Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemimpin Bijak dan Adil: Rakyat Makmur dan Sejahtera

Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:17 WIB Last Updated 2025-08-29T12:18:01Z

Tintasiyasi.id -- Belajar dari Kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz

Pendahuluan

Sejarah Islam mencatat sejumlah pemimpin yang namanya harum sepanjang masa. Di antara mereka, sosok Umar bin Abdul Aziz menempati posisi istimewa. Meski hanya memimpin selama kurang lebih dua tahun lima bulan, kepemimpinannya menjadi simbol keadilan, kebijaksanaan, dan keberpihakan kepada rakyat.

Kepemimpinan yang adil bukan hanya menegakkan hukum, tetapi juga menghadirkan kesejahteraan. Sebab ketika keadilan tegak, keberkahan akan turun dari langit dan bumi. Allah menegaskan:

“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”
(QS. Al-A’raf: 96)

Inilah yang dibuktikan oleh Umar bin Abdul Aziz: keadilan melahirkan kemakmuran.

Umar bin Abdul Aziz: Sang Khalifah Adil

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ke-8 dari Dinasti Umayyah. Ia sering disebut sebagai khalifah kelima setelah Khulafaur Rasyidin karena keadilannya. Padahal, ketika diangkat menjadi khalifah, ia mewarisi pemerintahan dengan banyak masalah: ketidakadilan, penindasan, dan kesenjangan sosial.

Namun, dengan keberanian moral, ia mengubah wajah kekuasaan menjadi kekhalifahan yang penuh rahmat.

Kisah-Kisah Nyata Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

1. Lampu Minyak dan Amanah Jabatan
Dikisahkan, suatu malam seorang tamu datang membicarakan urusan pribadi dengan Umar. Saat itu Umar sedang menulis dengan penerangan lampu minyak negara. Umar pun segera memadamkan lampu tersebut dan menyalakan lampu minyak miliknya sendiri.
Ketika ditanya mengapa ia repot-repot, Umar menjawab:

“Lampu ini milik negara, dan aku hanya boleh menggunakannya untuk urusan umat. Karena kita sekarang membicarakan urusan pribadiku, aku tidak berhak menggunakan lampu negara.”

Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya rasa amanah Umar bin Abdul Aziz, bahkan dalam perkara kecil.

2. Harta Keluarga Istana Dikembalikan ke Baitul Mal
Begitu dilantik, Umar mengembalikan tanah, kebun, dan harta yang pernah diberikan secara tidak adil kepada keluarganya ketika ia masih gubernur dan sebelum menjadi khalifah. Ia bahkan mengembalikan perhiasan istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, ke Baitul Mal.
Fatimah sempat berkata:

“Wahai Amirul Mukminin, ini hadiah dari ayahku.”
Namun Umar menjawab:
“Jika itu milikmu dengan hak, silakan simpan. Tapi jika itu berasal dari kezaliman, kembalikanlah, agar aku tidak ditanya di hadapan Allah.”
Istrinya pun menangis, lalu dengan ikhlas menyerahkan semuanya ke Baitul Mal.

3. Tidak Ada Lagi Penerima Zakat
Pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, distribusi zakat sangat adil. Gubernur Irak, Yahya bin Sa’id, pernah melaporkan bahwa ia mengumpulkan zakat dalam jumlah besar tetapi tidak menemukan seorang pun fakir miskin yang mau menerimanya. Semua orang sudah berkecukupan. Akhirnya zakat tersebut digunakan untuk membebaskan budak dan membantu pembangunan umum.
Inilah bukti nyata bahwa keadilan melahirkan kesejahteraan.

4. Kesederhanaan dalam Hidup
Meski ia seorang khalifah, Umar bin Abdul Aziz hidup sederhana. Bajunya hanya dua helai, makanan sehari-harinya sangat sederhana, dan ia menolak kemewahan istana. Bahkan anak-anaknya tumbuh dalam kesederhanaan.
Ketika ditanya mengapa ia tidak memperkaya keluarganya, ia menjawab:

“Cukuplah aku meninggalkan anak-anakku dalam keadaan bertakwa. Jika mereka saleh, Allah akan menjaga mereka. Jika mereka fasik, untuk apa aku menyiapkan harta bagi mereka?”

Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Zuhud dan takut kepada Allah. Ia tidak silau oleh kekuasaan.

Keadilan tanpa pandang bulu. Tidak ada pengecualian, bahkan untuk keluarganya sendiri.

Kesejahteraan berbasis keadilan. Menghapus pajak zalim, meluruskan distribusi zakat.

Kesederhanaan hidup. Ia menjadikan dirinya teladan bagi rakyat.

Refleksi untuk Pemimpin Masa Kini

Dari Umar bin Abdul Aziz kita belajar:

1. Jabatan adalah amanah, bukan kemuliaan.

2. Keadilan melahirkan kemakmuran.

3. Pemimpin harus rela berkorban demi rakyat, bukan sebaliknya.

4. Kesederhanaan adalah teladan yang lebih kuat dari seribu kata.

Penutup

Sejarah Umar bin Abdul Aziz menjadi cermin bahwa keadilan dan kebijaksanaan pemimpin adalah kunci kesejahteraan rakyat. Bangsa yang dipimpin dengan zalim pasti hancur, tetapi bangsa yang dipimpin dengan adil akan makmur dan sejahtera.

Maka, marilah kita mendoakan agar para pemimpin negeri ini meneladani Umar bin Abdul Aziz: pemimpin yang takut kepada Allah, mencintai rakyat, dan menegakkan keadilan tanpa kompromi. Sebab, rakyat yang adil akan sejahtera, dan pemimpin yang zalim pasti dilaknat.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update