Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Spirit Islam Pendorong Kuat Melawan Penjajahan dan Kezaliman

Senin, 25 Agustus 2025 | 08:20 WIB Last Updated 2025-08-25T01:20:32Z

Tintasiyasi.ID -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan bahwa spirit Islam menjadi pendorong yang kuat untuk melawan penjajahan dan kezaliman.

 

"Jika ada spirit yang begitu kuat menjadi pendorong untuk melawan penjajahan dan kezaliman itu tidak ada lain adalah spirit Islam," tuturnya dalam program Focus to The Point dengan tema Spirit Islam, Jihad, dan Kemerdekaan: Sejarah yang Disembunyikan! di YouTube UIY Official, Selasa (19/08/2025).

 

Ia menyatakan, apalagi kalau kemudian faktanya penjajah itu bukan hanya menguasai wilayah, mengeruk kekayaannya, tetapi juga menyebarkan agama di dalamnya apa yang disebut glory dan gospel.

 

“Maka di situ ada semangat perlawanan juga terhadap misi agama terhadap pemurtadan atau terhadap sesuatu yang bertentangan dengan tauhid, maka lebih kuat lagi,” ujarnya.

 

"Makanya kalau kita perhatikan sejak dari jauh sebelum kemerdekaan itu semua spirit perjuangan Islam. Spirit jihad, mulai dari Cut Nyak Din, Pangeran Diponegoro, kemudian pada era Tuanku Imam Bonjol, itu kan semua jihad. Pada era yang lebih maju lagi berdirilah Syarikat Dagang Islam. Dengan tegas Indonesia merdeka melawan Belanda," terangnya.

 

Jadi jelas sekali brand itu bukan berhenti sampai di situ, sebutnya, terus sampai ke perjuangan menjelang kemerdekaan di mana di sana ada Hizbullah yang digerakkan oleh kaum santri. “Lalu ada peta yang digerakkan oleh para ulama yang itu menjadi cikal bakal dari TKR, PKR, kemudian menjadi cikal bakal dari TNI,” ungkapnya.

 

Ia menjelaskan, Islam itu mempunyai peranan yang sangat besar dan ketika kemerdekaan sudah didapat lalu Belanda ingin masuk  lagi Indonesia memonceng tentara NICA.

 

Di situ Bung Karno bertanya kepada K. H. Hasim Asya'ari, "Apa yang harus di lakukan? Lawan dan tidak boleh diam. Mengapa? Karena mereka akan merebut kemerdekaan. Mereka menyerang kita. Kalau menyerang kita, kita harus balas. Tidak boleh tinggal diam.”

 

Ia menegaskan bawa itulah jihad difa’i, jihad mempertahankan diri selain jihad ofensif. “Jadi jelas sekali basis teologinya itu ada dan basis teologi itu dia berotak akar pada tauhid,” tandasnya.

 

"Tauhid itu yang membawa semangat, keberanian luar biasa, tidak takut mati. Karena kematian itu bagi seorang Muslim dalam melawan kezaliman itu adalah syahid," pungkasnya.[] Rina

Opini

×
Berita Terbaru Update