanya akan menjadi simpanan baru atau bahkan rawan tersedot ke sektor spekulatif,” lugas HILMI.

 

HILMI menyebut, solusi tersebut dianggap pendekatan konvensional yang cenderung "tambal sulam" dan terjebak pada paradigma kapitalistik. “Kami menawarkan perspektif Islam sebagai alternatif yang lebih menyeluruh,” tandas HILMI.

 

“Solusi Islam memiliki orientasi mendasar yang berbeda dari kapitalisme. Kapitalisme mengedepankan angka pertumbuhan agregat, sementara Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu. Pilar utama dalam Islam adalah zakat, pengelolaan SDA, dan baitulmal, alih-alih utang luar negeri dan pajak tinggi yang menjadi tulang punggung kapitalisme,” papar HILMI.

 

“Reformasi jangka panjang yang ditawarkan Islam mencakup pembangunan sistem keuangan syariat penuh, penguatan baitulmal, dan reformasi pendidikan berbasis iptek dan iman,” ujar HILMI menganalisis.

 

HILMI menyimpulkan bahwa jika jalan Islam ditempuh, kesejahteraan akan dinilai dari seberapa luas kebutuhan rakyat terpenuhi dan seberapa adil distribusi kekayaan.

 

Kapitalisme Rapuh

 

“Kelesuan ekonomi ini memperlihatkan kerapuhan sistem ekonomi kapitalis yang mendominasi, yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Daya beli masyarakat melemah, nilai tukar rupiah tertekan, dan konsumsi rumah tangga lesu,” ulas HILMI.

 

Sektor manufaktur dan digital, lanjut HILMI, mencatat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan menyebabkan jutaan tenaga kerja kehilangan penghidupan.

 

“Secara statistik, Bank Dunia mencatat bahwa 9 juta orang turun kelas dari kategori menengah menjadi rentan miskin. Secara keseluruhan, 60,3 persen rakyat Indonesia masuk kategori miskin atau rentan miskin,” jelas HILMI.

 

Di sisi lain, HILMi mengatakan, beban utang negara terus menggunung, terdiri dari pokok utang sebesar Rp800 triliun dan bunga sebesar Rp500 triliun yang harus ditanggung di tengah tekanan pajak yang semakin tinggi.

 

HILMI juga menggarisbawahi ironi bahwa kekayaan alam yang melimpah masih banyak dikuasai asing, sehingga rakyat tidak merasakan manfaat optimal.

 

Indikator Menyesatkan

 

Tinjauan tersebut, sebut HILMI, juga mengkritisi indikator pertumbuhan ekonomi konvensional. “Angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang selama ini diagung-agungkan ternyata bersifat semu karena hanya mencerminkan agregasi belanja dan produksi, bukan kesejahteraan rakyat secara nyata,” beber HILMI.

 

“Disebutkan bahwa konsumsi segelintir orang kaya dapat menutupi turunnya daya beli mayoritas rakyat, membuat statistik terlihat indah, padahal realitas di lapangan jauh dari sejahtera. Oleh karena itu, mengukur kesehatan ekonomi hanya dengan indikator PDB jelas menyesatkan,” lugas HILMI.

 

“Indikator tambahan yang diperlukan adalah tingkat kemiskinan, Indeks Gini, serta akses masyarakat pada pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update