Pesantren merupakan salah satu pilar peradaban Islam di Nusantara. Sejak abad ke-14 hingga kini, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, penyebaran dakwah, sekaligus penggerak kebudayaan Islam yang membumi. Tradisi pesantren menghadirkan wajah Islam yang ramah, penuh kebijaksanaan, serta mampu berbaur dengan budaya lokal tanpa kehilangan ruh syariat.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menjadi dasar pentingnya lembaga seperti pesantren: melahirkan generasi yang mendalami ilmu agama untuk kemudian menyebarkannya ke masyarakat.
Pesantren: Warisan Ulama Nusantara
Sejarah mencatat, para Walisongo adalah pionir penyebaran Islam yang mengakar dalam budaya lokal. Mereka mengajarkan Islam dengan pendekatan budaya: wayang, gamelan, suluk, dan tembang Jawa, tanpa merusak adat, melainkan memperbaikinya sesuai syariat.
KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh pesantren, pernah berkata:
“Pesantren adalah tempat lahirnya orang-orang berilmu yang berakhlak, dan darinya lahir manusia-manusia yang membawa cahaya Islam ke segala penjuru negeri.”
Pesantren tidak sekadar tempat belajar kitab kuning, melainkan juga kawah candradimuka pembentukan akhlak, kesederhanaan, kemandirian, serta kebersamaan.
Tradisi Pesantren: Harmoni Ilmu, Amal, dan Akhlak
1. Ngaji Kitab
Santri mendalami kitab turats (kitab kuning) warisan ulama salaf. Kitab-kitab ini mengajarkan tauhid, fikih, tasawuf, dan akhlak. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
2. Tawadhu’ kepada Guru
Santri diajarkan adab sebelum ilmu. Hormat kepada kiai adalah wujud tawadhu’ sekaligus sarana keberkahan ilmu. Imam Malik rahimahullah berkata:
“Aku belajar adab kepada guruku selama tiga puluh tahun, baru aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.”
3. Kehidupan Kolektif (Komunal)
Hidup di asrama mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan ukhuwah Islamiyah. Budaya ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Muslim)
4. Dzikir dan Rutinan Keagamaan
Tradisi tahlilan, manaqiban, shalawat, dan wirid bukan sekadar ritual, tapi sarana memperkuat ikatan spiritual. Budaya dzikir menghidupkan hati dan meneguhkan iman. Allah ﷻ berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Pesantren dan Budaya Islam di Nusantara
Tradisi pesantren telah menyatu dengan budaya lokal Nusantara. Misalnya, wayang dijadikan media dakwah Sunan Kalijaga, suluk-suluk Jawa berisi pesan tauhid, dan tembang menjadi sarana pendidikan akhlak. Pesantren melahirkan wajah Islam Nusantara yang damai, tidak kaku, tapi tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Inilah yang membuat Islam bisa diterima luas di Nusantara: ia hadir sebagai agama rahmat, bukan ancaman. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai rahmat.”
(HR. Ahmad)
Refleksi: Pesantren di Era Modern
Di tengah arus globalisasi, pesantren menghadapi tantangan besar: digitalisasi, modernisasi pendidikan, dan penetrasi budaya asing. Namun, pesantren tetap relevan jika mampu menjaga ruh tradisinya: ilmu, amal, dan akhlak.
Pesantren harus tetap menjadi pusat peradaban Islam, tempat lahirnya ulama, cendekiawan, sekaligus tokoh bangsa yang berakhlak mulia. Dengan demikian, pesantren menjadi benteng moral yang menjaga budaya Nusantara agar tidak tercerabut dari akar Islam.
Penutup
Tradisi pesantren adalah salah satu rahmat Allah untuk Nusantara. Ia menyatukan ilmu, amal, dan budaya, melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mencintai tanah air.
Mari kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Semoga pesantren tetap menjadi cahaya yang menerangi negeri, menyebarkan ilmu dan akhlak, serta menjaga budaya Islam di Nusantara dengan penuh hikmah.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)