Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Makna Basmalah Menurut Sayyid Abu Bakar Syatha dan Ulama Tasawuf

Selasa, 26 Agustus 2025 | 04:46 WIB Last Updated 2025-08-25T21:46:56Z
Tintasiyasi.ID-- "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"

Basmalah adalah pintu pembuka segala amal. Setiap kali seorang hamba mengucapkan Bismillāhirrahmānirrahīm, ia sesungguhnya sedang mengetuk pintu langit, memohon agar seluruh langkahnya dinaungi keberkahan Allah. Para ulama sepakat bahwa Basmalah bukan sekadar susunan huruf, tetapi lautan makna yang dalam, yang memuat rahasia keagungan Allah ﷻ.

Tafsir Huruf-huruf Basmalah Menurut Sayyid Abu Bakar Syatha
Dalam karya beliau I‘ānatuṭ-Ṭālibīn, Sayyid Abu Bakar Syatha memberikan penjelasan yang menyentuh hati:

• Huruf Ba’ (ب) melambangkan Baha’ Allah – keagungan, keindahan, dan cahaya yang memancar dari-Nya. Segala sesuatu yang indah di alam semesta hanyalah percikan dari keindahan Allah.
• Huruf Sīn (س) menunjuk pada Sanā’ Allah – kemuliaan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Dialah yang Maha Sempurna tanpa cacat sedikit pun.
• Huruf Mīm (م) bermakna Majd Allah – keluhuran, kemegahan, dan ketinggian martabat Allah, yang tidak bisa dicapai oleh makhluk.

Dengan demikian, Basmalah bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan sebuah pernyataan tauhid: mengakui bahwa seluruh gerak hidup hanya sah dan berarti bila diawali dengan mengingat Allah yang Maha Indah, Maha Mulia, dan Maha Luhur.

Pandangan Ulama Tasawuf tentang Basmalah

Para ahli hakikat menjadikan Basmalah sebagai kunci perjalanan ruhani.

1. Imam Junaid al-Baghdadi berkata:
“Bismillāh adalah benteng orang-orang yang berjalan menuju Allah. Siapa yang membukanya, ia akan sampai kepada-Nya dengan aman.”

2. Imam al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyyah menafsirkan:
“Basmalah adalah tanda ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan menyebut nama Allah, seorang salik mengikat dirinya dengan tali penghambaan yang kokoh.”

3. Ibnu ‘Arabi menjelaskan dalam Futūhāt al-Makkiyyah:
“Seluruh rahasia Al-Qur’an terkandung dalam al-Fatihah. Seluruh rahasia al-Fatihah terkandung dalam Basmalah. Dan seluruh rahasia 

Basmalah terkandung dalam huruf Ba’. Dan rahasia huruf Ba’ ada pada titik di bawahnya.”

Titik itu, kata beliau, adalah simbol kerendahan seorang hamba, sebab hanya dengan kerendahan hati seseorang dapat memahami keagungan Allah.

4. Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn menekankan aspek praktis:

“Mengucapkan Basmalah di awal amal adalah bentuk kesadaran bahwa segala daya dan upaya manusia tidak bernilai tanpa izin dan pertolongan Allah.”

Basmalah Sebagai Cahaya Kehidupan

Ketika seorang Muslim membuka setiap aktivitasnya dengan Basmalah, sesungguhnya ia sedang menghubungkan dirinya dengan sumber segala kekuatan. Dalam bekerja, belajar, berdakwah, hingga makan dan tidur, Basmalah menjadi pengingat bahwa hidup bukan milik kita, melainkan titipan Allah.

Para wali Allah menjadikan Basmalah sebagai wirid. Dengan membiasakan membacanya, hati mereka dipenuhi cahaya dan keberkahan. Tidak heran jika setiap langkah mereka terasa ringan, karena digerakkan oleh Nama Allah.
Inspirasi Bagi Umat

Di era modern yang penuh hiruk-pikuk ini, kita sering kali memulai sesuatu dengan mengandalkan teknologi, strategi, dan kemampuan diri. Padahal kunci keberkahan ada pada pengakuan kita terhadap kekuasaan Allah.

Mulailah setiap langkah dengan Basmalah. Saat membuka usaha, ucapkan Basmalah. Saat mengetik skripsi, ucapkan Basmalah. Saat membuka pintu rumah, ucapkan Basmalah. Dengan itu, Allah akan melindungi, memberkahi, dan melapangkan jalan hidup kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan Basmalah, maka ia akan terputus dari berkah.”
(HR. Abu Dawud)

Penutup

Basmalah adalah pintu keberkahan, lautan rahasia, dan kunci segala amal. Penjelasan Sayyid Abu Bakar Syatha bersama para ulama tasawuf lainnya mengajarkan bahwa Basmalah bukan hanya bacaan lisan, melainkan dzikir hati, ikrar tauhid, dan kesadaran ruhani.

Semoga dengan memperbanyak membaca dan menghayati Basmalah, hati kita semakin tunduk, jiwa kita semakin tenang, dan hidup kita penuh dengan cahaya keberkahan dari Allah ﷻ.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update