Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Takwa sebagai Poros Kebahagiaan, Nafsu, dan Setan sebagai Pangkal Keburukan

Selasa, 26 Agustus 2025 | 04:51 WIB Last Updated 2025-08-25T21:51:32Z

Tintasiyasi.ID-- Pengantar Inspiratif

Nasihat ternasihat dari ulama Makkah, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syathā, mengandung kebenaran sederhana namun menghentak:

“Taqwa kepada Allah adalah poros setiap kebahagiaan. Sementara mengikuti hawa nafsu dan bisikan syetan adalah pangkal segala keburukan.”

Dalam bahasa Arab dapat dirumuskan sebagai:
التقوى لله هي محور كل سعادة، واتباع الهوى ووسوسة الشيطان هما أصل كل شر.

Kata “poros” di sini tidak sekadar sebagai pusat keseimbangan, tetapi juga sebagai sumber pergerakan segala aspek positif dalam kehidupan—iman, akhlak, kebahagiaan hati, kedamaian batin. Sebaliknya, menuruti hawa nafsu dan bisikan syetan adalah induk dari segala bentuk kerusakan dan penderitaan: baik itu dosa besar seperti fitnah, kezaliman, maupun dosa kecil yang merusak hati secara perlahan.

Landasan Al-Qur’an

1. Taqwa mendatangkan kebahagiaan hakiki
Allah SWT berfirman:
“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga-lah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at 40–41)

2. Menjaga diri dari hawa nafsu adalah kunci kemenangan spiritual
Allah berfirman:
“…dan bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah 2:189)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka (syubhat), sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat 49:12)
Semua dengan landasan bahwa taqwa berarti menjauhi hal-hal samar dan menjaga hati dari tipu daya hawa.

Rujukan Hadis: Bisikan Setan dan Bahayanya

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya syetan itu mengalir dalam tubuh manusia seperti (aliran) darah.”
Maknanya: bisikan dan godaan syetan adalah arus halus yang terus mengalir, hanya orang yang memperkukuh taqwa-lah yang bisa menahan arus tersebut.

Dalam narrasi lain:
“Tiga orang tidak akan masuk surga: pemarah, peminum khamar, dan penagih riba.”
Keempatnya berakar dari hawa nafsu yang tidak tertundukkan—sebuah refleksi bahwa keburukan muncul ketika syetan menemukan pintu masuk lewat hawa.

Suara Ulama Tasawuf: Pendalaman Spiritual

Imam Al-Ghazālī (Ihya ‘Ulūm al-Dīn) sangat menekankan bahwa taqwa bukan hanya menahan diri, tetapi menjadikan Allah sebagai tujuan dan motivasi tertinggi dari segala tindakan: itulah makna ikhlāṣ.

Ibnu ‘Aṭā’illāh al-Iskandari dalam Ḥikam berkata:
“Barang siapa yang niatnya lurus, maka syetan tidak punya andil dalam amalnya.”
Inti yang sama: menjaga hati dan niat adalah sarana tertutupnya pintu hawa dan syetan.

Hasan al-Basrī menerangkan bahwa hawa nafsu adalah musuh yang licin—ia mengatakan:
“Jangan ikuti hawa, karena ia seperti anjing pemburu; ia memburu jinak tetapi membinasakan.”
Menggambarkan bahwa kenikmatan sementara dari nafsu bisa berujung kehancuran besar.

Refleksi: Menggapai Kebahagiaan Sejati

1. Hidup yang Seimbang
Jadikan taqwa sebagai poros hidup—beribadah, bekerja, bermasyarakat, semua dilandasi kesadaran untuk menyenangkan Allah. Ketika itu internal tertata, eksternal pun seimbang.

2. Hawa dan Syetan Tak Pernah Diam
Bisikan dan dorongan selalu ada—untuk konsumtif, marah, iri, dengki. Tanpa poros taqwa—tanpa kesadaran spiritual—akhirnya saja yang lebur.

3. Praktikkan Kekuatan Taqwa

Muhasabah diri setiap malam—apa yang membuat hati tenang? Apa yang mendatangkan kegelisahan batin?

Dzikrullah dalam setiap napas—“astaghfirullah”, “subḥānallāh”, “lā ilāha illā Allāh” untuk menenangkan hati dan menjauhkan syetan.

Ikhlas yang diajarkan Al-Ghazālī: ibadah tanpa riya, tanpa pamrih—karena Allah saja.

4. Keteladanan Ulama Salaf dan Sufi
Para salik sufi hidup dalam ketundukan penuh—hidup sederhana, hati damai, syetan tidak punya celah. Bila hati lurus, kebahagiaan hadir dalam ketenangan, bukan kegaduhan dunia.

Penutup Inspiratif

Merenungkan nasihat Sayyid Abu Bakar Syathā, kita diingatkan: kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam harta, status, atau hiburan sesaat, melainkan dalam hati yang bertakwa, yang tidak dikuasai hawa dan tidak dipermainkan syetan. Poros taqwa itulah yang menegakkan iman dan spiritualitas, dari sana terbit damai, istiqamah, dan rahmat ilahi.

Semoga kita tergolong dalam orang-orang yang hatinya selalu terjaga, niatnya tulus, dan hidupnya menghantarkan kita ke surga al-‘Adn—tempat kebahagiaan hakiki.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update