Tintasiyasi.id -- Belajar Bijak Mengelola Hati dari Sarah Knight, Al-Qur’an, Hadits, dan Hikmah Tasawuf
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada pertanyaan sederhana namun mendalam: “Apakah saya harus peduli atau lebih baik tidak ambil pusing?” Pertanyaan ini bukan sekadar tentang memilih antara perhatian dan ketidakpedulian, melainkan tentang bagaimana kita mengelola energi, hati, dan pikiran agar tetap sehat, tenang, dan terarah menuju ridha Allah.
Sarah Knight, penulis best seller internasional The Life-Changing Magic of Not Giving a Fck*, dengan gaya humor dan lugasnya mengajarkan bahwa manusia harus selektif: peduli hanya pada hal-hal yang penting, dan belajar untuk tidak ambil pusing dengan hal-hal remeh yang tidak memberi manfaat. Menariknya, apa yang disampaikan Sarah Knight memiliki irisan dengan prinsip-prinsip Islam yang lebih luhur, yakni hikmah dalam menempatkan kepedulian.
1. Peduli pada Hal yang Bernilai dan Bermakna
Al-Qur’an menegaskan agar manusia memusatkan perhatian pada hal-hal yang membawa manfaat dan keselamatan.
Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia...”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menekankan keseimbangan: peduli pada bekal akhirat, sekaligus tidak melupakan kebutuhan dunia. Artinya, peduli pada kesehatan, keluarga, ilmu, amal, dan rezeki yang halal adalah wujud kepedulian yang benar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh, penuh perhatian).”
(HR. Baihaqi)
Dengan kata lain, kita harus peduli pada kualitas amal kita — bukan pada penilaian orang.
2. Tidak Ambil Pusing pada Hal yang Tidak Bermanfaat
Salah satu prinsip agung dalam Islam adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Inilah fondasi “tidak ambil pusing” dalam versi Islam. Gosip, komentar negatif, iri hati orang, dan urusan kecil yang tidak berdampak pada iman atau amal saleh hanyalah beban pikiran. Ulama sufi seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin sering menekankan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dengan cara membersihkan hati dari kesibukan yang sia-sia.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menulis:
“Umur manusia yang sebenarnya adalah umur yang diisi dengan ketaatan kepada Allah. Selain itu, hakikatnya adalah sia-sia.”
Maka, terlalu peduli pada hal yang remeh justru mengurangi “umur sejati” kita.
3. Menjaga Energi Hati: Selektif dalam Kepedulian
Sarah Knight menggunakan istilah “mental budget” atau anggaran mental. Dalam Islam, konsep ini bisa dipadankan dengan “hifzhul qalb” (menjaga hati) agar tidak habis pada sesuatu yang tidak bernilai.
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
“Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukan hamba itu pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
Maka, selektiflah: peduli pada ibadah, ilmu, keluarga, doa, sahabat saleh; dan jangan ambil pusing dengan pandangan orang yang tidak mengenal nilai dirimu.
4. Peduli dengan Ikhlas, Lepaskan dengan Tawakal
Ada kalanya kita harus peduli, tetapi tidak boleh berlebihan hingga terjerat kecemasan. Islam mengajarkan peduli dengan ikhlas, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Allah berfirman:
“...dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai tempat bergantung.”
(QS. Al-Ahzab: 3)
Peduli berarti berusaha maksimal, tidak ambil pusing berarti tidak menanggung beban di luar kendali kita.
5. Hikmah Tasawuf: Jalan Tengah dalam Kepedulian
Para ulama tasawuf mengajarkan keseimbangan dalam peduli:
• Jangan keras hati dengan sikap acuh tak acuh.
• Jangan pula lelah hati dengan kepedulian berlebihan.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menasihati:
“Jadilah engkau seperti tanah yang diinjak semua orang, namun darinya tumbuh tanaman yang memberi kehidupan.”
Artinya, peduli pada manfaat yang kita berikan, tetapi jangan habiskan hati untuk semua komentar atau hinaan.
6. Panduan Praktis: Peduli vs Tidak Ambil Pusing
Peduli Pada :
Iman, ibadah, dan amal saleh
Keluarga, sahabat, dan sesama
Ilmu yang bermanfaat
Kesehatan jasmani dan rohani
Nilai hidup dan tujuan akhirat
Tidak Ambil Pusing Pada :
Gosip dan cibiran orang
Perdebatan sia-sia di media social
Ekspektasi sosial yang memberatkan
Hal-hal di luar kendali (cuaca, opini orang)
Kehilangan kecil, hal remeh-temeh
Penutup: Hati yang Merdeka
Sarah Knight mengajarkan agar kita berhenti memboroskan kepedulian. Islam menegaskan hal itu dengan lebih agung: pedulilah pada Allah dan jalan-Nya, serta jangan ambil pusing dengan dunia yang fana.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.
Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali sekadar yang ditetapkan untuknya.”
(HR. Tirmidzi)
Maka, belajarlah memilah: Peduli dengan hati yang ikhlas, dan jangan ambil pusing dengan hal yang tak bermakna. Di situlah letak kebebasan jiwa, ketenangan hati, dan kedekatan kita kepada Allah.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)