Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Makna Hamdalah Menurut Syaikh Zainuddin al-Malibari

Selasa, 26 Agustus 2025 | 04:49 WIB Last Updated 2025-08-25T21:49:36Z
Tintasiyasi.ID-- 1. Definisi Dasar
Dalam penjelasan beliau, kata “Alhamdulillāh” bukan sekadar ucapan syukur, melainkan pengakuan total atas kesempurnaan Allah SWT, yang disertai perasaan tunduk dan rendah hati seorang hamba.

• Alif-Lam (ال) pada kata al-ḥamdu menunjukkan makna istighraq (mencakup seluruh bentuk pujian), yakni semua pujian yang sempurna hanyalah milik Allah.
• Ḥamd berbeda dengan syukr. Jika syukur adalah rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, maka ḥamd lebih luas: ia meliputi pengakuan atas kesempurnaan sifat Allah, baik ketika kita menerima nikmat maupun ketika diuji.
Sehingga, saat seorang hamba mengucapkan Alhamdulillāh, sejatinya ia sedang menyatakan bahwa segala kesempurnaan sifat, kebaikan, dan karunia hanyalah berasal dari Allah, tanpa kecuali.

2. Hamdalah Sebagai Pengakuan Tauhid
Syaikh al-Malibari menegaskan bahwa ucapan Alhamdulillāh mengandung tauhid rububiyyah (meyakini Allah sebagai satu-satunya Rabb yang mengatur) dan tauhid uluhiyyah (menyembah hanya kepada Allah).
Dengan kata lain, hamdalah bukan hanya syukur, tetapi juga ikrar ketauhidan yang melekat pada lisan dan hati.

Dimensi Tasawuf dalam Hamdalah

Para ulama sufi menambahkan penjelasan makna yang lebih dalam:
1. Imam al-Qusyairi (w. 465 H)
Dalam Risalah al-Qusyairiyyah, beliau menulis:
"Al-ḥamdulillāh adalah ungkapan seorang hamba yang fana dari dirinya, lalu melihat bahwa tidak ada kebaikan, gerak, atau nikmat kecuali dari Allah. Maka ucapannya adalah cermin dari penyaksian hati."
Artinya, seorang arif sejati memuji Allah bukan karena ia mendapat nikmat, tetapi karena Allah memang Maha Layak dipuji dalam segala keadaan.

2. Imam al-Ghazali (w. 505 H)
Dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, beliau menjelaskan bahwa:
• Hamd adalah bentuk cinta seorang hamba kepada Allah, karena cinta sejati itu selalu melahirkan pujian.
• Barang siapa mengenal Allah dengan benar, ia akan terpikat pada keindahan sifat-Nya dan terus menerus memuji-Nya, meskipun sedang diuji.

3. Ibn ‘Aṭā’illah as-Sakandari (w. 709 H)
Dalam al-Ḥikam, beliau memberi isyarat:
“Syukur yang paling tinggi adalah ketika engkau tidak melihat nikmat, tetapi melihat Allah sebagai Pemilik segala nikmat.”
Dengan demikian, hamdalah sejati bukan sekadar terima kasih atas nikmat duniawi, melainkan kesadaran penuh bahwa semua yang ada hanyalah pancaran dari Cahaya Allah.

Refleksi Ruhani

Mengucapkan Alhamdulillāh adalah latihan spiritual yang mendalam:
• Ia menanamkan kerendahan hati (tawadhu‘), karena kita sadar semua kebaikan bukan dari kita.
• Ia menumbuhkan rasa syukur sejati, yang membuat hati lapang, tenang, dan jauh dari keluh kesah.
• Ia menjadi kunci kebahagiaan hidup, karena siapa yang mampu melihat Allah dalam setiap nikmat maupun ujian, maka hatinya tidak akan sempit oleh dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ucapan yang paling dicintai Allah adalah: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.”
(HR. Muslim)

Penutup
Makna hamdalah menurut Syaikh Zainuddin al-Malibari mengajarkan kita bahwa ucapan Alhamdulillāh bukan sekadar kebiasaan, melainkan pernyataan iman, tauhid, dan cinta kepada Allah SWT.
Setiap kali lidah mengucapkan hamdalah, semoga hati kita semakin bersih, jiwa kita semakin ikhlas, dan hidup kita semakin penuh keberkahan.

Kisah Para Ulama & Wali Allah dalam Hamdalah

1. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)
Ketika beliau ditimpa sakit yang parah, seorang murid bertanya:
“Wahai Imam, bagaimana keadaanmu?”
Beliau menjawab dengan senyum:
“Alhamdulillāh dalam setiap keadaan.”
Ucapan itu menunjukkan bahwa hamdalah bukan sekadar syukur saat sehat, melainkan sikap ridha dan pasrah ketika sakit. Imam Ahmad mengajarkan bahwa hamdalah adalah obat hati yang membuat ujian terasa ringan.

2. Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H)
Dalam majelisnya, beliau sering berkata:
“Jadilah engkau orang yang selalu mengucapkan Alhamdulillāh dalam lapang maupun sempit. Karena siapa yang senantiasa memuji Allah, maka Allah akan menjadikannya orang yang terpuji di dunia dan mulia di akhirat.”
Beliau menekankan bahwa hamdalah adalah kunci maqam ridha, yaitu menerima semua ketentuan Allah dengan hati lapang.

3. Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H)
Suatu ketika beliau ditanya tentang rahasia kebahagiaan dalam hidup. Beliau menjawab:
“Jika engkau diberi, ucapkan Alhamdulillāh. Jika engkau ditahan, ucapkan Alhamdulillāh. Jika engkau diuji, ucapkan Alhamdulillāh. Jika engkau diberi kesabaran, ucapkan Alhamdulillāh.”
Inilah yang disebut dengan hamdalah mutlak, yaitu memuji Allah dalam segala keadaan.

4. Imam Ali Zainal Abidin bin Husain (w. 95 H) – Cucunda Rasulullah ﷺ
Beliau dikenal dengan julukan as-Sajjād karena sering bersujud dan banyak berdoa. Dalam Ṣaḥīfah as-Sajjādiyyah, beliau berdoa:
“Segala puji bagi Allah atas setiap nikmat-Nya, dan segala puji bagi Allah bahkan atas setiap musibah dan bala yang menimpa.”
Bagi beliau, hamdalah bukan hanya ucapan, tetapi perjalanan hati untuk selalu melihat kebaikan Allah dalam setiap keadaan.

5. Kisah Sufi di Nusantara – Syekh Abdurrauf Singkel (w. 1693 M)
Ulama sufi asal Aceh ini mengajarkan murid-muridnya bahwa hamdalah adalah dzikir pembuka rezeki batin. Beliau berkata:
“Barang siapa membiasakan lisannya dengan Alhamdulillāh, maka Allah akan membuka pintu syukur di hatinya. Dan bila hati sudah bersyukur, tidak ada lagi rasa sempit dalam hidup.”

Refleksi
Dari kisah-kisah ini kita belajar:
• Hamdalah adalah kebiasaan orang-orang shalih, baik ketika mendapat nikmat, tertimpa musibah, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
• Ia menjadi energi ruhani yang membuat hati lapang, sabar, dan ridha.
• Dengan hamdalah, seorang hamba naik derajat dari syukur biasa menuju syukur hakiki, yaitu melihat Allah sebagai sumber segala nikmat dan ujian.

Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan dalam sabdanya:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur (hamdalah), maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)

Penutup Reflektif
Hidup ini pada hakikatnya adalah rangkaian kesempatan untuk mengucapkan Alhamdulillāh. Baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin — semua adalah jalan untuk mengenal Allah.
Jika lisan kita tidak pernah lepas dari hamdalah, maka hati kita akan selalu berada di taman ketenangan, dan jiwa kita akan selalu dekat dengan Allah.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update